Webinar Literasi Digital: Pelajar Cerdas dan Paham Digital

Webinar Literasi Digital: Pelajar Cerdas dan Paham Digital

RIAUMANDIRI.CO, ROHIL - Webinar literasi digital pada siang ini, Jumat. 10 September 2021 dimulai pukul 14.00 yang dibuka oleh moderator, Lisa Maisyurah. Moderator membuka acara dengan salam, tagline webinar literasi digital “Salam Literasi Indonesia Makin Cakap Digital”, dan doa bersama. Moderator menyapa para narasumber, key opinion leader, dan seluruh peserta webinar. Tema pada siang ini adalah “MENJADI PELAJAR CERDAS DAN CAKAP DIGITAL”. Moderator memersilahkan seluruh peserta webinar untuk berdoa dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Acara selanjutnya, para narasumber, key opinion leader, dan seluruh peserta mendengarkan sambutan dari kedua keynote speech yaitu, Samuel A. Pangerapan selaku Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo. Dilanjutkan dengan moderator menyapa key opinion leader, @queenpopi selaku Owner @gaiabiai & Content Creator Youtube Bilik Biai. Moderator menyapa dan berbincang dengan key opinion leader pada pukul 14.08.

Moderator melanjutkan dengan membacakan tata tertib selama berjalannya webinar literasi digital. Setelah membacakan tata tertib, pukul 14.16 narasumber pertama yaitu, Resista Vikaliana, S.Si,. M.M. membawakan materi. Beliau adalah seorang Akademisi Bid. Manajemen, penulis buku, Penggiat Taman Bacaan KBM. Materi yang disampaikan adalah “SAATNYA PELAJAR  TERAMPIL BELAJAR  DARING (ONLINE).


SUMMARY: Dengan kemajuan teknologi informasi, harapan untuk mengubah perilaku konsumtif menjadi produktif lebih terbentang luas. Luangkan waktu lebih banyak untuk menekuni hobi Anda, tambah terus pengetahuan Anda, belajar langsung dari orang yang sudah ahli atau sudah sukses, dan tawarkan hasil karya Anda.

Sebuah survei yang diadakan oleh Hootsuite dan We  are Social (2021) menunjukkan bahwa responden  Indonesia yang berusia 16-64 tahun menggunakan internet rata-rata selama 7 jam 52 menit setiap harinya. Angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia  yaitu 6 jam 54 menit per hari. Indonesia menduduki posisi ke-8 dari 42 negara yang disurvei tentang  banyaknya waktu yang digunakan untuk meng akses internet.

Kemkominfo bersama Katadata melakukan survei status  read literasi digital nasional mengacu kepada kerangka literasi digital UNESCO. Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa indeks literasi  digital Indonesia ada pada angka 3,407 dari skala 1 sampai 4.

Literasi digital secara sederhana diartikan sebagai kecakapan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai tipe format sumber-sumber informasi yang lebih luas, dan mampu ditampilkan melalui perangkat komputer. Kemampuan literasi digital menjadikan seseorang mampu mentranformasikan kegiatan melalui penggunaan perangkat teknologi digital. Literasi digital sama pentingnya dengan membaca, menulis, berhitung, dan disiplin ilmu lainnya.

Terdapat beberapa keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan era digital seperti menganalisis data, membuat konten atau desain, video, pemrograman, promosi dan pemasaran, serta kemampuan menulis. Pekerjaan era digital seperti media sosial, UI/UX designer, content creator, copywriter, hingga digital marketer menjadikan skills tersebut sebagai dasar untuk menghadapi permasalahan-permasalahan perusahaan atau konsumen mereka. Ditambah dengan minimnya batasan ruang karena kehadiran internet, menjadikan setiap manusia dapat berbaur dengan manusia lain yang berbeda negara. Sehingga, keterampilan berbahasa inggris sebagai bahasa internasional juga dapat dikategorikan sebagai skills yang diperlukan saat ini. Juga pemikiran yang selalu terbuka dengan memperhatikan suatu hal tidak hanya dari satu sudut pandang saja untuk menciptakan inovasi terbaru yang menarik.

