Harga Getah Karet Terus Turun

Senin, 18 Januari 2016 - 07:55 WIB
ilustrasi

PASIR PENGARAIAN (HR)-Meski sudah memasuki tahun 2016 namun ekonomi petani karet di Pasir Pengaraian, umumnya di Rokan Hulu masih belum membaik.

Hal itu disebabkan harga getah karet di tingkat petani yang terus mengalami penurunan, yakni Rp6.100 per kilogram (kg).

Sementara harga getah karet tahun 2015 lalu masih bertengger di angka Rp7000 per kilonya.
Kondisi ini sebenarnya sudah sejak lama dikeluhkan para petani karet, tapi hingga kini belum ada respons atau penanggulangan yang dilakukan para pejabat yang yang ada di negeri ini.

Malah sebaliknya para petinggi yang ada di negeri ini lebih memilih pembangunan gedung bertingkat ketimbang memperhatikan ekonomi masyarakat penghasil karet.

“Harapan kami kepada pemerintah, memasuki tahun 2016 ini hendaknya memikirkan ekonomi petani dengan menaikkan harga getah karet," kelu Sutan (41), Minggu (17/1).

Lanjutnya, kalau dengan harga getah karet saat ini yang hanya Rp6.100 per kilonya maka ekonomi petani karet tidak berubah dan tetap berada di bawah garis kemiskinan. Karena sebagian besar penduduk Rohul adalah petani.

Diakuinya, rendahnya harga getah karet di Kabupaten Rokan Hulu, saat ini membuat sebagian petani terpaksa meninggalkan kebun karetnya dan memilih bekerja serabutan.

Kadang menjadi buruh bangunan, mengimas, maupun buruh lainnya. Dan ini dilakukan semata untuk mencari uang agar bisa menghidupi keluarga dan membiaya sekolah anak.

“Bertani karet bukan mencari kaya. Tapi mencari uang buat biaya hidup keluarga dan biaya sekolah anak. Apalagi dengan harga getah karet saat ini, jelas sudah tidak sesuai lagi karena hasil yang diterima dalam seminggu, dari luas lahan 2 hektare hanya sekitar Rp120.000. Untuk itu kami meminta kepada Pemerintah hendaknya membuat program perbaikan ekonomi petani karet. Karena sebagian besar penduduk Rohul adalah petani karet,” cetus Sutan.

Ditambahkan Sutan lagi, selain harga getah karet rendah, kendala lain yang mengganggu ekonomi petani karet yakni tingginya curah hujan. Di mana sejak empat hari terakhir sebagian di antara petani karet yang masih bertahan berkebun karet tidak bisa mengangkut hasil sadapan karetnya karena hujan.

“Aturannya setiap hari minggu semua hasil sadapan karet diangkut keluar lalu dijual. Namun dengan kondisi hujan ini, jadwal angkut getah terpaksa ditunda hingga selasa (18/1),” keluh Sutan, yang diamini Antan, petani karet lainnya.(gus)

Editor:

Terkini

Terpopuler