Etape II Milik Pebalap Indonesia

Jumat, 27 November 2015 - 10:05 WIB
Pebalap Indonesia Projo Waseso dan M Nur Fathoni tampil sebagai yang tercepat dalam etape II Tour de Siak 2015, Kamis (26/11). Secara keseluruhan, etape ini didominasi pebalap Tanah Air, termasuk tuan rumah Kabupaten Siak.
SIAK (HR)-Setelah Malaysia, giliran pebalap sepeda asal Indonesia yang akhirnya tampil sebagai jawara, dalam etape II balap sepeda Tour de Siak, Kamis (26/11). 
 
Bahkan lomba kemarin juga berujung manis, setelah tim asal Siak juga mampu berbicara dan tampil sebagai jawara ketiga. 
Dalam balapan yang berjarak 182,12 kilometer yang menghubungkan Siak-Perawang tersebut, tempat pertama dan kedua direbut Projo Waseso dan M Nur Fathoni dari Indonesia National Team Jakarta. Sedangkan posisi ketiga direbut pebalap tuan rumah Kevin Tutuarima dari Siak Cycling Team (SCT). 
 
Ketiganya menembus garis finis dengan catatan waktu yang sama, 4 jam 16 menit, lima detik. Begitu pula tujuh pebalap lainnya yang masuk dalam 10 besar, kemarin. 
 
Ketika ditemui sebelum penyerahan hadiah, Projo mengaku diuntungkan dengan cuaca mendung. Sehingga energinya tidak terlalu banyak terkuras. "Cuacanya mendung, jadi saya bisa save energi untuk finis," terang Projo Waseso.
 
Jadi
Ia mengaku tantangan etape kedua kali ini berat, sehingga timnya tidak bisa melaksanakan strategi yang sudah direncanakan sebelumnya. "Pada strategi awal, posisi saya mendampingi teman satu tim, adik-adik yang akan kita lepas untuk breakaway. Namun di lapangan hal itu sulit dilakukan, sehingga kita ambil kesimpulan untuk mengimbangi gerombolan besar," kata Projo Waseso.
 
Selain itu, Projo mengatakan seharusnya M Nur Fatoni yang dipercaya leading menembus garis finis. Namun, saat 400 meter mendekati finis, posisi sprinter M Nur Fatoni terjepit, dan dirinya lebih memiliki peluang maju. 
 
"400 meter sebelum finis saya berada di urutan 30 dalam gerombolan, kesempatan ini saya manfaatkan untuk melakukan gebrakan, melihat posisi M Nur Fathoni terjepit, saya mengambil sikap dan berupaya keras untuk pertama menembus finis," kata Projo Waseso.
 
Hal senada juga dilontarkan Nur Fatoni. Dikatakan, dalam perjalanan di etape dua ia dan Projo bertugas untuk melepas tiga atlet satu timnya agar bisa breakaway. Namun di titik-titik sprint, baru keduanya maju untuk merebut juara sprint. 
"Saya dan projo maju di titik sprint saja," terangnya. 
 
Strategi itu berhasil dilakukan sampai sebelum jembatan Sultan Syarif Kasim Maredan. Ketika itu, tiga pebalap nasional Indonesia, yakni Elan, Indra dan Sama'i bekerjasama dengan Kevin Tutuarima, berhasil breakaway jauh meninggalkan pebalap lainya. Namun saat pendakian jembatan Sultan Syarif Kasim, gerombolan di belakang berhasil mengejar.
 
Sementara pebalap tuan rumah, Kevin Tutuarima, menuturkan, selama lomba berlangsung, ia berupaya membuntuti rombongan atlet timnas Indonesia itu. "Kita kerja sama, saya mengikuti senior, kebetulan saat mendekati garis finis posisi saya terbuka sehingga bisa bebas menggenjot sepeda," terang anggota tim Siak Cycling Team (SCT) ini.
 
Kevin menyampaikan strategi itu dilakukan karena empat pebalap yang berada satu tim denganya, gugur di etape pertama. Mereka terpaksa pasrah terdegradasi karena di etape pertama mereka tertinggal jauh dari pebalap lainya, sehingga diangkut oleh mobil penyapu.
 
Tidak hanya meraih posisi pertama, Projo Waseso juga berhasil merebut juara sprint pertama di KM 94,14. Posisi kedua diraih Iman Suparman asal tim ISSI DKI Jakarta dan disusul Jefri Irawan dari tim Custom Cycling Club.
 
Begitu pula pada sprint kedua di KM 147 Kecamatan Koto Gasib, lagi-lagi pebalap tim Indonesia kembali unjuk gigi. Hasilnya, tempat pertama diraih M Nur Fatoni disusul Projo Waseso dan Parno dari tim KFC Jakarta.
 
Ekstra Hati-hati 
Terpisah, Rice Direktur TdS 2015, Erwin Anwar menjelaskan, cuaca hujan yang terjadi di awal balapan membuat para rider jadi ekstra hati-hati. Sehingga semuanya mengambil sikap untuk mengutamakan keselamatan. "Di awal lomba, kondisi hujan, semua pebalap sefti, tidak begitu ngotot. Setelah tiba di Dayun, di sana tidak hujan baru pebalap mulai memacu sepedanya," terangnya. 
 
Mulai dari Dayun, beberapa pebalap Indonesia berhasil breakaway. Termasuk pebalap tuan rumah, Kevin Tutuarima. Sayang, setiba di jembatan Sultan Syarif Kasim mereka terkejar oleh gerombolan di belakang.
 
"Sejak dari Dayun semua pebalap mulai berpacu, kecuali pebalap Malaysia yang menang pada etape pertama. Mungkin itu strategi, karena sudah menang maka kali ini mereka milih bertahan, karena masih ada etape selanjutnya," ujar Erwin Anwar.
 
Sebelum etape kedua dimulai, panitia mengumumkan atlet terbaik di etape pertama dan berhak mengenakan kaos kuning (yellow jersey), kaos hijau (green Jersey) dan kaos merah putih (red and white jersey).
 
Sprinter terbaik di etape pertama dan berhak menggunakan green jersey yakni Che Ku Mohammad Syami, rider terbaik secara umum (individual classification by tim) yang berhak menggunakan Yellow Jersey direbut oleh pmbalap Malaysia Nik Mohd Azwan bin Zulkiflie. Sementara rider terbaik Nasional (Indonesia General Classification by tim) yang berhak mengenakan red and white jersey diraih M Taufik dari tim JTM.
 
Ketua Panitia Pelaksana TdS 2015 H. Tengku Said Hamzah mengaku gembira dengan hasil di etape ini. Terutama atas keberhasilan tim tuan rumah Kevin Tutuarima.
 
“Kevin Tuatuarima masih muda, di usianya 19 tahun ia berhasil mengimbangi pebalap senior kebanggaan Indonesia. Semoga di etape III Siak-Sungai Apit besok, minimal dia bisa mempertahankan posisi," harap Tengku Said Hamzah.
 
Keberhasilan atlit Indonesia merebut podim kali ini merupakan kejutan, karena ini kali pertama Indonesia mendominasi selama tiga kali TdS digelar. (lam)

Editor:

Terkini

Terpopuler