Orangtua Penderita Gizi Buruk Berharap Bantuan Pemkab

Ahad, 18 Oktober 2015 - 23:13 WIB
Atan Kucung (30), Warga Panipahan, memangku putrinya yang diduga penderita gizi buruk. Ia berharap bantuan dari pemerintah.

PANIPAHAN (HR)-Atan Kucung (30), Orangtua dua bocah penderita gizi buruk di Panipahan, hanya bisa pasrah dan berharap kepada Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir memberikan bantuan pengobatan kepada putri-purtinya. Sebab dirinya mengaku hanya bekerja buruh nelayan dan memiliki penghasilan yang pas-pasan untuk menghidupi keluarga.

Bocah yang diduga mengalami Gizi buruk tersebut adalah Laila (9) dengan berat badan hanya 16 ,1 kg, sedangkan adiknya bernama Lasmini (5) hanya memiliki berat badan sekitar 11,4 kg. Kedua Putri dari pasangan Atan Kucung itu kondisnya lemah tak berdaya dengan perut membuncit.

Sedangkan istrinya, Misnah (35), menjelaskan dengan keterbatasan biaya untuk merawat kedua anaknya yang mengalami gizi buruk, mereka memilih kedua anaknya hanya dirawat dirumah tanpa ada pemberian vitamin dan makanan yang bergizi.

Perlu diketahui, keluarga miskin itu tingal di RT 02 RW 10, Dusun V, Kepenghuluan Teluk Pulai, Kecamatan Pasir Limau Kapas. Bahkan yang lebih miris lagi, kedua anaknya tersebut sudah pernah dibawa ke Puskesmas Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas agar mendapat perawatan.

Namun sangat disayangkan pihak Puskesmas hanya mengatakan kepada kedua orangtua Laila dan Lasmini agar kedua anaknya segera dibawa ke RSUD Pratomo Bagansiapiapi untuk mendapatkan perawatan intensif. Kendati demikian, pihak Puskesmas tidak memberikan surat sebagai bahan rujukan.

"Sudah pernah kita bawak ke Puskesmas, namun pihak Puskesmas tidak ada yang memberikan surat rujukan, kita hanya orang kecil yang tidak berpendidikan dan tidak tahu apa-apa. Jadi kedua anak kami bawa pulang ke rumah agar dirawat di rumah saja," ujar Atan Kuncung, sembari meneteskan air mata, Sabtu (17/10).

Pada kesempatan yang sama, Kepala Desa Teluk Pulai, Sutarno, kepada wartawan merasa kecolongan dengan ditemukannya dua anak yang mengalami gizi buruk yang berada di wilayahnya. Bahkan Sutarno menyebut ini merupakan keteledoran yang tidak bisa dibiarkan.

"Saya merasa kecolongan dengan kejadian ini. Saya baru mengetahui hari ini kalau di desa saya ada bocah yang kurang gizi," ujarnya.***

Editor:

Terkini

Terpopuler