Mendikbud Terapkan Pendidikan Karakter

Senin, 22 Agustus 2016 - 22:15 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi (tiga kanan) didampingi Gubri H Arsyadjuliandi Rachman dan Ketua PW Muhammadiyah Riau, H Wan Abu Bakar pada acara peresmian Rumah Sakit Muhammadiyah, Senin (22/8).

Pekanbaru (riaumandiri.co)-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi, mulai melakukan beberapa strategi dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah dengan menerapkan pendidikan karakter bagi level pendidikan dasar, bagi siswa SD dan SMP.


Hal tersebut disampaikan oleh Mendikbud, usai meresmikan Rumah Sakit Muhammadyah, Senin (22/8). Menurut Menteri pendidikan karakter tersebut sesuai dengan arahan dari Presiden Joko Widodo, berdasarkan dari Nawa Cita.


"Penerapan pendidikan karakter yang diberikan di level pendidikan dasar. Sedangkan untuk level SMU dan SMK, akan dibekali para calon lulusan dengan kerja praktik di lokasi. Sehingga nantinya para lulusan SMU dan SMK siap memasuki dunia kerja," ujar Menteri Muhajir Effendi.


Dijelaskan Menteri, pembentukan karakter di dunia pendidikan sangat dibutuhkan, terutama dalam penambahan pelajaran ekstra di lluar mata pelajaran. Sehingga ada waktu siswa di sekah untuk mendapatkan aktivitas dalam rangka menanamkan karakter.


Menteri mencontohkan dari Kabupaten Siak, yang telah menerapkam sistem belajar mengajar bagi siswa di Sekolah dasar, yang ditambah dengan pendidikan Taman Pendidikan Alquran (TPA), sampai dengan Salat Ashar.


"Saya mendapatkan laporan dari Bupati Siak yang telah menerapkan pendidikan tambahan. Dan itu termasuk dalam pendidikan karakter,
Mendikbud
 nanti tinggal ditambahi dengan kegiatan lainnya," jelas Menteri, yang juga pada hari yang sama menghadiri Poresni tingkat Nasional di Kabupaten Siak.

Disinggung mengenai sekolah lima hari, dimana setiap harinya sekolah menerapkan full day. Menteri mengatakan program tersebut masih tentatif dan masih dalam kajian. Program tersebut juga terkait dengan kebijakan Pemerintah Daerah yang akan menerapkannya.

"Sebenarnya bukan full sehari, semuanya tergantung sekolah. Nantikan ada komite sekolah termasuk kepala sekolahnya yang akan menentukan. Termasuk bagaimana makan siangnya, TPA nya. Yang penting ini tidak memaksa tergantung sekolahnya," jelas Mentri.

Menurutnya sekolah full day ini untuk pembentukan karakter siswa, dengan rangkaian kegiatan kesiswaan yang berlangsung di sekolah. Di luar jam belajar, akan ada kegiatan lain tetapi bukan ekstrakurikuler. Semua kegiatan tersebut tetap dalam pengawasan guru di Sekolah.

Ditambahkan mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat ini Kemntrian dikbud, sudah mulai merintis beban mengajar 24 jam untuk guru. Menurutnya guru tidak perlu lagi mencari pemasukan di luar sekolah, misal dengan memberi les dan lainnya, atau bisnis lainnya di luar sekolah.

"Guru cukup dikonfrontir dengan kokurikuler. Murid pulang jangan ada pekerjaan rumah. Guru mengerjakan tugas di Sekolah, tidak boleh ada tambahan lagi. Kalau perlu hari Sabtu sabtu tidak ada sekolah, sehingga banyak waktu untuk memanfaatkan hari Sabtu dan Minggu," tegas Mentri.

Pada acara peresmian RS Muhammadyah, juga dihadiri Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman, Walikota Pekanbaru, Firdaus MT, dan pengurus Muhammdyah Riau.(nur)

Editor:

Terkini

Terpopuler