Hampir 3 Ribu Lahan di Riau Terbakar, Polisi Tangani 11 LP dengan 14 Tersangka

Senin, 13 Agustus 2018 - 20:11 WIB

RIAUMANDIRI.CO, PEKANBARU - Sepanjang 2018, tercatat 2.891,51 hektare lahan yang terbakar di Provinsi Riau. Sementara yang diusut pihak kepolisian ada 11 Laporan Polisi (LP) dengan 14 tersangka perorangan.

Dikatakan Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edwar Sanger, ribuan hektare lahan yang terbakar itu tersebar di 11 kabupaten/kota di Riau.

Kabupaten Kepulauan Meranti, sebut Edwar, merupakan daerah yang terluas mengalami kebakaran lahan, yaitu seluas 938,31 hektare. Di susul, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) dengan luasan lahan terbakar 488,85 hektare, Bengkalis dengan 423 hektare lahan terbakar, dan Dumai 396,75 hektare yang terbakar. 

"Berikutnya, Indragiri Hulu (Inhu) 289,5 hektare, Siak 136,5 hektare, Pelalawan 92,5 hektare, Pekanbaru 44,6 hektare, Kampar 41 hektare, Indragiri Hilir (Inhil) 37 hektare, dan Rokan Hulu (Rohul) 3,5 hektare," ungkap Edwar, Senin (13/8).

Jumlah ini jauh meningkat dibanding dengan dua pekan lalu. Di mana, pada dua pekan lalu, tercatat 2.400 hektare lahan yang terbakar. Artinya, ada peningkatan 400 hektare yang terbakar. Peningkatan tersebut tidak lepas dari munculnya titik-titik panas baru dalam sepanjang akhir pekan ini.

Penambahan luas lahan yang terbakar itu di antaranya berada di Kecamatan Mandau, Bengkalis seluas 15 hektare. Termasuk juga di hutan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Sungai Dumai seluas 1 hektare. Pertambahan ini juga terjadi di Kepenghuluan Rantau Bais, Kec. Tanah Putih, Rokan Hilir 5 hektare, dan Desa Siabu, Kampar bertambah seluas 3 hektare.

Kemudian di Kepulauan Sungai Besar, Rokan Hilir, seluar 100 hektare, Kecamatan Bangko Pusako, Rohil meluas 20 hektare, di Kecamatan Batu Hampar, Rohil seluas 70 hektare, dan sejumlah titik lainnya.

"Meski demikian kondisi ISPU di Riau masih dalam kategori sedang. Begitu juga dengan jarak pandang yang masih aman," lanjut Edwar.

Edwar Sanger juga menjelaskan, secara umum tingkat kemudahan kebakaran lahan di Riau, berada dalam kategori aman. Namun di wilayah Riau bagian utara dan selatan, berada dalam kategori mudah hingga sangat mudah terbakar.

Lebih lanjut dikatakan Edwar, pihaknya bersama pihak terkait lainnya yang terdiri dari TNI dan Polri serta pemerintah masih terus melakukan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau, selain pada upaya sosialisasi dan pencegahan.

Tim satgas karhutla, sebutnya, telah mengerahkan empat helikopter water bombing atau pengebom air. "Hari ini (kemarin,red) empat helikopter kita terbangkan ke Rohil dan Sam-Sam Kandis, Kabupaten Siak," katanya seraya mengatakan helikopter yang diterbangkan itu terdiri dari Bell 214, MI-171 dan dua unit Kamov.

Di wilayah Rohil, operasi pemadaman menggunakan helikopter berkapasitas maksimal lima ton air tersebut difokuskan di wilayah Kecamatan Bangko. Sementara di Kabupaten Siak, helikopter yang memperkuat penanggulangan tim darat fokus di wilayah Sam-Sam, Kacamatan Kandis. 

Edwar mengatakan, operasi pemadaman melalui udara telah berlangsung sejak akhir pekan lalu, ketika BMKG mulai mendeteksi munculnya titik-titik panas di pesisir Riau. "Untuk hari ini fokus pendinginan, karena mayoritas lahan gambut pendinginan perlu kita lakukan secara maksimal," imbuhnya.

Terpisah, Bibin selaku Analis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, memprediksi sebagian besar wilayah Provinsi Riau saat ini dalam status mudah hingga sangat mudah terbakar. Itu menyusul penurunan curah hujan dalam sepekan sepekan terakhir.

Dia mengatakan, wilayah Riau yang perlu diwaspadai dari potensi karhutla di antaranya adalah bagian barat, utara dan selatan. Sementara satu-satunya wilayah yang dinilai aman dari karhutla dari 12 kabupaten dan kota di Riau hanya Kabupaten Inhil.

