Harga Minyak Turun

Kamis, 22 Januari 2015 - 20:45 WIB
Foto udara kilang minyak mentah yang beroperasi di Refinery Unit (RU-5), Balikpapan, Kalimantan Timur.

Singapura (HR)- Harga minyak sedikit melemah di perdagangan Asia pada Kamis (22/1), karena pedagang menunggu pertemuan kebijakan Bank Sentral Eropa atau European Central Bank dan rilis laporan pasokan Amerika Serikat terbaru. Demikian kata para analis.
Patokan Amerika Serikat, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret, harganya turun 29 sen menjadi 47,49 dolar AS sementara Brent untuk Maret turun 10 sen menjadi 48,93 dolar AS dalam perdagangan sore.
Daniel Ang, analis investasi pada Phillip Futures di Singapura, mengatakan "volatilitas tinggi diperkirakan karena pertemuan ECB dan hasil inventarisasi energi".
Harapan tinggi bahwa pertemuan ECB pada Kamis akan meluncurkan program pembelian aset, atau pelonggaran kuantitatif (QE) seperti yang baru-baru ini berakhir di Amerika Serikat.
Spekulasi telah tersebar luas selama beberapa bulan bahwa stimulus lebih besar akan diumumkan karena inflasi terus melemah harga sebenarnya bulan lalu turun pada Desember untuk pertama kalinya dalam lima tahun.
"Jika ECB memutuskan untuk bergerak maju dengan program QE mereka, euro akan melemah. Efek dari melemahnya euro akan menetes turun ke minyak mentah karena membuat lebih mahal bagi negara-negara Eropa untuk membeli minyak," kata Ang.
"Namun, dalam jangka panjang, jika ini menghasilkan pemulihan di zona euro, itu yang paling pasti akan membantu meningkatkan permintaan minyak mentah ke wilayah tersebut," kata dia seperti dilansir kantor berita AFP.
Data stok Amerika Serikat resmi untuk pekan hingga 16 Januari akan dirilis oleh Departemen Energi AS pada Kamis, terlambat sehari dari biasanya karena liburan publik pada Senin (19/1).
Cadangan minyak mentah Amerika Serikat kemungkinan naik 2,7 juta barel menjadi 390,5 juta barel, menurut perkiraan rata-rata analis yang disurvei oleh Bloomberg News.
Harga minyak telah kehilangan lebih dari setengah nilai mereka sejak Juni, ketika mereka duduk pada lebih dari 100 dolar AS per barel. Penurunan itu diperburuk pada akhir November ketika Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengatakan akan mempertahankan tingkat produksinya meski harga sudah rendah dan persediaan melimpah. (ant/ivi)

Editor:

Terkini

Terpopuler