Kabut Asap Kiriman Ganggu Penerbangan

Rabu, 26 Agustus 2015 - 12:17 WIB
Aktivitas penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru beranjak normal setelah sempat terganggu kabut asap tebal, Selasa (25/8).

PEKANBARU (HR)-Hingga saat ini, kabut asap masih terus menyelimuti Bumi Lancang Kuning, meski titik api tidak lagi ditemukan. Kabut asap yang ada saat ini, merupakan kiriman dari dari Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Saking tebalnya kabut asap tersebut, aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru sempat terganggu pada Selasa (25/8) pagi.

Dua pesawat, yakni Lion Air dan Citilink tujuan Jakarta-Pekanbaru, terpaksa harus memutar beberapa menit di udara Kota Pekanbaru sebelum akhirnya mendarat. Hal itu disebabkan jarak pandang di Bandara SSK II Pekanbaru terganggu akibat kabut asap.

Kabut
Kondisi itu dibenarkan Airport Duty Manager Bandara SSK II Pekanbaru, Hasnan. Dikatakan, hal itu terpaksa dilakukan karena jarak pandang di Bandara SSK II hanya 500 meter. Untuk keamanan, pesawat baru diperbolehkan mendarat setelah jarak pandang mencapai 1 kilometer.

Dikatakan, pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT388, yang seharusnya landing pada pukul 07.15 WIB terpaksa harus mendarat pada pukul 07.28 WIB. Sedangkan Citilink dengan nomor penerbangan QG936  yang seharusnya mendarat pukul 06.55 WIB terpaksa harus mendarat pada pukul 07.33 WIB.

"Holding kedua pesawat ini sekitar 15-30 menit, sampai jarak pandang untuk landing mencapai di atas 1000 meter. Pendaratan baik, hanya holding beberapa menit saja," ujarnya.

Empat Titik Panas
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, Sugarin, membenarkan terjadinya kabut asap tebal pada Selasa kemarin. "Ada penurunan jarak pandang akibat kabut asap pagi ini (kemarin, red) di beberapa kabupaten dan kota. Yakni Pekanbaru, Dumai, Rengat dan Pelalawan. Namun kondisi terparah ada di Pekanbaru dan Pelalawan dengan jarak pandang hanya 500 meter," terangnya.

Untuk wilayah Sumatera, terdeteksi sebanyak 85 titik panas yang tersebar di provinsi Lampung sebanyak dua titik panas, Jambi sebanyak 33 titik. Kemudian, Bangka Belitung 6 titik, Bengkulu 1 titik, Aceh 6 titik, dan Sumsel 36 titik. Sedangkan khusus di Riau terdeteksi empat titik panas yang tersebar di Indragiri Hulu, Hilir, Kampar dan Pekanbaru.

Secara umum untuk cuaca di Riau masih berawan dengan intensitas ringan terjadinya peluang hujan. Dan ini juga akan disertai petir tidak merata yang terjadi di wilayah Riau bagian utara, timur dan tengah pada sore dan malam hari.

Nol Titik Api
Sementara itu, Danrem 031/WB, Brigjen Nurendi, yang juga Komandan Satgas Penanggulan Karhutla Riau menerangkan, kabut asap tebal yang terjadi Selasa kemarin merupakan kiriman dari Jambi dan Sumatera Selatan. Sebab, untuk daerah Riau, saat ini tidak ditemukan lagi adanya titik api.

"Jadi titik api di wilayah diperbatasan Jambi dan Sumatra Selatan itu titik apinya mencapai 300 lebih. Dan angin yang dari wilayah Selatan menuju Utara mengakibatkan kabut asap tebal, dan kita kebagian kabut asap itu," terangnya.

Untuk penanganan Karhutla di Riau, saat ini hanya tinggal satu helikopter yang stand by untuk kegiatan water bombing. Begitu pula program hujan buatan, saat ini telah dihentikan. "Pesawatnya sudah ditarik sekitar dua minggu. Pesawat itu dibawa ke Jawa untuk membuat hujan buatan di wilayah Jawa yang kekeringan. Begitu juga Kalimantan, Sumsel Jambi dan daerah lainnya yang dilanda kekeringan," jelasnya.
Untum status Karhutla di wilayah Riau, Danrem mengatakan yang saat ini masih berstatus Siaga Darurat, akan ditentukan satuanya pada hari Kamis (27/8) mendatang. Karena status siaga darurat akan habis masanya pada tanggal 31 Agustus.

Diusut Tuntas
Di tempat terpisah, Jaksa Agung RI HM Prasetyo menegaskan penegakan hukum terhadap pelaku Karhutla di Riau akan dilakukan secara tuntas. Tidak hanya dilakukan pada mereka yang membakar saja, melainkan juga harus sampai menyentuh aktor intelektualnya.

"Saya sempat berbincang dengan Danrem dan Kapolda. Dari obrolan tersebut dinyatakan kalau saat ini ada dua (perusahaan) yang sedang dibidik," ujar Prasetyo tanpa menyebut nama perusahaan yang dimaksud.

Menurutnya, jangan mereka yang membakar di lapangan saja yang diproses. Melainkan harus dicari siapa aktor intelektualnya. "Ini yang harus dituntaskan agar tidak terus terulang. Karena sudah jadi stigma, negara kita khususnya Riau merupakan pengekspor asap ke negara tetangga," lanjut Prasetyo.

Lebih lanjut, Prasetyo menyebut kalau dirinya sudah berpesan ke Kajati Riau, Susdiyarto Agus Praptono, untuk memantau dan menangani Karhutla di Riau. "Kita tunjukkan, tidak ada stigma disparitas (perbedaan,red) penegakan hukum," tegas Prasetyo.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Badrodin Haiti, menyebut kalau permasalahan kabut asap pada tahun ini sudah mengalami penurunan jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Tadi saya sempat tanya sama Kapolda, kenapa banyak asap. Dikatakan, ini kiriman dari Jambi," jelas Badrodin Haiti.

Lebih lanjut Badrodin menyebut kalau pihaknya telah melakukan upaya penegakan hukum seiring dengan upaya pencegahan. "Beberapa tersangka sudah dilakukan penyidikan dan proses hukum. Tahun lalu ada 1 perusahaan," terangnya.

Sementara di tahun ini, sebut Badrodin, juga telah dilakukan langkah-langkah penyelidikan dan penegakan hukum. "Dan satu perusahaan masuk proses penyelidikan, belum tersangka. Masih dalam proses keterangan ahli," pungkas Kapolri Jenderal Badrodin Haiti. (nur, her, rud, dod)

Editor:

Terkini

Terpopuler