Meski Minum Obat, Tetap Susah Bernafas

Sabtu, 05 September 2015 - 08:48 WIB
Ilustrasi

KAMPAR (HR)-Hari Kamis (3/9) lalu, mungkin akan menjadi hari yang tak terlupakan bagi Heni dan Fitri Maulida, keduanya adalah santriwati di salah satu pesantren di Kota Bangkinang. Kabut asap tebal yang turun di sekolah tempat keduanya belajar, membuat keduanya pingsan ketika proses belajar mengajar di kelas tengah berlangsung. Hal itu disebabkan keduanya tak kuat menghirup udara yang kotor.

Namun sebenarnya, apa yang menimpa kedua santriwati itu, seharusnya menjadi pembelajaran bagi semua pihak, tentang bahaya kabut asap bagi manusia. Khususnya untuk generasi muda yang tengah belajar menggali ilmu.

Heni berasal dari Lingkungan Tanjung, Kelurahan Pasir Sialang. Sedangkan Fitri Maulida berasal dari Dusun Telo Desa Muara Uwai, Kecamatan Bangkinang.

Keduanya harus dilarikan ke ruangan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) untuk mendapatkan pertolongan. Akibatnya, aktivitas belajar mengajar di pesantren itu pun jadi terganggu.

Ketika ditemui di UKS, keduanya masih tampak lemas. Meski sudah mendapat pertolongan, Meski keduanya mengaku masih kesulitan bernafas, karena kabut asap tebal ternyata masih bisa menerobos masuk ke tempat keduanya dirawat.

Menurut Fitri, ia memang mengidap penyakit asma. Namun selama ini, penyakit itu bisa diatasinya dengan meminum obat secara rutin. "Namun pada waktu itu (Kamis, red), kondisinya memang susah Pak. Asapnya tebal. Meski sudah minum obat, tapi tetap saja susah bernafas," ungkapnya.

Tidak hanya kedua siswi itu, hal serupa juga diakui santri lainnya,MAlfikri ,asal SP II Desa Laboy Jaya. Menurutnya, kabut asap membuat suasana belajar di kelas menjadi tak nyaman. "Belajar jadi tak nyaman, kami susah bernafas," ujarnya.

Dinas Kesehatan Kampar yang mengetahui adanya siswa yang pingsan akibat kabut asap, ketika itu langsung menurunkan tim ke lapangan yang dipimpin dr Delpan Syukri dan dibantu dua perawat.

Di depan petugas kesehatan, Fitri menjelaskan keluhannya dalam bernafas. Menanggapi hal itu, dr Delpan menyarankan agar mengurangi aktivitas di luar ruangan dan tetap memakai masker. "Jika butuh pelayanan lebih, sebaiknya dibawa ke RSUD Bangkinang," ujarnya.

Sementara itu, kakak kandung Fitri Maulida, Yessi, mengatakan bahwa adiknya memang sudah lama mengidap penyakit asma dan telah berobat ke Puskesmas setempat. Menurutnya, selama kabut asap marak, sang adik memang sering tak bisa sekolah. Namun pada Kamis kemarin, Fitri tetap memaksakan diri belajar ke sekolah.

Namun akibatnya ternyata fatal. Karena tak kuat menghirup udara yang telah bercampur asap, adiknya pingsan ketika proses belajar di kelas tengah berlangsung. "Sekarang adik saya istirahat di rumah saja," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kampar, dr Muhammad Haris mengakui, kondisi udara di Kampar saat ini memang sudah sangat tidak sehat. Sehingga sudah wajar jika para siswa sebaiknya diliburkan untuk sementara waktu. Pihaknya juga terus memantau perkembangan dampak kabut  dengan mendirikan posko dampak kabut asap di Dinas Kesehatan Kampar. (dom)

Editor:

Terkini

Terpopuler