 

Untuk menguasai skills tersebut, pertajam kemampuan analisis terhadap data, media sosial, dan kemampuan dalam visualisasi data. Luangkan waktu untuk mempelajari bahasa inggris atau bahasa asing lainnya. Selama melakukan penguasaan skills, nikmati setiap prosesnya agar skills dapat terasah dengan baik. Tingkatkan juga kemampuan lainnya dalam berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, dan pengaturan emosi, guna menjadi manusia yang mampu bersaing di tengah digitalisasi.

Dengan memiliki kecakapan literasi digital, masyarakat dapat memproses berbagai informasi, memahami pesan, dan berkomunikasi efektif dengan orang lain dalam berbagai bentuk. Dalam hal ini, bentuk yang dimaksud menciptakan, mengkomunikasikan, mengkolaborasi dan bagaimana teknologi harus digunakan agar efektif untuk mencapai tujuan. Termasuk juga kesadaran dan berpikir kritis ketika dalam penggunaan teknologi dalam sehari-hari

Digital Skill yang Harus Dimiliki oleh Peserta Didik adalah Keterampilan  mengoptimalkan  sumber digital  untuk belajar  (mandiri), Keterampilan  melakukan video  conferencing, Keterampilan  mengerjakan tugas  secara online,  termasuk  menggunakan platform  online untuk tugas, Keterampilan  mengikuti  assesment/  ujian secara online

Belajar keterampilan akan aman dan mudah bila memanfaatkan mesin pencari untuk mencari semua pertanyaan, informasi, pengetahuan  sampai berita paling baru Belajar kepada pakar dapat melalui online course/ online workshop/ online seminar. Mengikuti tutorial online dapat mengakses educational web, YouTube, media sosial, dan lainnya. Mengikuti pendampingan/ coaching

Dengan kemajuan teknologi informasi, harapan untuk mengubah perilaku konsumtif menjadi produktif lebih terbentang luas. Luangkan waktu lebih banyak untuk menekuni hobi Anda, tambah terus pengetahuan Anda, belajar langsung dari orang yang sudah ahli atau sudah sukses, dan tawarkan hasil karya Anda. Pemaparan selesai pada pukul 14.35 WIB.

Setelah itu, moderator beralih ke narasumber kedua yaitu, Meida Rachmawati, S.E ,. M.M,. M.H. menyampaikan materi pada pukul 14.37 Beliau adalah seorang Dosen dan Direktur Nusantara Training and Research. Materi yang disampaikan berjudul “Internet SEHAT & AMAN Saat Belajar online”.


 

SUMMARY: 

Apa itu internet sehat ? Internet sehat adalah adalah aktifitas internet yang di sesuaikan dengan kebutuhan pengguna internet secara kriteria umur, profesi dan keyakinan yang bertujuan adanya konten yang pas dan tidak melanggar dengan aturan hukum cyber yang berlaku.

Secara umum hasil survey APJII yang bekerja sama dengan Indonesia Survey Center (ISC) ini menyebutkan, jumlah penguna internet per kuarta II tahun 2020 mencapai 73,7 persen dari popoluasi Indonesia. Jumlah ini setara 196,7 juta pengguna internet dengan populasi RI 266, 9 juta berdasarkan data BPS. Pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 ini mencapai 202,6 juta jiwa. Jumlah ini meningkat 15,5 persen atau 27 juta jiwa jika dibandingkan pada Januari 2020 lalu.

Kenapa harus ada internet sehat, karena gerakan Internet Sehat muncul karena aktifitas Internet di dunia maya saat ini masih terbilang bebas tanpa ada aturan hukum yang ketat, Banyaknya aktifitas-aktifitas Internet secara ilegal ini membuat Internet menjadi teknologi yang cukup berbahaya, aktifitas ilegal yang paling umum biasanya adalah Warez (pelanggaran hak cipta suatu karya), Cyber Bullying (Penghinaan dan Kata-kata kasar di internet) Penghinaan dan pelecehan SARA, Konten Dewasa dan aktifitas kejahatan lainya

Tips Belajar Online adalah tunjukkan perilaku baik di dunia maya, Pastikan Anda terhubung ke SSID Wifi yang resmi atau kredibel, Memastikan kualitas internet, Jaga kerahasian dan identitas data pribadi, Jangan terlalu lama di depan komputer, untuk menghindari kejenuhan dan kelelahan, dan dampak fisik lainnya

