Taman Bunga Impian Okura Akankah Tinggal Impian?

Rabu, 14 April 2021 - 23:28 WIB
Riaumandiri.co wawancara bersama Muslim (RMC/Ihsan)

RIAUMANDIRI.CO, PEKANBARU - Kami berharap dapat pemandangan bagus sore, akhir pekan itu. Membayangkan bisa berfoto dengan ratusan bunga matahari sebagai latar. Melepaskan penat dan beban pikiran setelah sepekan beraktivitas.

Menempuh 45 menit perjalanan dari Panam, Desa Okura benar-benar menyegarkan pikiran. Suasana pedesaannya berbeda jauh dari hiruk pikuk Kota Pekanbaru. Di kiri dan kanan menuju Taman Bunga Impian, mata kami selalu dimanjakan pohon-pohon besar, kolam ikan milik masyarakat, dan kebun-kebun. Tidak salah Desa Okura disebut-sebut sebagai desa wisata.

Selain Taman Bunga Impian, di Desa Okura juga ada wisata dakwah, mulai dari berkuda, memanah, dan kegitan outdoor berbau Islami lainnya. Ada juga lokasi latihan menembak, kolam-kolam pancing, dan lain sebagainya.

Setibanya di Taman Bunga Impian, taman bunga yang berdiri sejak 2017 dan namanya telah semerbak hingga kancah nasional itu, harapan kami seketika sirna. Tidak ada bunga matahari yang mekar, pengunjung sepi, dan semak belukar di sana-sini. Beberapa jenis bunga yang masih hidup pun tidak terawat.

Secara teknis, bunga matahari yang menjadi ikon taman ini bukannya tidak ada. Ada, akan tetapi belum lama ditanam. Seorang bapak yang sibuk mencangkul galangan tempat bunga matahari ditanam mengaku para pengelola tidak lagi sesemangat dulu dan hanya merawat Taman Bunga Impian ketika sempat.

"Ya, gimana lagi. Namanya kami swadaya, dana apa adanya. Kalau sore, pulang kerja, baru di sini. Ya beginilah kondisinya (Taman Bunga Impian) sekarang. Mau mundur, kita sudah terlanjur maju," ungkapnya, Sabtu (10/4/2021).

Ketua pengelola Taman Bunga Impian, Musni Dianto atau yang akrab disapa Muslim mengaku pandemi Covid-19 benar-benar menghancurkan pasar pariwisata, termasuk Taman Bunga Impian. Muslim menuturkan, dalam sehari tempat tersebut pernah didatangi pengunjung hingga 2.500 orang. Namun, saat pandemi melanda, intensitas kunjungan turun drastis hingga hanya 10-20 orang saja per hari. Dengan harga karcis masuk yang dipatok Rp5000. Pendapatan di saat pandemi tidak mampu memutar periuk nasi Taman Bungan Impian.

"Hitung ajalah berapa dapatnya per hari itu. Tidak cukup untuk operasional. Apalagi semua di sini benda hidup. Burung merpati perlu makan, ikan di belakang perlu makan. Rumput perlu dibersihkan. Sedangkan kita swadaya. Saya juga bukan yang basic-nya pengusaha yang punya uang. Kalau ada uang, bisalah membayar orang untuk membabat rumput-rumput ini," kata Muslim.

Taman seluas 4 hektare itu awalnya dikelola 20-an orang. Muslim mengatakan yang terdata di Dinas Pariwisata sebanyak 16 orang. Namun, seiring berjalannya waktu, kemudian ditambah kondisi memburuk akibat Covid-19, saat ini yang bertahan mengelola Taman Bunga Impian hanya kurang lebih 5 orang saja.

Muslim mengaku kondisi saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola. Sebab, mengumpulkan pengunjung bukanlah perkara sulit. Namun, di situasi pandemik tidak bisa sembarang mengumpulkan massa. Ada banyak faktor yang perlu dipikirkan, seperti protokol kesehatan dan kelengkapan fasilitas agar perkumpulan massa tidak justru berujung petaka.

"Nanti dicantik-cantikkan, kita bikin festival budaya dan segala macam, orang ramai datang, tapi protokol kesehatannya gimana? Apakah efektif? Bukan pengunjung lagi, malah Satpol PP pula yang datang," ujarnya.

Dengan potensi besar yang dimiliki Taman Bunga Impian, Muslim berharap pihak-pihak terkait dari pemerintah maupun swasta dapat memperhatikan kondisi terkini tempat wisata bunga satu-satunya di Pekanbaru tersebut. Sebab, Taman Bunga Impian bukanlah destinasi wisata yang murni berorientasi bisnis. Melainkan lebih kepada pembangunan desa, yang tentu saja dikelola dengan seadanya alias swadaya.

"Kalau pihak-pihak terkait tidak memperhatikan kami, kami bisa tumbang, bisa mati. Kami akan kalah sama destinasi-destinasi baru lain yang pemiliknya punya uang. Jadi, kami harap kami diperhatikanlah. Kami tidak minta uang. Kami minta solusi," kata Muslim.

Mepati-merpati tampak sibuk mematuk-matuk tanah, mencari makan. Persis seperti beberapa pengelola yang juga sibuk mengurusi bibit bunga matahari setinggi 30 senti yang baru dipindah ke tanah galangan.

Muslim mengajak kami berkeliling, menunjuk-nunjuk beragam jenis bunga yang saat ini mulai dikembangkan dengan kondisi yang serba kekurangan. Muslim memprediksi, bunga matahari akan mekar pada satu atau dua minggu pascalebaran nanti. Ia juga mengaku akan segera mulai membersihkan rerumputan yang dengan semena-mena merambat ke beberapa jenis bunga. Ia akan mengakali agar Taman Bunga Impian kembali ramai dikunjungi.

"Insyaallah satu atau dua minggu setelah lebaran, bunga matahari mekar. Kita hanya bisa prediksi. Soalnya kondisi alam kita kalau panas terus, atau hujan terus, menjadi kendala. Bisa jadi banyak hama," ungkapnya.

Salah satu pengunjung yang tampak cemberut, berjalan gontai, dan mengaku telah kecewa sejak pertama datang ke Taman Bunga Impian, Haslin berharap sistem informasi pengelola dapat diperbaiki. Sebab, sebelum datang ke lokasi, ia sudah mengirimkan pesan ke akun Instagram Taman Bunga Impian untuk menanyakan kondisi bunga matahari, namun tidak dibalas. Akhirnya, Haslin tetap datang dan kecewa mendapati bunga matahari telah mati dan sebagian lain baru ditanam.

"Kecewalah. Udah aku DM (direct message) ke IG-nya, tapi enggak dibalas. Tahunya udah jauh-jauh ke sini ternyata bunga mataharinya kering, mati. Yang lain belum berbunga," ujarnya.

Editor: Nandra F Piliang

Tags

Terkini

Terpopuler