Rakhmat Biar Saya Jelaskan

Kamis, 10 Desember 2015 - 08:08 WIB
Camat Tapung Rakhmat ketika berada di lahan miliknya, Rabu (9/12).

TAPUNG (HR)-Rumah Tangga Mandiri Pangan dan Energi yang digagas Pemerintah Kabupaten Kampar memang tak asing lagi di Bumi Serambi Mekkah. Di balik hebatnya program tersebut, tak dipungkiri masih banyak yang mencibir. Namun tidak demikian dengan Camat Tapung Rakhmat.

Kepada awak media, Rabu (9/12) bahkan Rakhmat dengan tegas mengatakan bagi yang merasa ragu dengan program Pemerintah Kabupaten Kampar tersebut untuk dapat mendatangi dirinya agar diberikan penjelasan secara rinci.

Hal tersebut disampaikan Rakhmat kepada wartawan  ketika mengunjungi RTMPE miliknya, Rabu (9/12).

Di atas lahan 1.200 meter persegi, RTMPE milik Rakhmat terdapat berbagai komoditas pertanian, perikanan dan peternakan yang sudah menghasilkan dan sangat pantas untuk dicontoh oleh masyarakat.

Rakhmat menyampaikan, setiap pagi ayam petelur miliknya sudah menghasilkan 72 butir telur. Sapi yang lima ekor sudah menghasilkan pupuk kandang yang berguna untuk sawit miliknya, ikan lele,  bawang, cabe dan ayam kampung. "Semua sudah tersedia di atas lahan ini," beber Rahmat.

Dari penjelasannya, Rahmat mengakui awal mendirikan RTMPE memang agak susah dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. "Artinya harus berjuang dengan sungguh sungguh, supaya ini berhasil," ungkapnya.

Dia menambahkan, saat ini RTMPE tersebut baru berjalan lebih kurang tiga bulan. "Bukan sombong gaji saya sebagai petani RTMPE dibandingkan camat lebih besar penghasilan RTMPE ini. Bayangkan saja dalam satu bulan sekarang saya sudah menghasilkan Rp5 juta dan ini didapatkan dari penjualan telur ayam, cabai, bawang dan ikan. Untuk telur saja tiap hari dirinya kekurangan pasokan, bahkan tidak terlayani orang yang datang untuk membeli telor ayam," katanya.

Lebih lanjut dikatakan, semua usaha ini memiliki jangka waktu produksi. Untuk jangka pendek bisa menghasilkan  telor dan sayuran yang ada. "Namun jangan salah jangka panjang juga sangat menguntungkan seperti kotoran sapi yang dijadikan pupuk kandang untuk kebutuhan sawit milik saya," ulasnya.

Diakuinya,  dulu setiap bulan pengeluarannya untuk pemupukan tanaman sawit seluas 4 hektare adalah Rp1,5 juta dan sekarang dia sudah tidak ada lagi harus merogoh kocek karena dia sudah memakai pupuk kandang.

"Di sinilah keuntungan RTMPE ini, jadi jika ada yang ragu dan pesimis dengan program ini datang ke saya biar saya berikan ilmunya," tantang Rakhmat.

Dia juga termasuk orang yang mengaku  kesal jika  program ini di katakan program yang tidak jelas. "Siapapun yang mengatakan tidak jelas berarti orang tersebut tidak menyadari bahwa petani profesional itu berawal dari RTMPE ini," ungkapnya.(adv/humas)

Editor:

Terkini

Terpopuler