Rangkaian Gempa Mentawai Berada di Zona Megathrust

Selasa, 13 September 2022 - 07:48 WIB
Ilustrasi (Istimewa)

RIAUMANDIRI.CO - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan data pembaruan terhadap gempa dengan magnitudo 5,1 yang mengguncang Mentawai, Sumatra Barat pada Senin (12/9/2022) pukul 01.24 WIB.

“Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M4,9,” ujar Plt. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangannya, Senin.

Daryono mengatakan, gempa bumi ini merupakan rangkaian dari gempa bumi yang terjadi pada tanggal 11 September 2022 pukul 06.10 WIB dengan magnitudo 6,2. "Hasil monitoring BMKG, hingga tanggal 12 September 2022 pukul 02.20 WIB tercatat lima aktivitas rangkaian gempa bumi," ujarnya.

Dia menambahkan, bahwa wilayah Siberut Barat, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat diguncang gempa tektonik. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 1,22° Lintang Selatan dan 98,50° Bujur Timur atau tepatnya berlokasi di darat wilayah Siberut Barat, Kepulauan Mentawai pada kedalaman 26 kilometer.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng di Zona Megathrust Mentawai-Siberut,” jelas Daryono.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Berdasarkan catatan BMKG, gempa Bumi ini berdampak dan dirasakan di daerah Sagulubeg dengan skala intensitas IV-V MMI, yaitu getaran dirasakan hampir semua penduduk, orang banyak terbangun.

Di daerah Padang dan Padang Panjang dengan skala intensitas III MMI, yaitu getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa getaran seakan-akan truk berlalu. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.

Ia mengajak warga agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selain itu, Daryono juga mengajak warga untuk menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

Dampak Gempa

Sebanyak 5.756 orang di Kabupaten Kepulauan Mentawai terpaksa mengungsi usai terjadinya gempa bermagnitudo 6,1. Selain itu, gempa bumi yang terjadi pada Ahad (11/9) pagi itu, juga menyebabkan 22 bangunan rusak, serta tiga orang luka-luka.

Manajer Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Mentawai, Amir Ahmar mengatakan, jumlah pengungsi, korban luka, dan bangunan rusak itu masih merupakan data sementara. "Kita masih melakukan pengecekan di beberapa tempat," katanya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai, 5.756 jiwa pengungsi itu merupakan warga tiga desa di wilayah Kecamatan Siberut Barat. Yakni, Desa Sigapokna ada sebanyak 2.429 jiwa, Desa Simatalu sebanyak 975 jiwa, dan Desa Simalegi sebanyak 2.352 jiwa.

Sementara bangunan yang mengalami kerusakan sebanyak 22 unit baik itu bangunan milik pemerintah, maupun bangunan rumah warga. Dari jumlah tersebut, sebanyak lima rumah warga dan satu masjid rusak berat, kemudian delapan unit rumah warga dan satu Puskesmas Betaet mengalami rusak sedang.

Sedangkan yang mengalami rusak ringan, gedung SDN 8 Sagulubbek, Kecamatan Siberut Barat Daya, SMPN 2 Siberut Barat Daya, Labor SMAN 1 Siberut Barat, gedung TK, Pustu, Balai Dusun Muara Utara. Kerusakan bangunan itu rata-rata terjadi di Desa Simalegi.

Kemudian korban luka-luka akibat gempa ada tiga orang, yakni Darna Wati (57) tertimpa kayu ketika menyelamatkan diri dari rumah; Firdaus, kaki terkena kaca saat evakuasi; serta Fitriani lutut terluka dan pingsan saat evakuasi. Ketiga korban tersebut merupakan warga Desa Simalegi.

Editor: Nandra F Piliang

Tags

Terkini

Terpopuler