Upaya Menjamin Ketersediaan Air Tanah dan Cegah Kebakaran

Kamis, 14 Juli 2016 - 11:04 WIB
Camat Tebingtinggi Timur Helafandi SE, MSi menerima secara simbolis dana dari PT NSP untuk membangun Sekat Kanal beberapa waktu lalu.

LAHAN gambut yang terdapat di seluruh wilayah Kepulauan Meranti, memiliki keunikan dan karakteristik tersendiri. Kedalaman gambut di Meranti bervariasi antara 2 meter hingga melebihi 10 meter. Dengan ketebalan tersebut, pada dasarnya tidak mudah menemukan tanah gambut yang kering.

Tapi, karena anomali cuaca yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, bahkan terkadang dengan perputaran musim yang tidak menentu itu mampu menaikkan suhu pada ketinggian yang ekstrim, mengakibatkan terjadinya kebakaran.   
Seperti musibah kebakaran yang terjadi tahun 2014 silam, dimana hampir seluruh wilayah di Kepulauan Meranti mengalami kebakaran. Baik di lahan hutan maupun di areal perkebunan masyarakat, termasuk di areal perkebunan milik PT Nasional Sago Prima.
Cuaca ekstrim dengan suhu tinggi otomatis mengeringkan persediaan air dalam tanah. Sehingga tatkala kebakaran terjadi maka sangat sulit memadamkannya.
Persoalan pertama yang dihadapi masyarakat Meranti saat terjadinya kebakaran adalah tidak tersedianya air untuk melakukan pemadaman. Kemudian belum terlatihnya masyarakat di saat menghadapi kebakaran tersebut. Begitu juga pemerintah daerah sebelumnya juga tidak pernah menduga kalau musibah kebakaran tiba-tiba muncul.
Akibatnya, di banyak lokasi kebakaran, api merajalela menghanguskan apa saja yang terdapat di atas permukaan tanah. Mulai dari pohon alam, tanaman masyarakat seperti pohon karet dan juga tanaman  sagu. Ribuan hektar hutan dan lahan perkebunan masyarakat ludes terbakar.
Karakteristik tanah gambut juga sulit diduga, kadang memaksa petugas pemadam kerab tertipu dan terjerembab pada bara api yang ada di dalam tanah. Di dalam tanah itu ternyata telah terbentuk semacam maqma yang kadang muncul ke permukaan dan selanjutnya menjalar sehingga menimbulkan kebakaran di permukaan kembali.
Pengalaman pahit yang dialami masyarakat Meranti maupun pemerintah daerah itu, memaksa Presiden RI Joko Widodo menginjakkan kakinya  di Desa Sungai Tohor-Kecamatan Tebingtinggi Timur, yang kala itu sebagai lokasi terparah mengalami musibah. Pada kesempatan tersebut, Presiden RI ke 7 itupun melakukan berbagai kegiatan salah satunya menginstruksikan agar membangun sekat–sekat kanal.
Menurut Jokowi, salah satu upaya mencegah terjadinya kebakaran di lahan gambut di seluruh wilayah Meranti yakni air tanah tidak dibiarkan terbuang ke laut. Di semua kanal alam yang terbentuk yang menuju pembuangan ke laut harus disekat alias ditutup,”tegas Jokowi.
Pada kunjungan tersebut, Joko Widodo juga menyempatkan diri melihat upaya pembuatan sekat kanal yang dilakukan masyarakat, yang akhirnya menjadi salah satu model kebijakan pemerintah yang diterapkan secara nasional sebagai strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan, terutama di lahan-lahan gambut.
Program sekat kanal juga sebagai bagian dari program restorasi gambut nasional yang menjadi sebuah program baru untuk mengembalikan keberadaan gambut dari ancaman kepunahan itu.
Program ini juga menyita perhatian dunia international, dan akhirnya Desa Sungai Tohor Kecamatan Tebingtinggi Timur-Kabupaten Kepulauan Meranti, ditetapkan menjadi pusat penelitian gambut dan restorasi gambut international.
PT NSP Mendukung Penuh
Harry Susanto, General Manager PT National Sago Prima (NSP) mengakui, program sekat kanal yang dicanangkan pemerintah mendapat dukungan penuh dari Management PT NSP.