Selain menyediakan materi pelajaran, aplikasi ini juga membuka Sekolah Online Gratis, Sekolahmu menyediakan materi cara belajar efektif untuk tingkat PAUD hingga SMA/SMK. Tiap materi dilengkapi dengan aktivitas yang menunjang kompetensi. Ada pula fitur Belajar Live! berupa kelas online yang menarik untuk diikuti. Untuk siswa yang tengah berfokus belajar bahasa Inggris, Jepang dan Mandarin maka aplikasi ini sangat membantu, Zenius memiliki Program Belajar Mandiri. Fitur di dalamnya dilengkapi dengan puluhan ribu video pembelajaran, ratusan ribu latihan soal, cara belajar mandiri, kelas online dan rencana belajar harian, Selain menyediakan materi pelajaran sesuai kurikulum pemerintah, Quipper juga menyediakan Quipper School yang dapat diikuti secara gratis. Layanan kelas virtual ini memudahkan interaksi antara guru maupun siswa, Ribuan video dan latihan soal, juga ratusan buku berada di dalam aplikasi ini.

Dampak Belajar Jarak Jauh, yang bagus dari hal ini adalah Anak memiliki banyak waktu di rumah bersama keluarga, Metode belajar yang variative, Anak peka dan beradaptasi dengan perubahan, Mau atau tidak, anak pasti harus mengeksplorasi teknologi, Sebagian anak merasa nyaman belajar dari rumah karena tak ada yang merisak/bullying dan yang buruk dari belajar online adalah Anacaman Putus SekolahPenurunan capaian belajar , Tanpa sekolah, anak berpotensi menjadi korban kekerasan rumah tangga yang tidak terdeteksi guru., Keterbatasan gawai dan kuota internet sebagai fasilitas penunjang belajar daring Anak berisiko kehilangan pembelajaran atau learning loss dan Anak kurang bersosialisasi

Ribuan video dan latihan soal, juga ratusan buku berada di dalam aplikasi ini Aktifitas Internet Sehat sebaiknya mulai di terapkan Sejak Dini, disinilah peran orang tua sangat di butuhkan dalam mewujudkan aktifitas Internet Yang sehat, Anak adalah kebanyakan korban dari kejahatan internet, Dampak buruk dari internet ini sendiri bisa merubah psikologis anak, anak belum bisa menentukan baik buruknya suatu aktifitas yang berada di sekitarnya termasuk kejahatan internet itu sendiri. Narasumber kedua selesai memaparkan materi pukul 14.58.

Materi selanjutnya disampaikan oleh narasumber ketiga yaitu Sugito, S.Kom. pada pukul 14.01. Beliau selaku Guru TIK SMAN 4 Bagan Sinembah Rokan Hilir. Materi yang disampaikan adalah “Mari Berbahasa yang Benar dan Beretika di Ruang Digital”.

SUMMARY: 

Pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 ini mencapai 202,6 juta jiwa. Jumlah ini meningkat 15,5 persen atau 27 juta jiwa jika dibandingkan pada Januari 2020 lalu. Total jumlah penduduk Indonesia sendiri saat ini adalah 274,9 juta jiwa.       Kebhinekaan yang menyatukan kita dengan jumlah penduduk yang begitu banyak, pasti akan memiliki pola & perilaku yang beranekaragam Perbedaan bukan halangan kita untuk bersatu.

Efek dari Hoax Hoax mendorong kearah kebohongan, Bohong akan terus terulang, Media kalah dengan opini pribadi, Kebenaran menjadi Relativ, Pelanggaran UU ITE, Perhatikan juga sebelum membagikan berita, dimana membagikan dan tidak membagikan berita sebenarnya tidak ada anjuran khusus kepada kita, kecuali kepada pihak-pihak, atau instansi tertentu yang memiliki wewenang.

Bersikap netral & tidak memihak Tidak menunjukan kecondongan kepada salah satu pihak, karena akan menimbulkan kecemburuan terhadap pihak lain, Komunikasi tidak menyinggung Saat memberikan komentar, perhatikan bahasa yang digunakan, Jika komentar, pastikan baca dan/atau tonton hingga akhir

Cara berperilaku siswa dalam belajar online adalah Cara berperilaku dan bersikap dari setiap peserta akan mencerminkan kesiapan dalam pelaksanaan.

