Riau-Sumbar Putus Total

Sabtu, 04 Maret 2017 - 07:25 WIB
Jalan yang menghubungkan Provinsi Riau dan Sumbar Terputus di Pangakalan, Limapuluh Kota (Foto: Humas Polres)

PANGKALAN (RIAUMANDIRI.co) - Jalan lintas Riau-Sumatera Barat yang melintasi Kabupaten Limapuluh Kota, putus total sejak Jumat (3/3) pagi. Hal ini terjadi setelah kawasan tersebut dilanda banjir akibat hujan lebat yang turun sejak Kamis (2/3). Ketinggian air mencapai 180 centimeter. Banjir juga membuat kawasan Pangkalan Koto Baru terisolasi.

Jalur
Akibat banjir, sebanyak 600 kendaraan terjebak dan tidak bisa ke mana-mana. Hingga Jumat sore kemarin, arus lalu lintas menuju provinsi tetangga itu dialihkan melalui Taluk Kuantan-Kiliran Jao. Pemberitahuan tentang pengalihan itu sudah terpampang sejak dari kawasan Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar.

"Jajaran Polres Kampar melalui pagi tadi (kemarin, red) telah memasang baliho pemberitahuan tentang terputusnya jalan ini di beberapa lokasi, agar warga masyarakat untuk sementara tidak melalui jalur ini," ujar Kabid Humas Polda Riau, Kombes Guntur Aryo Tejo.

"Warga masyarakat yang akan bepergian ke wilayah Sumbar maupun sebaliknya untuk melalui jalur alternatif ke wilayah Taluk Kuantan dan Kiliran Jao," tambahnya.

Hal senada juga disampaikan Kapolres Kampar AKBP Edy Sumardi Priadinata SiK melalui Kasat Lantas AKP Mas'ud Ahmad SiK. Pihaknya mengimbau masyarakat yang akan bepergian ke wilayah Sumbar maupun sebaliknya untuk melalui jalur alternatif ke wilayah Taluk Kuantan dan Kiliran Jao.

Longsor 13 Titik
Dari pantauan Haluan di lapangan, selain banjir, jalur perbatasan Riau-Sumbar hingga Ulua Aia, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, terjadi longsor di 13 titik.
Dua sungai besar yang melintasi kawasan itu, yakni Batang Maek dan Batang Sinama, meluap. Akibatnya Kenagarian Pangkalan, Mungka, Sarilamak, Taram, Lubuk Alai, Kapur IX, dan Harau terendam banjir berkisar mulai 30 centimeter hingga 180 centimeter.

Kondisi terparah berada di Pangkalan. Selain longsor yang membuat wilayah ini terisolir, ketinggian air yang menggenangi pemukiman penduduk berkisar antara satu meter hingga hampir mencapai dua meter. Situasi ini membuat pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota menetapkan tanggap darurat.

Informasi yang dihimpun Haluan di Pangkalan, air Batang Maek mulai meluap ke pemukiman penduduk sekitar pukul 03.00 WIB, Jumat (3/3) dini hari. Intensitas hujan yang tak kunjung menurun membuat ketinggian air kian naik. Bahkan pukul 07.30 WIB, air sudah mencapai ketinggian 1 meter lebih dan terus meninggi di siang hari hingga 180 cm.

Sedangkan Batang Sinama mulai meluap sekitar pukul 04.00 WIB. Akibatnya, Kenagarian Mungka, Sarilamak dan Harau, tergenang air dengan ketinggian antara 30 centimeter hingga setengah meter.

Akibat banjir, aktivitas masyarakat jadi terhenti. Bahkan proses belajar mengajar di sekolah juga diliburkan.

Khusus di Pangkalan, beberapa pohon dan tiang listrik tampak tumbang serta longsor kecil dan besar di beberapa titik. Seperti tiang listrik tumbang di Lubuak Bangku, jalan putus di Pondok Kopi, Sopang, Sibumbun dan Koto Panjang. Bahkan perjalanan harus terhenti di Kelok 17 (Nagari Koto Alam) karena longsor besar memutuskan akses jalan.

Melihat kondisi kian buruk di Pangkalan, Bupati Limapuluh Kota, Irfendi Arbi meminta pintu waduk PLTA Koto Panjang kepada Bupati Kampar, Riau untuk dibuka. Pasalnya Luapan Batang Maek akan tertahan di Pangkalan jika Pintu Waduk ini tidak dibuka.

“Air di Batang Maek ini harus dialirkan ke Batang Samo dan Batang Kampar. Jika tidak air lambat mengalir. Sedangkan hujan lebat terus turun hingga siang ini. Tadi saya sudah berkoordinasi dengan Bupati Kampar agar membuka pintu Waduk PLTA supaya air di Pangkalan ini bisa cepat surut,” kata Irfendi Arbi.

Ia juga mengatakan pukul 14.00 WIB, pintu Waduk mulai dibuka secara perlahan dari 30-50 cm dari semula. Disamping menyelamatkan Pangkalan, jika waduk tetap tidak dibuka, dikhawatirkan waduk pembangkit listrik ini jebol.

Kepala BPBD Kabupaten Limapuluh Kota, Nasrianto mengatakan pihaknya sampai saat ini masih melakukan evakuasi kepada masyarakat di daerah terkena banjir dengan melibatkan seluruh anggota BPBD, KSB setiap Nagari, BPBD Provinsi tetangga, BPBD Provinsi, SAR Padang, TNI dan Polri.

“Kami sedang melakukan evakuasi masyarakat dan membersihkan material longsor di sepanjang jalur lintas Sumbar-Riau di Pangkalan. Seluruh petugas dan relawan sedang menembus Pangkalan yang terhalang longsor. Sedangkan alat berat sudah mulai bekerja. hanya saja, karena hujan terus mengalir longsor baru terus berjatuhan,” kata Nasrianto.

600 Kendaraan Terjebak
Akibat banjir, sebanyak 600 lebih kendaraan yang datang dari Riau menuju Payakumbuh, terjebak material longsor di Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, sejak pukul 04.00 WIB.

Hingga Jumat sore kemarin, petugas masih berupaya menembus material longsor secara estafet ke lokasi. Pasalnya, rombongan yang terhenti di Ulua Aia, Kecamatan Harau dihadang 6 buah longsor besar.

Salah satu pengendara yang terjebak, Ramdalel menginformasikan dirinya bersama ratusan pengendara yang lain terisolir akibat longsor di Jorong Polong Duo, Nagari Koto Alam sejak dini hari.

“Jarak satu longsor ke longsor satunya ada sekitar 3 kilometer. Kami yang berada di tengah menjadi terjebak sejak semalam. Yang memakai kendaraan roda dua, berteduh di dalam mobil dan sudah mulai terserang kelaparan,” kata Ramdalel.

Dengan hujan yang masih mengguyur Polong Duo, seluruh pengendara dihantui ketakutan. Bisa sewaktu-waktu dinding bukit disamping kendaraan mereka rubuh dan longsor.
“Kami meminta petugas cepat mengevakuasi kami. Hujan masih turun dan kami takut dinding bukit ini longsor. Kami tidak bisa ke mana-mana sekarang,” katanya.

Sedangkan BPBD Kabupaten Limapuluh Kota masih berupaya melewati beberapa titik longsor dan membawa logistik dengan jalan kaki dan sepeda motor. Namun karena longsor besar-besar sulit menembus longsor.

“Saat ini kami memang melakukan pembersihan material longsor di Jalan Lintas Riau-Sumbar. Namun, yang kami prioritaskan adalah mengevakuasi masyarakat yang terjebak. Seluruh petugas sudah disebar dan sedang menyisir daerah-daerah yang terkena dampak banjir. Baik di perkampungan masyarakat maupun bagi pengendara yang trerkepunmg di Polong Duo,” tambah Nasrianto.

5 Alat Berat
Hingga berita ini dirilis, pemerintah setempat menurunkan lima unit alat berat untuk menyingkirkan material longsor sepanjang jalan  nasional Sumbar-Riau.
“Ada 5 unit alat berat yang dikerahkan,”terang Yunire Kepala Dinas PU Kabupaten Limapuluh Kota.

Kelima alat berat tersebut, terdiri dari 2 unit dari Dinas PU Kabupaten Limapuluh Kota, 2 unit dari Balai Pengawasan Jalan dan 1 unit dari Dinas PU Provinsi Sumbar.
“Saat ini, sebagian alat berat sedang ke lokasi longsor,”ucap Yunire.

Seluruh alat berat tersebut bekerja mulai dari kawasan Hulu Aia, Kecamatan Harau Kilometer 20 hingga ke kawasan Nagari Pangkalan dan perbatasan Riau. (oni, hen, h/ang)

Editor:

Terkini

Terpopuler