Ustaz Gontor Sumbar Jadi Pembicara Ekonomi Indonesia di Republik Maladewa

Rabu, 18 Juli 2018 - 23:23 WIB

RIAUMANDIRI.CO, MALDIVES - Seorang pengajar Pondok Modern Darussalam Gontor 11 Sulit Air, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Ustaz Fatturroyhan, SE diundang menjadi pembicara dalam International Conference on Islamic Aweking (ICIA) yang diadakan International Institute of Islamic Thougth (IIT) dan Islamic University of Maldives (IUM), Republik Maladewa.

Pada acara yang bertajuk "Role of Islamic Thought, Culture and Civilization in Building Peace, Harmony and Tolerance in South Asia” itu, Ustadz Fatturroyhan berbicara mengenai solusi kesenjangan ekonomi yang terjadi di Indonesia bersama beberapa delegasi dari University Kano Nigeria, Bahria University Karachi Pakistan, University of Mauritius Mauritius, IIUI, Islamabad Pakistan, IIIUM, Malaysia, University of Peshwar Pakistan, King Khalid University Saudi Arabia, Malappuram College India, Oxford University UK, Aligarh University India, dan Hebron University Palestina.

"Acaranya berlangsung 14-15 Juli 2018, kebetulan saya satu-satunya sarjana bachelor dari Indonesia. Delegasi lainnya adalah PhD dan profesor ternama dari kampusnya,” ujar Ustadz Fattur, Rabu (17/7/2018).

Kata Fattur, dalam konferensi tersebut dia mengusung sebuah financial technology dengan konsep waqf berdasarkan mekanisme crowdfunding. Tujuannya mencoba mengajukan solusi untuk mengatasi ketimpangan pendapatan Indonesia melalui tangan rakyatnya sendiri dari sektor pariwisata bahari Indonesia.

Fattur mempresentasikan papernya di depan para panelis dan riviewer. Atas idenya, Fattur  berhak mendapatkan pujian dan piagam penghargaan dari IIT dan IUM.

“Setelah turun dari podium saya mendapat jabat tangan hangat dan pujian dari Prof Mansoor Akbar Kundi (IIU, Islamabad) dan Prof Omar Hasan Kasule (King Fahad University Saudi Arabia) atas paper yang saya presentasikan” ujar alumni Universitas Darussalam Gontor tersebut.

Menurut Fattur yang saat ini mengabdi di Gontor 11 Sulit Air Sumbar ini, pengalamannya bertemu dengan orang-orang hebat dan telah mengikuti tujuh kali konferensi di beberapa negara membuatnya semakin merasa harus berkontribusi lebih untuk Indonesia.

"Jiwa nasionalisme benar-benar sangat terasa ketika sedang berada di negara orang, apalagi saya satu-satunya wakil negara Indonesia di sana. Saya sangat menantikan pengalaman yang saya dapatkan untuk dapat memberikan kontribusi terhadap komunitas Muslim di Indonesia," paparnya. (rls)

Editor: Rico Mardianto

Terkini

Terpopuler