Hidayat Nur Wahid Ingatkan Jasa Ulama dan Umat Islam Terhadap Kemerdekaan Indonesia

Hidayat Nur Wahid Ingatkan Jasa Ulama dan Umat Islam Terhadap Kemerdekaan Indonesia

RIAUMANDIRI.ID, JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menyatakan prihatin terhadap aksi teror, intimidasi dan perundungan yang menimpa para ulama. Perundungan itu terjadi menurut Hidayat karena pelakunya tidak menyadari betapa besar jasa dan peran para ulama bagi kemerdekaan serta keutuhan NKRI. Akibatnya, tanpa merasa bersalah sedikit pun, mereka terus meneror ulama.

Menurut dia, ancaman dan teror kepada siapa pun bertentangan dengan nilai demokrasi dan prinsip negara hukum, yang sudah disepakati berlaku di Indonesia. Nilai-nilai demokrasi dan prinsip negara hukum itu seharusnya ditegakkan dan dipatuhi, bukannya malah dilanggar. Lebih memprihatinkan, lanjutnya, karena pihak yang diintimidasi dan diancam itu adalah para ulama.

"Ada yang tengah dilupakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yaitu relasi antara umat Islam dan negaranya. Seolah-olah ulama dan umat Islam Indonesia, tidak memiliki jasa apa pun terhadap kemerdekaan Indonesia, pada 17 Agustus 1945," kata Hidayat seperti dikutip dari detikicom, Kamis (20/8/2020).


Pernyataan itu disampaikan Hidayat secara daring, saat menjadi narasumber Sosialisasi Empat Pilar MPR dan Narasi Kebangsaan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Acara tersebut berlangsung di Aula Rumah Jabatan Anggota DPR RI, Komplek Kalibata, Jakarta Selatan.

Di berbagai catatan sejarah Indonesia, kata Hidayat, peran ulama dan umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan dan keutuhan NKRI sangat jelas. Bersama-sama dengan para pejuang nasionalis, ulama dan umat Islam bahu membahu menegakkan pergerakan kemerdekaan. Salah satu bukti pengorbanan ulama adalah kerelaan menghapus tujuh kata dalam piagam Jakarta dan menerima Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai sila pertama Pancasila.

"Kalau dulu, para ulama yaitu, Ki Bagus Hadikusumo, K.H Wachid Hasjim, Teuku M. Hasan, dan juga Kasman Singodimedjo tidak mau menghilangkan tujuh kata dalam piagam Jakarta, lalu balik mengancam akan keluar dari NKRI jika Piagam Jakarta tidak disahkan, niscaya proklamasi kemerdekaan 17 Agustus akan sia-sia saja. Tetapi, itu tidak dilakukan oleh para ulama, dengan ikhlas mereka menerima sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, demi menyelamatkan kemerdekaan dan menjaga kedaulatan NKRI," tambahnya.

Lalu, ketika NKRI hilang akibat perjanjian meja bundar dan digantikan dengan Republik Indonesia Serikat, umat Islam lah yang mengembalikan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketua Fraksi Partai Masyumi Muhamad Natsir pada 3 April 1950 menyampaikan pidato di depan DPR RIS. Dalam pidato yang dikenal sebagai Mosi Integral Natsir, itu Natsir mengusulkan agar Indonesia kembali menjadi NKRI, sesuai cita-cita UUD 1945.

Seperti diketahui, baru-baru ini sejumlah ulama dan tokoh nasional yang tergabung dalam Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) mengalami teror, intimidasi dan pembajakan akun. Mereka antara lain Prof Din Syamsudin (Muhammadiyah), Prof Rahmat Wahab Hasbullah (NU), Jend (Purn) Gatot Nurmantyo, Dr. Rizal Ramli, Prof Sri Edi Swasono, Dr Meutya Hatta, hingga Abdullah Hehamahua.

Hidayat berharap proses penegakan hukum dan pengusutan terhadap teror, intimidasi dan pembajakan akun terhadap para tokoh bangsa harus dilakukan secara tuntas. Ini penting untuk membuktikan bahwa negara benar-benar melaksanakan Pancasila, dan menjamin kebebasan berserikat dan berkumpul serta menyampaikan pendapat yang dijamin oleh konstitusi, UUD NRI 1945.