Diungkapkannya, sebelum pemerintah pusat mencanangkan pembuatan sekat kanal, pihaknya telah membangun sekat-sekat kanal tersebut. Terutama di areal HTI Sagu yang mereka miliki, apalagi setelah mengalami musibah kebakaran hutan dan lahan yang terjadi tahun 2014 silam.
Menurutnya, ancaman kebakaran menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi perusahaannya. Sebab berkaca dari pengalaman tahun 2014 silam itu, jika terjadi kebakaran maka sangat berdampak buruk bagi semua sendi-sendi kehidupan bermasyarakat juga bagi perusahaan dan bangsa kita sendiri.
Ribuan hektar kebun sagu milik perusahaan saat itu ludes terbakar. Ada yang baru ditanam namun cukup luas juga pokok sagu yang sudah siap dipanen. Hebatnya lagi, jilatan api kala itu memaksa terjadinya kerugian materil yang tidak sedikit dialami perusahaan. Termasuk di dalamnya 5 unit alat berat turut hangus karena tidak sempat terselamatkan.
Menyikapi musibah itu, perusahaanpun langsung lebih memberdayakan regu pemadam kebakaran dengan bekerjasama dengan Manggala Agni sekaligus mengadakan berbagai peralatan pemadam yang dibutuhkan. Perusahaan juga melakukan perekrutan tenaga personil dengan merekrut pemuda desa untuk bertugas sebagai pemadam kebakaran.
Mereka bertugas non stop 24 jam, dengan cara bergiliran. Mereka juga telah mendapat pelatihan dasar dan lanjutan. Dengan kesiapa regu pemadam tersebut, kami optimis wilayah konsesi perusahaan akan terhindar dari bahaya kebakaran,” sebut Harry.
Bidani Terbentuknya Masyarakat Peduli Api (MPA)    
Dalam perjalanan REDAM (Regu Pemadam) bentukan perusahaan tersebut, juga menginisiasi lahirnya masyarakat peduli api (MPA) di Kepulauan Meranti yang awalnya terbentuk di Kecamatan Tebingtinggi Timur saja.
Dimana di seluruh desa yang terdapat di wilayah paling Timur di Pulau Tebingtinggi itu, para pemuda atau orangtua yang masih energyk diajak menjadi bagian dari keberadaan MPA.
Selain dilatih pengetahuan dasar mengenai terjadinya kebakaran, kepada kelompok masyarakat ini juga difasilitasi berbagai keperluan untuk berperang melawan api.
Mulai dari mesin penyedot air, selang dan pakaian seragam untuk lincah menghadapi api tersebut. Perusahaan NSP benar-benar serius membantu keberadaan MPA yang terbentuk secara bertahap di Kecamatan Tebingtinggi Timur tersebut.
Dengan dukungan kelengkapan peralatan, perusahaan juga memberikan berupa intensif secara berkala sehingga menjamin keberlangsungan program MPA tersebut.
Dan pada akhirnya, hingga saat ini program MPA semakin meluas, bahkan sudah terbentuk di seluruh pulau yang ada di Kabupaten Kepulauan Meranti. Hal ini memberikan arti positif dimana masyarakat Kepulauan Meranti telah memahami bahaya dan kerugian jika terjadi akibat kebakaran,”tutur Harry lagi.
Menurutnya, salah satu upaya untuk melakukan pencegahan kebakaran adalah sejauh mana masyarakat desa itu memahami dampak buruk dari sebuah kebakaran hutan dan lahan. Termasuk pemahaman akan sanksi hukum akibat melakukan pembakaran tersebut.
Jadi, perusahaan melalui kader-kader MPA di desa yang ada senantiasa menyakinkan masyarakat luas agar tidak melakukan pembakaran dalam bentuk apapun. Terutama kepada masyarakat desa yang dari turun temurun dalam membuka lahan pertanian atau perkebunan biasanya melakukan pembakaran.
“Inilah salah satu penekanan perusahaan kepada seluruh pihak yang berhubungan langsung dengan perusahaan maupun terhadap para pekerja sebagai karyawan di PT NSP.
Sehingga lewat para karyawan yang terdiri dari ribuan orang itu senantiasa memahamkan kepada khalayak ramai terutama bagi masyarakat yang berada di Kepulauan Meranti agar tetap waspada terhadap ancaman kebakaran,”tambah Harry.(***)

Editor:

Terkini

Terpopuler