Harga Kelapa Bulat dan Karet Anjlok

Kamis, 03 September 2015 - 09:16 WIB
MAKMUN MUROD

SELATPANJANG (HR) - Petani karet dan kelapa di Kepulauan Meranti mengeluh karena harga ke dua komoditas itu menurun sejak Juni lalu.

Hal terjadi ini akibatkan dampak menurunnya nilai rupiah terhadap dolar yang terus mengalami penurunan.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun), Makmun Murod, saat dikonfirmasi Rabu (2/9) mengatakan, harga komoditi karet dan kelapa saat ini memang mengalami penurunan. Ia juga menyebutkan bahwa jatuhnya harga komoditi karet  dan kelapa itu dipengaruhi oleh pasar dunia.

Turunnya harga komoditas itu juga terjadi karena munculnya negara produsen baru yang memaksa terjadinya persaingan di antara negera-negara produsen. Kebutuhan relative stabil, sementara barangnya semakin banyak berakibat pada nilai jual yang rendah.

"Saat ini harga karet di Meranti menyentuh sampai nilai Rp 5.000/kilonya. Sedangkan harga kelapa bulat hingga mencapai Rp1.400 perkilonya," jelasnya.

Sementara pasar karet tergantung harga pasaran dunia. Kita sendiri atau pedagang di tanah air tidak mampu menahan harga tersebut sehingga harga kelapa dan karet terpaksa ditentukan oleh pasar.

"Kita juga sebenarnya sudah mencoba melakukan penjajakan dengan beberapa investor. Namun masih ada kendala teknis yang belum bisa kita atasi, akhirnya para investor tersebut menjadi enggan menanamkan investasinya di Meranti,”aku Murod.

Menurutnya, pemerintah daerah sejauh ini belum mampu menjadi pemodal utama dalam rangka membangun industry tersebut yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu kepada para petani karet khususnya, juga diminta agar tetap memperhatikan kualitas karet.

"Kita imbau kepada masyarakat untuk jangan memasukkan barang-barang yang bisa menurunkan kualitas karet. Dan agar sama-sama menjaga kualitas, sebab turunnya harga komoditas itu juga ada kaitannya dengan kualitas,”ucapnya.

Diakuinya juga harapannya,kepada pihak swasta agar mau menanamkan ivestasinya di bidang perkebunan kelapa dan karet itu.

Terutama pada industri hilirnya. Sehingga kita bisa menjual barang setengah jadi, tidak seperti selama ini hanya menjual bahan mentahnya saja.

Lebih jauh  sebutkan,hasil karet dari Meranti mencapai 18.000 ton pertahun. Dan hal ini masih bisa ditingkatkan dari tahun ke tahun. Sebab sejauh ini masih cukup luas lahan untuk menambah luas kebun karet. Dan juga cukup luas kebun karet yang bisa diremajakan kembali.

Dan pemerintah dalam hal ini Dishutbun senantiasa melakukan program peremajaan karet, namun hanya bisa dilakukan terbatas.

"Demikian juga potensi kelapa yang masih bisa ditingkatkan. Walau kondisi perkebunan kelapa itu juga sudah banyak yang harus direplanting,”tam bah nya.(jos)

Editor:

Terkini

Terpopuler