Kaki Lumpuh Akibat Dipasung, Kakek Ini Tinggal di WC yang Tak Terpakai

Ahad, 23 April 2017 - 23:10 WIB
Syarif Fadilah Tinggal di Sebuah WC Umum yang Tidak Dipakai Warga (Foto: RMC/Azwin)
SELATPANJANG (RIAUMANDIRI.co) - Malang benar nasib Syarif Fadilah atau yang akrab disapa Arif, warga Dusun III Desa Banglas, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti. Di tengah kerasnya himpitan ekonomi, dia harus berjuang hidup dengan kondisi kedua kaki lumpuh.
 
Kakek 62 tahun ini menjalani hidup dengan kedua kaki yang lumpuh akibat dipasung. Dibantu kursi roda, dia menghabiskan sisa usianya di sebuah WC umum yang dibangun pemerintah, yang tidak dipakai warga sejak dibangun.
 
"Terkadang dia tak berdaya untuk berjalan, namun dia berusaha, walau hidup sebatang kara," ungkap warga setempat, yang tak mau disebutkan namanya.
 
"Memang ada orang mengantar kursi roda, tapi tak tahu juga dari mana," tambah warga tersebut.
 
Hal lain dijelaskan Seriani kepada riaumandiri.co. Menurut Seriani, sejak menamatkan pendidikan di bangku SMA atau sekitar berusia 18 tahun, Arif mengalami gangguan jiwa. Jika dia berada di luar rumah suka mengganggu warga yang lewat.
 
Tak jarang warga ketakutan dengan ulah Arif, karena tak ingin anaknya mengganggu ketentraman orang lain, sang ibu yang ketika itu masih hidup, mengambil keputusan yang sangat berat. Kedua kaki Arif diikat dengan tali, kemudian dipasung.
 
Setelah 37 tahun berlalu, Arif yang sudah kehilangan bapak, juga harus kehilangan ibunya. Dan sejak ibunya meninggal dunia, Arif dilepaskan dari kekangan pasung. Namun, akibat dipasung puluhan tahun kedua belah kakinya lumpuh. Sementara itu, keluarga lainnya tidak mau peduli dengan nasib Arif.
 
Tetangga Arif tak bisa berbuat banyak, tapi rasa iba tetap ada. Paling tidak, untuk makan Arif ada saja yang memberinya, terutama Seriani.
 
Memberi bantuan secara langsung kepada Arif, warga harus berhati-hati. Pasalnya, jika ada orang yang tak begitu dia kenal mendekat, Arif mengamuk meskipun orang tak dikenal itu memberi bantuan kepadanya.
 
Hanya Seriani, salah seorang tetangga yang paling dikenal Arif. Itupun Seriani harus membunuh rasa kesalnya lantaran beberapa tahun lalu, Arif sempat membakar rumah orang tua Seriani yang berada di tepi laut, tak jauh dari tempat tinggal mereka.
 
"Orang gila, tidak mungkin kita marah. Meskipun dia sudah membakar rumah orang tua saya. Untung saja tidak ada korban jiwa," kata Seriani.
 
Seriani tidak tau persis sejak kapan Arif tinggal di WC yang dibangun pemerintah. Yang jelas, sejak dibangun WC permanen dua pintu itu, satu pintu untuk wanita dan satu pintu lagi untuk laki-laki, sama sekali tak pernah digunakan warga.
 
Arif tinggal di WC laki-laki. WC itu masih berfungsi hanya saja tidak ada airnya, dan bila malam tiba Arif tidur dalam keadaan gelap gulita, karena memang tidak ada aliran listrik di WC itu.
 
Sementara jika Arif ingin buang air, selalu tetangganya yang memberikan air. Di WC itu ada ember yang disediakan warga untuk menampung air keperluan Arif.
 
Arif, kata Seriani, setahu dia adalah anak asli Selatpanjang dan saudaranya masih banyak, hanya saja tidak mau mengurusnya.
 
Ketika wartawan riaumandiri.co berkunjung di tempat Arif, tampak sebuah kursi roda. Kursi roda itu, kata Seriani, adalah pemberian hamba Allah. Hanya saja jika keluar dari dalam WC, Arif lebih senang berjalan menggunakan kedua belah tangannya.
 
Sementara itu, Kades Banglas Syamsul Rizal membenarkan kejadian ini. "Saya harapkan ada yang bisa membantu beban warga kita. Memang ada bantuan beras raskin, namun itupun harus katagori miskin dan ini benar-benar warga yang berhak diberikan bantuan yang memperhatinkan," ungkapnya.
 
Reporter: Azwin Naem
Editor: Nandra F Piliang

Editor:

Terkini

Terpopuler