"Kondisi itu berdampak pada mulai munculnya titik-titik panas yang mengindikasikan adanya karhutla di sebagian wilayah Riau sejak akhir pekan kemarin," terang Bibin.

BMKG Stasiun Pekanbaru, mendeteksi lonjakan titik panas atau hotspot di Riau, mencapai 65 titik. Titik hotspot yang terdeteksi melalui pencitraan Satelit Terra dan Aqua pukul 16.00 WIB tersebut menyebar di tujuh kabupaten di Riau.

"Titik panas terbanyak terpantau di Kabupaten Rohil dengan total 38 titik," kata Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Sukisno, menambahkan.

Selain itu, hotspot juga terpantau di Kabupaten Bengkalis dengan 13 titik, Kampar dan Siak masing-masing empat titik, Dumai tiga titik, Inhu dua titik dan Indragiri Hilir satu titik.

Selain di Riau, hot spot turut terpantau di sejumlah provinsi lainnya di Sumatera. Secara keseluruhan, terpantau sebanyak 121 titik panas di Pulau Sumatera. Dengan rincian, 24 titik menyebar di Bangka Belitung, Sumatera Utara 21 titik, Sumatera Barat delapan titik dan Jambi dua titik.

Sukisno menjelaskan, dari 65 titik panas di Riau, 35 di antaranya dipastikan sebagai titik api. Titik api konsisten masih terpusat di Rohil dengan total 25 titik, sementara Bengkalis delapan titik, dan Kampar serta Dumai masing-masing satu titik api.

Info ini terang sangat berbeda dengan data pada Senin pagi, di mana terdeteksi sebanyak 19 titik panas yang menyebar di empat kabupaten di Riau. Titik panas terbanyak masih terpantau di Kabupaten Rohil dengan delapan titik, Bengkalis enam titik, Siak empat titik dan satu titik di Rohul.

Dari 19 titik panas tersebut, 12 titik lainnya dipastikan sebagai titik api atau indikasi kuat adanya karhutla dengan tingkat kepercayaan di atas 70 persen. Empat titik api masing-masing merata di Bengkalis, Rokan Hilir dan Siak.

Sementara itu, dari data yang dirilis Polda Riau, tercatat ada 11 kasus karhutla yang ditangani oleh Polda Riau dan jajaran. Dari belasan Laporan Polisi (LP) itu sudah ada 14 orang tersangka perorangan. 

"Ada 11 LP itu ada tiga kasus dalam tahap penyidikan. Kemudian yang sudah tahap I atau pelimpahan berkas, satu kasus, dan tahap II atau pelimpahan tersangka dan barang bukti adatujuh kasus. Total tersangka 14 orang tersangka," jelas Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto.

Dirincikannya, Polres Dumai menangani tiga kasus. Yaitu, yang menjerat tersangka inisial MD yang sudah tahap II. Adapun luas lahan yang diduga dibakarnya 1,5 hektare. Lalu, tersangka inisial SU yang diduga membakar lahan seluas 1 hektare. Perkaranya sendiri sudah masuk tahap II.

"Kasus ketiga, ditangani oleh Polses Bukit Kapur, Dumai, dengan tersangka inisial JKS. Prosesnya masih penyidikan," kata Sunarto.

Lalu, yang ditangani oleh Polres Rohil, dengan menjerat tiga pria sebagai tersangka, masing-masing berinisial SM (52), SD (27), dan KS (35). Kasus yang masih proses penyidikan, diduga membakar 2 hektare.

Masih ditangani Polres Rohil, ada dua tersangka lainnya yang diusut, yakni IR dan KL. Terhadap kedua tersangka yang diduga membakar 5 hektare ini, prosesnya masih dalam penyidikan.

Berikutnya, ditangani Polres Pelalawan, dengan satu orang tersangka berinisial MS yang diduga dibakar seluas 4 hektare. "Kasus ini sudah tahap II," sebut mantan Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) itu. 

Sementara yang ditangani Polres Bengkalis, menjerat dua orang tersangka berinisial SU dan YS. Berikutnya, Polres Rohul, dengan seorang tersangka berinisial SU, Polres Inhil, yang juga menjerat seorang tersangka, inisialnya AG. "AG diduga membakar lahan seluas 70 hektare," imbuhnya.

Terakhir Polres Kampar, yang menjerat seorang tersangka berinisial MT, yang diduga membakar 2 hektar lahan. "Semuanya perorangan, tidak ada yang menjerat koorporasi," pungkas Sunarto.

 

Reporter: Dodi Ferdian


 

Editor: Rico Mardianto

Tags

Terkini

Terpopuler