Siswa Belajar di Sekolah tak Berdinding

Kamis, 31 Maret 2016 - 08:13 WIB
Bangunan SD Negeri 135, Jalan Badak, Kecamatan Tenayan Raya Pekanbaru, saat dikununggi Zulfan Hafiz.

PEKANBARU (riaumandiri.co)-Sekolah Dasar Negeri 135 Negeri Jalan Badak Ujung, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, terlihat memprihatinkan. Hal ini terlihat ketika anggota DPRD Kota Pekanbaru, dari fraksi Gabungan, Zulfan Hafiz. secara langsung mengunjunggi SD tersebut, Rabu (30/3).

Dalam kunjungan Zulfan Hafiz bersama sejumlah awak media, menyaksikan bangunan sekolah yang telah berdiri sejak tahun 2010, itu memang sangat memperihatinkan. Sekolah yang berada di pinggir jurang dengan daya tampung bisa hanya menampung sekitar 80 siswa dengan ukuran seluas 3x10 meter ini, dikatakan sangat tidak layak.

"Kalau kita lihat memang kondisi bangunan jauh dari kata layak dan sangat luar biasa," kata Zulfan. Dapat dilihat secara langsung kata Zulfan, dua bangunan sekolah itu dua lokal sama-tidak memiliki dinding. Selain lantainya becek, siswa yang belajar di kelas langsung dapat memandang kebun sawit yang berada berbatasan langsung dengan ruang kelas, sehingga siswa dapat bebas memandang ke luar tanpa ada pembatas.

"Sangat bertolak belakang, ketika Kota Pekanbaru ini menuju kota Metropolitan, namun apa, apakah ini yang dikatakan kota menuju Metropolitan. Habis Metropolitan tentu mega politan. Jika sekolah seperti ini dibiarkan, menuju kota metropolitan apa,"tegas Zulfan di sela kunjungan ke sekolah itu kemarin dengan nada tinggi.

Dalam kunjungan tersebut, Zulfan Hafiz langsung didampingi dua orang guru yang bersatus Guru Bantu (GB) Provinsi Riau. Guru Oki dan suaminya Rendi yang juga mengajar di sekolah itu. Menurut guru kelas tersebut, mengenai kondisi sekolah ini memang demikian adanya, selain tidak layak juga berpengaruh terhadap psikologi siswa.

Siswa "Memang kita pernah mengajukan permohonan bantuan ke Pemko, namun sampai saat ini, sejauh mana realisasinya tidak diketahui lagi," kata Oki saat berbincang dengan Zulfan Hafiz.

Meski kondisi itu demikian, sekolah yang mayoritas siswanya dari keluarga tidak mampu, namun waktu proses belajar mengajar sama dengan sekolah biasanya.

"Jelas kami akui sekolah ini memprihatinkan, namun mau tak mau, memenuhi kebutuhan pendidikan anak sekitar lingkungan sekolah ini, harus tetap berjalan seperti waktu belajar sekolah lainnya.,"ujar Oki dihadapan wartawan.

Namun kata Oki, yang sedihnya siswa, dalam soal keuangan. Hampir rata-rata katanya, orang tua siswa tidak mampu memberikan belanja pada anak mereka.

Mendengar penuturan guru ini Zulfan Hafiz, kembali mengatakan, ketika melihat suasan kota, kalangan masyarakat yang mapan hanya melihat dari segi megahnya kota Pekanbaru, Namun ketika melihat ke pelosok kota, jelas memprihatinkan.

Bahkan kata Zulfan Hafiz, sekolah seperti ini bentuk bangunannya, dapat dibandingkan dengan kandang. Dengan kondisi begini, jelas pemerintah yang selama ini tidak memperhatiankan soal pendidikan."Ini jelas tangung jawab Pemerintah Kota Pekanbaru, karena ini berada di wilayah kota Pekanbaru,"jelas Zulfan.

Bahkan Zulfan sempat mepertanyakan, siapa saja pejabat yang pernah berkunjung ke SD Negeri yang memiliki lambang Pemko Pekanbaru tersebut.

"Jika begini apakah masih pantas kita sebut pemeritah serius dengan soal pendidikan, saya rasa ini sama saja membohongi masyarakat," imbuh Zulfan Hafiz. (ben)

Editor:

Terkini

Terpopuler