Pertarungan Ranieri vs Mourinho

Sabtu, 06 Agustus 2016 - 12:05 WIB

Jakarta (riaumandiri.co) - Jose Mourinho pernah menyebut Claudio Ranieri sebagai pecundang di Chelsea. Ranieri membalas tak kalah kejam, merebut takhta juara dan membuat rivalnya itu dipecat.


Empat musim membesut Chelsea dari tahun 2000 hingga 2004, Ranieri tak bisa banyak berbahasa Inggris. Di atas lapangan prestasi The Blues sebenarnya tak bisa dibilang buruk, tapi dia dianggap gagal karena tak kunjung memberi The Blues gelar Premier League.


Pada musim panas 2004 Ranieri digantikan Mourinho.
Apa yang diucapkan Mourinho di awal dia jadi manajer Chelsea sungguh menyakitkan - meski entah apakah Ranieri merasakan hal tersebut. Mourinho mengritik pria tua asal Italia itu adalah spesialis turnamen kecil dan telah jadi pecundang di Stamford Bridge.


"Dia (Ranieri) sudah tinggal lima tahun di Inggris dan masih kesulitan mengucap selamat pagi dan selamat siang. Dia hampir 70, dan dia sudah memenangi Piala Super dan piala-piala kecil lainnya. Dia sudah terlalu tua untuk mengubah mentalitasnya," cetus Mourinho ketika itu.


"Saya tidak pernah bilang kalau saya fenomenal, tapi jelas bukan salah saya di 2004. Setelah datang ke Chelsea dan bertanya kenapa Ranieri diganti, mereka bilang ke saya kalau mereka ingin menang dan itu tidak akan pernah terjadi bersama Ranaieri. Bukan salah saya jika dia dianggap pecundang," seru Mourinho di lain kesempatan.
Mourinho kemudian memang sukses besar di Chelsea. Klub Kota London itu diantarnya menjadi juara Liga Inggris dua musim beruntun. Enam trofi juara selama tiga setengah tahun menduduki kursi manajer adalah capaian hebat pria asal Portugal itu.


Mourinho dan Ranieri harus menunggu sampai musim 2008/2009 untuk bisa benar-benar saling berhadapan. Itu terjadi di saat Mourinho menjadi bos di Inter Milan dan Ranieri tengah menukangi Juventus.


Mourinho gagal meraih kemenangan atas Ranieri di dua pertemuan Serie A musim itu. Tapi Mourinho kembali lebih unggul karena di akhir musim Inter diantarnya jadi juara, mengalahkan Juventus yang duduk di urutan kedua. Internya Mourinho juga mengalahkan Juventus milik Ranieri di final Copa Italia dengan skor tipis 1-0.


Lompat lima tahun kemudian, di musim 2015/2016, gantian Ranieri yang mengalahkan Mourinho. Pada Desember 2015 Leicester menundukkan Chelsea dengan skor 2-1. 'Si Biru' yang tengah terpuruk saat itu akhirnya memutuskan memberhentikan Mourinho beberapa hari kemudian. Di akhir musim Ranieri berpesta dengan gelar juaranya.


Minggu (7/8) malam pukul 22.00 WIB, Ranieri dan Mourinho akan kembali berhadapan saat Leicester City dan Manchester United bertemu di ajang Community Shield. The Foxes, bersama Ranieri, datang menyandang status juara Liga Inggris. Sementara The Red Devils merupakan kampiun Piala FA, yang diraih bersama Louis van Gaal di penghujung musim kemarin.


Relasi Mourinho dengan Ranieri sebenarnya tidak buruk-buruk amat, atau setidaknya sudah jauh membaik. Keduanya terlihat berpelukan hangat dan mengobrol dengan asyik saat tampil di pertandingan eksebisi bertajuk 'Soccer Aid', awal Juni lalu.


Sampai tiga hari jelang kick-off Community Shield kedua pelatih juga tidak melontarkan pernyataan-pernyataan yang memanasi situasi atau menyerang lawan. Keduanya memilih untuk fokus mempersiapkan timnya menghadapi laga tersebut dan musim baru Premier League yang dimulai sepekan berselang.


Soal statistik head to head, Ranieri dan Mourinho masih sama kuat. Sudah enam kali saling berhadapan, kedua pelatih itu sama-sama sudah meraih dua kemenangan dan menelan dua kali kalah. Sementara laga yang berakhir imbang juga ada dua. Untuk selisih gol, tim Ranieri bikin gol sementara skuat besutan Mourinho melesakkan enam gol juga. (dtc/ril)

Editor:

Terkini

Terpopuler