Gagasan

Peran Penting Orangtua dalam Mencetak Pembelajar Milenial

Oleh: Wulan Citra Dewi, SPd
Penulis dan Pemerhati Remaja

   

RIAUMANDIRI.CO - Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) merupakan momen terbaik baik bagi segenap lapisan masyarakat untuk bermuhasabah. Sudah sejauh mana tujuan pendidikan itu tercapai? Sudahkah makna pendidikan secara hakiki merasuk dan berpengaruh dalam setiap jiwa generasi bangsa?

Beriman, bertakwa, cerdas, kreatif, inovatif, produktif, berkarakter, sehat serta berperadaban unggul adalah harapan kita bersama untuk generasi bangsa. Inilah out put pendidikan yang harus diperjuangkan. Perjuangan ini tentu saja tidak hanya menjadi tanggung jawab guru dan sekolah. Namun juga memerlukan peran serta orangtua.

Terlebih lagi di era milenial saat ini. Ketika berbagai konten hiburan di gadget lebih menarik daripada deretan aksara di dalam buku. Maka peran orangtua  menciptakan atmosfer literasi yang penuh kesan dalam keluarga sangat diperlukan. Agar tujuan perjuangan untuk mencetak generasi emas bukan hanya sekedar hayalan.

”Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan di zamanmu.” Demikianlah perkataan dari Ali bin Abi Thalib ra. yang sangat mahsyur. Tentu kita juga sudah sering mendengar perkataan dari sahabat Nabi SAW tersebut.

Ungkapan tersebut menjadi sebuah pengingat bagi kita. Bahwa setiap pergantian zaman akan membawa sarana dan prasarana yang berbeda. Pun dalam perkara teknis proses pembelajaran. Tidak luput dari pengaruh perubahan zaman.

Perlu dipahami, bahwa perubahan yang mengharuskan kita berjalan bersamanya ialah dalam hal sarana dan prasarana saja. Adapun ide dan gaya hidup, tetap harus dipertahankan jati dirinya. Baik dari sisi kultur budaya. Terlebih lagi dari sisi nilai-nilai agama. Maka, ide dan gaya hidup liberalisme tentu tidak boleh diadopsi. Sebab prinsip-prinsip dalam liberalisme jelas bertentangan dengan kultur bangsa yang santun lagi relegius di bangsa ini.

Adapun melesatnya sains dan teknologi yang membawa perubahan pada sarana dan prasarana kehidupan, ini adalah kemajuan positif. Kemajuan ini harus kita kuasai dan manfaatkan untuk mempermudah tercapainya suatu tujuan. Salah satu diantaranya adalah tujuan pendidikan.

Hal-hal semisal ini harus dipahami oleh seluruh lapisan bangsa. Wabilkhusus bagi orangtua sebagai unit pertama dan utama dalam mengawal terciptanya generasi emas di masa yang akan datang. Di sinilah akhirnya kita menyadari, bahwa jiwa pembelajar memang harus mendarah daging. Dari mulai di buaian hingga jasad sampai ke liang lahat.

Saat ini kita tidak dapat menafikkan, penggunaan gawai di era milineal ini sudah menjadi kebutuhan. Perangkat daring tersebut bak pintu ajaib yang mampu menghantarkan pemiliknya kemana saja. Dampak positif dari kemajuan tekhnologi ini sangat banyak. Namun dampak buruknya, terutama bagi generasi juga tidak terhitung jumlahnya. Semisal pornografi, bullying, aplikasi game, dll yang siap menerkam anak-anak kita setiap saat.

Lantas bagaimana peran orangtua? Inilah tantangannya! Tantangan agar para orangtua juga melek tekhnologi. Sehingga mampu membersamai buah hati dalam setiap waktu. Mampu mengarahkan ”jiwa berpetualang” anak pada hal-hal yang positif. Tidak abai dan lalai terhadap aktivitas anak terutama di dunia maya yang tanpa batas. Jadi, bukan malah memboikot kemajuan tekhnologi bagi anak. Karena hal ini justru akan menghambat kreativitas mereka.

Atmosfer Literasi dalam Keluarga

Sebagai orangtua tentu saja kita harus memiliki modal pengetahuan untuk mampu menjadi role model yang menyenangkan bagi buah hati tercinta. Artinya, baik ayah maupun ibu harus selalu memiliki semangat belajar yang kuat. Sehingga mampu membersamai kehidupan buah hati. Berlaku tepat sesuai dengan zaman mereka, bukan dengan zaman kita. 

Kita juga tidak boleh lupa dengan prinsip hidup yang telah disebutkan di awal, bahwa zaman, sarana dan prasarana sangat niscaya untuk berubah. Tapi prinsip atau nilai-nilai pokok dalam kehidupan tidak boleh goyah. Harus tetap kokoh berada pada posisi yang semestinya.

Salah satu prinsip dalam dunia pendidikan yang tidak akan lekang oleh zaman adalah budaya literasi. Membaca dan menulis adalah rangkaian yang tidak terpisahkan dari budaya ini. Dengan membaca kita akan mampu mengelilingi dunia. Dengan menulis kita akan mampu mengikat setiap peristiwa dan ilmu pengetahuan sehingga ia kekal menjadi warisan berharga bagi kehidupan. Begitulah besarnya pengaruh literasi bagi jagad raya ini. Hingga Allah SWT menurunkan ayat pertama kali: ”Bacalah!” kepada Rasulullah SAW.

Maka orangtua harus mengasah kreativitas untuk menciptakan atmosfer literasi dalam keluarga. Anak-anak diajak mengunjungi perpustakaan di Ibu Kota atau di daerah masing-masing. Bahkan mereka juga bisa diajak kerjasama untuk menciptakan perpustakaan mini di rumah. Abadikan momen-momen tersebut dalam kamera. Bila perlu ajak anak-anak untuk membuat vlog yang mengulas tentang berbagai buku. Buatkan akun youtube atau media sosial lainnya untuk mempublikasikan karya-karya tersebut. Sehingga “jiwa berpetualang” anak tersalurkan melalui kegiatan literasi yang menyenangkan tersebut. Karena sejatinya, anak-anak juga menginginkan eksistensi diri dan dihargai. Inilah upaya untuk mencetak para pembelajar di era milineal. Semua ini tentu dapat memompa semangat buah hati untuk giat dalam gerakan literasi.  

Sampai di sini, semoga para orangtua mulai menyadari bahwa obor literasi harus menyala. Dimulai dari rumah-rumah kita. Melibatkan seluruh anggota keluarga. Terutama buah hati tercinta. Sehingga perjuangan untuk melahirkan generasi emas bagi peradaban bangsa di masa mendatang bisa terwujud nyata. Sebab perjuangan ini bukan hanya kewajiban guru dan sekolah semata. Melainkan juga tanggung jawab seluruh orangtua. Juga negara tentunya sebagai penentu kebijakan bagi seluruh warga negara.    


[Ikuti Riaumandiri.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar