Mahasiswa Bentrok dengan Satpol-PP dan Polisi

Selasa, 15 November 2016 - 07:45 WIB
Pendemo berdesak-desakan dengan Satpol-PP dan polisi di depan Gedung DPRD Rohul, Senin (14/11).

PASIR PENGARAIAN (RIAUMANDIRI.co) - Demo Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se Provinsi Riau, Senin (14/11) di gedung DPRD Rokan Hulu, Senin (14/11) sempat ricuh. Seorang mahasiswa mengalami memar di bagian perut dan seorang personel polisi memar di kaki.

Para mahasiswa itu mendatangi lembaga legislatif itu untuk menyampaikan aspirasinya. Setidaknya ada 4 aspirasi yang disampaikan, diantaranya, selamatkan blok  Rokan agar tidak jatuh ke tangan Asin, selesaikan RTRW Rokan Hulu, lestarikan Budaya Rohul dan turut simpatik kepada rakyat terhadap bencana alam.

Pengamatan Haluan Riau akibat bentrok tersebut satu mahasiswa mengalami memar pada bagian perut akibat ditendang salah seorang anggota Satpol-PP. Sedangkan dari pihak Kepolisian, juga mengalami memar pada bagian kaki dan menuding ditendang oleh mahasiswa.

Bentrok fisik yang terjadi saat itu, berawal dari aksi mahasiswa mencoba menerobos blokade Satpol-PP yang di back Up pihak Kepolisian dari Polres Rokan Hulu,

untuk menyampaikan aspirasi di dalam gedung paripurna DPRD Rohul. Dan oleh Satpol-PP dan Polisi, mencoba menghadang, lalu mendorong mahasiswa hingga terjunggal ke tangga DPRD. Dan saat itu aksi tendang pun berlangsung.

Melihat kejadian mulai memanas, oleh Kordinator Pusat BEM se Riau, yakni Andika Rokan Cs, mencoba mengendalikan keadaan dengan meminta rekan-rekannya tidak membalas aksi kekerasan yang menimpanya. Dan mendesak pihak Kepolisian, untuk melakukan dengan DPRD agar mengizinkan mereka masuk ke gedung DPRD untuk berdiskusi dengan DPRD Rohul.

Hasilnya, DPRD tetap menolak berdiskusi di ruangan dengan alasan, tidak muat dan hanya meminta perwakilan saja. Guna menghindari bentrok fisik, mahasiswa terpaksa menyerah dan mengikuti kehendak DPRD untuk berdiskusi di halaman gedung DPRD Rohul.

Hardi Candra, dari Fraksi PDIP yang dipercaya untuk menghadapi sekitar ratusan massa, sebab dua pimpinan DPRD Rohul, lainnya Kelmi Amri dan Zulkarnain, tidak hadir,

langsung menyampaikan maaf atas kejadian tersebut. “Kami mewakil DPRD Rohul, menyampaikan berterimakasih. Dimana mahasiwa yang sudah tersulut emosi bisa diredam,” sampainya.

Selain itu, Hardi Candra juga menyampaikan terimakasih atas peran serta Mahasiswa BEM se Riau, yang datang ke Rohul, untuk mengawal jalannya pemerintahan.

“Aspirasi tentang blok Rokan agar tidak jatuh ke tangan asing, kewenangan itu sebenarnya berada di Pemerintahan Pusat. Namun demikian, DPRD Rokan Hulu, akan menyuarakannya sesuai jalur masing-masing,”terangnya.

Selanjutnya, mengenai aspirasi soal RTRW, sebut Hardi Candra, DPRD Rohul, telah berusaha menyuarakannya. Tapi, karena persoalan RTRW semua berkaitan sehingga RTRW Rohul tidak bisa disahkan dengan sendirinya.

“Kami sudah berusaha menyelesaikan RTRW Rohul, tapi sampai hari ini RTRW Provinsi Riau, belum selesai. Soal Lestarikan Budaya Rohul, sudah dilaksanakan dengan mengedepakan kearifan lokal yakni Budaya Melayu.

Demikian juga dengan aspirasi simpatik kepada rakyat soal bencana alam. Hal ini sudah disampaikan ke pada Pemda Rohul bagaimana menanggapi bencana yang terjadi,

”terang Hardi Candra,yang dilanjutkan dengan penanda tangan Apsirasi Mahasiswa oleh Pimpinan DPRD Rohul, Hardi Candra, dan sejumlah anggota DPRD Rohu, lainnya.

Usai menanda tangani aspirasi, Mahasiswa dan DPRD mencoba memediasi selisih paham yang terjadi antara mahasiswa, Satpol-PP dan Polisi. Dalam pertemuan tersebut, korban kekerasan dari mahasiswa memaafkan Satpol-PP. Mahasiswa juga meminta maaf kepada pihak Kepolisian.***

Editor:

Terkini

Terpopuler