“Tak Tahu Bagaimana Masa Depan Anak Saya”

Kamis, 02 April 2015 - 09:25 WIB
ilustrasi

Peristiwa 10 Desember 2012 silam mungkin menjadi salah satu kenangan pahit bagi pasangan Taruna Meliala Sembiring dan Zubaidah. Anak laki-laki semata wayangnya Khohir Mulyadi (10), sudah divonis mengalami cacat tetap.

Anak bungsu dari tiga bersaudara tersebut tertimpa tiang bendera pada tahun 2012 lalu di sekolahnya SD 001 Seberida, kecamatan Batang Gansal.

 Khohir saat itu akan mengikuti ujian semester kedua. Jika hari biasanya dilangsungkan upacara bendera, tetapi karena ujian, sekolah tak melangsungkan, namun bendera tetap akan dinaikkan dan guru meminta siswa kelas 6 menaikkan bendera.

Sebelum masuk kelas, siswa dibariskan di depan kelas. Namun entah kenapa dan tanpa sebab jelas, tiang bendera sekolah yang terbuat dari besi tersebut, tiba-tiba saja jatuh dan mengarah ke barisan siswa kelas 2. Tiang tersebut mengenai dua siswa, namun hanya Khohir yang terkena parah, tepat di kepala.

Rumah sakit yang ada di Inhu tak mampu menanggulangi lalu dirujuk ke Rumah Aakit Awal Bross. Ternyata dari hasil scan tengkorak kepalanya hancur.

 Jalan satu-satunya mengganti tengkorak kepala tersebut dengan tengkorak dari silikon. Namun malang tak dapat diraih, Khohir harus menderita cacat tetap, dimana seluruh tubuh bagian kanannya lumpuh dan tak bisa digerakkan.

“Khohir saat ini kalau berjalan harus seperti suster ngesot, karena memang badan sebelah kanannya sudah tidak bisa digerakkan lagi, ungkap orangtuanya.

Dikatakan, sebelumnya dirinya bekerja di PT Palm di Batang Gansal, sebagai buruh sawit dan tinggal menumpang di rumah salah seorang warga. Sejak peristiwa itu, bapaknya berhenti bekerja dan menjual mobil miliknya untuk perobatan anak mereka dan pindah ke Sorek, agar lebih dekat ke Pekanbaru.

Menurut Taruna, Khohir saat ini menarik badan dengan menopang tangan kirinya yang menjadi tumpuan, karena kaki sudah tidak bisa difungsikan.

 Bahkan tingkah dan bicaranya seperti anak bayi. Mereka sempat ke Jakarta menemui Menteri Pendidikan Anis Baswedan, mencari bantuan perobatan dan masa depan anaknya Taruna menga-ku, mereka diminta tetap di Jakarta terlebih dahulu.

“Saya sudah beberapa kali mengajukan bantuan kepada Pemkab Inhu dan Bupati  Inhu Yopi Arianto, namun selalu tidak bisa dan selalu dihadapkan kepada ajudannya, termasuk Gubernur, sepertinya mereka menganggap masalah ini sepele, tegas Sembiring. Diceritakan, anaknya sempat  koma 18 hari di Rumah Sakit Awal Bross.

 Setelah dilakukan operasi, tak lagi sanggup membiayai karena setiap hari harus membayar Rp7 juta, sementara kemampuan terbatas. Ia pernah membawa tempurung kepala anaknya kepada Bupati Inhu dan saat itu dibantu Rp9 juta rupiah. Sedang dari sekolah memberikan Rp4 juta.

Sementara itu, Kadisdik Inhu, Ujang Sudrajat membantah tidak adanya perhatian dari pemerintah. Ditambahkan, untuk perobatan serta dana operasi dan berobat anak tersebut, sudah dikucurkan dana lebih kurang Rp92 juta rupiah.

 Juga biaya rumah sakit di Arifin Ahmad dengan menggunakan Jamkesda. Disdik tetap berupaya menggalang gerakan 1000 rupiah dan saat itu didapat Rp52 juta dan sudah diberikan.***
 

Editor:

Terkini

Terpopuler