Plt Gubri Minta Peralatan ISPU "Real Time"

Sabtu, 19 September 2015 - 09:15 WIB
Papan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di depan kantor Walikota, Jumat (18/9) masih berada padal level berbahaya. Namun, kondisi kualitas udara tersebut merupakan kondisi udara sehari sebelumnya.

PEKANBARU (HR)-Pelaksana Tugas Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengganti alat indeks standar pencemaran udara agar bisa menyajikan data "real time", bukan lagi kondisi 24 jam sebelumnya.

"Peralatan ISPU kita menurut Badan Lingkungan Hidup, telat 24 jam. Misalnya kalau mau melihat ISPU Pukul 11.00 saat ini, itu yang tertulis ISPU pukul 11.00 kemarin.

 Jadi kalau ingin lihat ISPU sekarang besok lihatnya," kata Andi, sapaan akrab Arsyadjuliandi Rachman di Pekanbaru, Jumat (18/9).

Oleh karena itu, pihaknya akan mengusulkan permintaan peralatan yang tepat waktu ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Hal ini dirasa perlu karena setiap hari dalam kondisi kabut asap sekarang ini, alat itu sangat penting sebagai acuan berkativitas.

"Peralatan ISPU mintanya ke Kementrian LHK. Kita usul itu yang "real time". Nanti kita buat surat resminya," jelasnya.

Hal itu dikatakannya saat rapat koordinasi bersama unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, Kepala Daerah Kabupaten/Kota, dan beberapa  Asosiasi Perusahaan Perkebunan Sawit dan Kehutanan.

 Pada kesempatan itu dia menyatakan bahwa titik api di Riau beberapa waktu ini hanya sedikit dan bahkan nol.

Dengan demikian, lanjutnya, Riau hanyalah sebagai daerah terdampak kabut asap.
Plt Gubri
Di Sumatera, sebutnya, api banyak bersumber dari provinsi tetangga Sumatera Selatan dan Jambi.

"Tahun 2015 kita sudah mencoba menekan titik api tapi asap ini berasal dari daerah lain, itu telah kita sampaikan bahwa asap tak ada batasnya," jelasnya.

Walikota Pekanbaru, Firdaus juga mengatakan bahwa daerahnya hanyalah korban asap kiriman."Jadi jika di Riau kalau berhasil menekan titik api,  itu tak menjamin tidak berasap kalau tetap Sumsel dan Jambi juga produksi asap," imbuhnya.(ant/hai)

Editor:

Terkini

Terpopuler