Mbak Tutut Ungkap Pernyataan Soeharto Tolak Ajakan Tinggal di Negara Lain Setelah Lengser

Senin, 08 Juni 2020 - 13:47 WIB
Soeharto dan Mbak Tutut (dok. Istimewa)

RIAUMANDIRI.ID, JAKARTA – Setelah lengser dari kursi kepresidenan, penguasa Orde Baru Presiden Soeharto disebut-sebut sempat diajak bergabung dan mendapatkan perlindungan dari negara lain. Namun, Soeharto menolak.

Kisah itu diungkap pada hari ulang tahun kelahiran Soeharto, 8 Juni, oleh putri pertamanya yaitu Siti Hardijanti Rukmana atau biasa disapa Mbak Tutut.

Tutut mengungkapkan, medio 90-an, saat massa rakyat sudah menyuarakan agar Soeharto diturunkan dan diadili atas kesalahan-kesalahannya, sang ayah akhirnya turun.

Soeharto yang memutuskan berhenti dari jabatannya sebagai Presiden RI kemudian ditawari oleh sejumlah presiden negara lain, untuk datang ke negara mereka. Namun, Soeharto menolaknya dengan alasan ingin tetap berada di Indonesia.

"Saya tidak akan pergi ke mana-mana. Ini rumah saya. Saya akan tetap di sini. Sampaikan terima kasih saya pada sahabat-sahabat saya dari negara-begara lain. Tapi maaf, saya tidak akan meninggalken Indonesia. Saya lahir di Indonesia. Seandainya saya harus mati, saya akan mati di Indonesia, negeri di mana saya dilahirkan," tulis Tutut mengutip perkataan Soeharto waktu itu.

Ketika kemudian Soeharto ditanya mengenai keadaan yang mencekam itu, ia mengaku tidak takut.

"Kenapa saya harus takut? Saya tidak bersalah. Saya sudah melakukan tugas saya dengan sebaik kemampuan yang saya punya. Saya meyakini, bahwa yang turun ke jalan, hanya terhasut oleh kelompok yang menginginkan Indonesia hancur. Semoga Allah mengampuni mereka, dan segera mengadarkan mereka, karena amsyarakat kecil yang akhirnya akan lebih menderita. Kami hanya berlindung pada Allah Yang Maha Agung," kata Soeharto yang kutip Tutut lagi dalam situs pribadinya.

Tutut menuliskan cerita khusus soal Soeharto tepat sehari sebelum hari ulang tahun Soeharto yang jatuh pada 8 Juni.

Selain itu, Tutut juga mengenang bahwa sejak peristiwa berhentinya Soeharto dari jabatan presiden, ia dan keluarganya di Cendana hanya dijaga oleh satpam dan beberapa anggota ABRI yang mengajukan pensiun dini.

Hal itu dilakukan karena pengawalan yang sebelumnya diberikan oleh ABRI kepada Presiden dan mantan Presiden dicabut oleh Presiden Habibie.

Tutut mengaku dirinya tidak terima atas tuduhan yang dilontarkan kepada Soeharto. Menurutnya, Soeharto telah berjuang begitu besar kepada bangsa dan negara.

Lebih lanjut, Tutut juga mengaku sakit ketika mengingat sekelompok pihak yang sebelumnya membantu Soeharto mendadak mengundurkan diri.

"Yang lebih menyakitkan, sekelompok pembantu bapak pada saat bapak menjadi presiden, melakukan tindakan yang sangat tidak etis, yaitu akan mengundurkan diri dari jabatan Menteri kalau bapak tetap jadi Presiden. Mungkin mereka berfikir, mereka akan bisa menguasai Indonesia, setelah bapak tidak jadi Presiden," kata Tutut.

Editor: Nandra F Piliang

Tags

Terkini

Terpopuler