Petani Karet Menjerit Harga Karet Anjlok

Senin, 13 April 2015 - 08:17 WIB
ilustrasi

BANDAR PETALANGAN (HR)- Anwar, pria yang masih lajang asal Desa Lubuk Terap, Kecamatan Bandar Petalangan, tak bisa menyembunyikan wajah sedihnya. Pasalnya, nyaris berlangsung dua pekan, hujan terus menghujam ke bumi. Ini derita bagi Anwar dan warga yang selama ini bekerja sebagai petani karet.

"Karena jika hujan terus tercurah itu pertanda kami anak penakik ini tak bisa ke kantor menyadap karet. Kondisi penghujan ini telah berlangsung nyaris dua pekan. Selain tak bisa menakik, kondisi lainnya harga jual karet juga terbilang rendah, sekarang ini sekilonya hanya dihargai Rp6.500.

Sementara harga sembako kian meroket, sangat tak berimbang dengan harga karet dan kebutuhan hidup sekarang ini," keluh Anwar, Minggu (12/4).

Kebun karet tua seluas lebih dari satu hektar itu adalah komoditi yang telah ditekuni Anwar sejak belasan tahun. Ia terus menaruh harapan dari tetesan karet yang ia sadap saban harinya. Kini, ketika musim penghujan tiba, aktivitas itu terpaksa ia hentikan sementara. Dan ia harus memutar otak mencari pekerjaan lain, agar kebutuhan hidupnya bisa tertutupi.

"Karena musim penghujan ini, karet tak bisa di deres. Bila tetap dipaksakan, maka getah dan air akan bercampur, itu akan mempengaruhi kualitas dan mutu getah yang akan disulap menjadi ban mobil itu. Bisa-bisa tokeh karet besar meragukan hasil karet kita, bila musim penghujan ini tetap memaksakan untuk menderes," bebernya.

Tak hanya Anwar yang menjerit dan berkeluh kesah, ketika musim hujan tiba, begitu derita yang dirasakan oleh masyarakat yang berprofesi penyadap karet.

"Ya berharap dan berdoa agar musim penghujan segera berlalu. Begitu pula agar harga jual karet ini kembali naik dan normal. Setidaknya jika sekilo karet masih dibanderol Rp10 ribu hingga Rp15 ribu, itu baru normal dan kebutuhan hidup tercukupi," ungkap Anwar.***

Editor:

Terkini

Terpopuler