Siswa Belajar di Ruangan Pas-pasan

Senin, 02 Mei 2016 - 09:56 WIB
Para siswa belajar di ruangan seadanya. Bila hujan turun, aktivitas belajar terganggu karena tempias hujan.

Meski(riaumandiri.co)- Riau kerap disebut sebagai daerah yang berlimpah kekayaan alam, namun hal itu tidak berbanding lurus dengan kondisi sarana pendidikannya. Pasalnya, gedung sekolah yang kondisinya tidak layak, ternyata masih saja ditemukan. Bahkan lokasinya juga masih berada di Ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru.

Kondisi itu tampak jelas pada gedung bangunan milik Kelompok Belajar (Pokjar) Cerdas II, dari kelas jauh Sekolah Dasar (SD) Marginal, di Jalan Badak Ujung Gang Sejahtera, Kelurahan Sail, Kecamatan Tenayan Raya.

Begitu melihat sekilas kondisi sekolah ini, kesan tak layak langsung tampak. Sekolah ini memiliki empat ruang belajar, yang digunakan untuk siswa kelas satu hingga enam.
Siswa
Satu ruangan, digunakan untuk kelas II dan III. Dinding bangunan yang masih terbuat dari kayu, tampak sudah tak terawat. Bahkan kawat yang digunakan untuk pengganti jendela juga sudah rusak parah. Bila hujan turun, bisa dipastikan akan tempias dan masuk ke dalam ruangan kelas. Selain itu, dua dari empat kelas tidak memiliki dinding dan masih beralaskan tanah.

Meski demikian, untunglah semangat para siswa di sekolah ini tetap tinggi. Meski kondisi bangunan sekolahnya pas-pasan, namun hal itu tak menghalangi niat dan tekad mereka dalam menapatkan ilmu pengetahuan.

"Kami tetap semangat, meski kondisi sekolah kami jelek. Yang penting kami bisa bersekolah dan mendapatkan ilmu dan supaya bisa menjadi anak yang pintar," ujar Fahrul, siswa kelas enam, yang ditemui sebelum pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah (UAS), akhir pekan kemarin.

Menurut anak keenam dari delapan bersaudara ini, ia tinggal bersama orangtuanya di kawasan Pebatuan, Kulim. Jarak sekolah ke rumahnya sekitar lima kilometer. Agar bisa sampai ke sekolah tepat waktu, sejak pukul 06.30 WIB, ia sudah pergi ke sekolah diantar orangtuanya.

"Biasanya diantara Bapak dengan sepeda motor, atau saya bawa sepeda motor Bapak. Nanti kalau sudah pulang, baru bantu orangtua di kebun. Saya ingin jadi tentara," ujarnya lugas.

Sementara itu, Rendi Areta, guru kelas enam, menuturkan, dirinya sudah mengajar sejak sekolah tersebut didirikan pada 2010 lalu. Sekolah ini berinduk ke SDN 35 Pekanbaru, Jalan Meleboh, Kecamatan Tenayan Raya. Bila ditempuh dengan sepeda motor, jaraknya sekitar 45 menit.

"Saat ini total siswa kami ada 80 orang. Rinciannya, kelas I ada 25 siswa, kelas II ada 15 siswa, kelas III ada 15 siswa, kelas IV ada 13 siswa, kelas V ada 4 siswa, dan kelas VI ada 5 siswa. Tiap tahun, siswa yang mendaftar terus bertambah. Tahun 2010, siswa kita hanya 15 orang. Sekarang ada enam guru yang bertugas di sini," papar guru honor SDN 35 Pekanbaru ini.

Terkait kondisi gedung sekolah Rendi mengaku pihaknya memang berharap, bangunan sekolah itu segera diperbaiki, sehingga para siswa bisa belajar dengan layak.

"Memang, sekolah kita menerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS), namun dana itu tidak mencukupi untuk operasional sekolah. Meski begitu, kita tetap berusaha agar anak didik kita bisa terus termotivasi belajar di antara kekurangan yang kita miliki," paparnya.

Salurkan Bantuan
Kondisi sekolah itu juga telah ditinjau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Riau, yang diwakili Kabid Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Sri Petri Haryanti. Ikut serta mendampinginya Kasi Kesiswaan Jamila dan Kasi Kelembagaan, Damrus.

Dalam kesempatan itu, ia menuturkan, Pemprov Riau melalui Disdikbud bidang PKLK, terus berupaya memberikan bantuan dan kemudahan dalam melakukan pengembangan dis ektor pendidikan. Termasuk membantu sekolah marginal melalui APBD Riau setiap tahun. Salah satunya dengan memberi bantuan peralatan dan seragam sekolah bagi siswa, dan gaji guru huni (guru marginal, red).

"Untuk memotivasi guru huni agar tetap mengajar, tahun ini kita berupaya membayarkan gaji mereka setiap bulan, di mana tahun sebelumnya dibayarkan per tri wulan. Selain itu, gaji mereka dinaikkan menjadi Rp1.9025.000 plus uang transportasi. "Bantuan juga disalurkan dalam bentuk Dana BOS," papar Petri.

Petri mengakui, kondisi bangunan Pokjar Cerdas II di Jalan Badak ini, sudah tak layak lagi disebut sebagai sekolah marginal. Karena di sekitarnya, sudah berdiri sejumlah sekolah permanen yang jaraknya kurang lebih hanya satu kilometer. Di antaranya SDN 45 Pekanbaru, SDN 173 Pekanbaru dan Madrasah Ibtidaiyah (MI).

"Sesuai konsep sekolah marginal, baru bisa didirikan bila ia berada pada suatu daerah yang aksesnya jauh dan sulit dicapai secara geografis, serta sekolah terdekat di kawasan tersebut berada puluhan kilometer," terangnya.

Karena itu, pihaknya dalam waktu dekat akan berkoordinasi dengan Disdik Pekanbaru untuk mencari solusinya. (nie)

Editor:

Terkini

Terpopuler