1. Tahap Persiapan

  • Kedisiplinan

  • Menggunakan pakaian yang pantas, sopan dan bersih

  • Menggunakan format Nama Asli

  • Memilih tempat/background yang layak

  • Posisi duduk yg nyaman

  • Menyiapkan Alat Tulis

2. Tahap Pelaksanaan

  • Tutur kata yang Baik dan Sopan

  • Penampilan yang Rapi & Bersih

  • Gerture tidak Berlebihan

  • tidak sambil makan dan minum atau aktivitas lain-lain.

  • Menyalakan camera video

  • Memastikan mute speaker suara

  • Mencatat hal penting atau pertanyaan

Etika bermedia terbagi menjadi tiga, etika komunikasi bermedia sosial dalam konteks “waktu”. Hal ini dapat dilihat dari berbagai cerita dan pengalaman dalam menggunakan media sosial. Ada yang merasa tersinggung. Kedua, etika komunikasi bermedia sosial dalam konteks “isi pesan”. sebagai pengguna media sosial, kita juga perlu memerhatikan perasaan orang lain, karena pesan ini berisikan hal penting yang akan menjadi topik pembicaraan utama yang disampaikan  melalui media sosial. Ketiga, etika komunikasi bermedia sosial dalam konteks “komunikan”. Artinya para pengguna media juga perlu memerhatikan siapa saja yang menjadi  komunikannya, hal ini sebagai upaya untuk menghindari terjadinya konflik.

Komunikasi yang dilakukan dalam media sosial tidak selalu memakai bahasa yang baku, atau bahasa yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia, ini menyebabkan banyaknya pengguna media sosial ini mengabaikan aspek nilai, norma dan etika berkomunikasi. Hal ini memungkinkan friksi yang mungkin terjadi diantara pengguna media sosial sebagai aplikasi chat baik personal maupun kelompok yang menghasilkan sebuah komunikasi yang tidak efektif. Etika komunikasi tidak hanya berkaitan dengan tutur kata yang baik tetapi juga berangkat dari niat yang tulus yang diekspresikan dari ketenangan, kesabaran dan empati kita dalam berkomunikasi.

Etika bermedia digital yang harus diperhatikan adalah menghargai orang lain, menggunakan bahasa yang baik dan benar sehingga tidak menimbulkan resiko kesalahpahaman, dan sangat tidak disarankan untuk mengunggah apapun yang bersifat informasi pribadi. Materi oleh narasumber ketiga selesai pada pukul 15.14 WIB.

Materi keempat disampaikan oleh May Hastuti Lubis, M.Pd. Beliau selaku Dosen PGSD STKIP Adzkia. Pemaparan dimulai pada pukul 15.16. Materi yang disampaikan oleh narasumber keempat berjudul “Guru Biologi SMA Negeri 4 Bangka Pusaka Rokan Hilir”.

SUMMARY: 

Budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “buddhayah” yang diartikan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan budi dan akal manusia. Digital berarti Jari Jemari dan biasanya mengacu pada sesuatu yang menggunakan angka.

Gerakan Budaya literasi digital ini sangat penting dilaksanakan di sekolah. Kolaborasi antara guru dan Peserta Didik juga sangat dibutuhkan untuk mengintegrasikan keterampilan literasi digital. Guru, sebagai pendidik yang memiliki jalur utama dalam berkomunikasi dengan peserta didik di sekolah, dapat mengajarkan keterampilan literasi digital dalam proses pembelajaran.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat,  dan berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Ex: insfratruktur dan konten. Pendidikan yang berkualitas akan tercermin dalam pribadi peserta didik yang berkualitas lewat perubahan sikap, prilaku, perbuatan, beradap dan berbudaya, Tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional. 

188 Negara di dunia menutup sekolah dan Belajar Dari Rumah (Pembelajaran Jarak Jauh/PJJ) adalah sebuah solusi, PENGGUNA INTERNET BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN: SD= 25,10%  SMP= 48,53%    SMA= 70,54%    S1= 79,23%    S2 & S3 = 88%, adapun kendala nya yaitu apabila sekolah adalah Keterlambatan dalam penanganan perbaikan fasilitas sekolah, masih paperbased, jejaring belum online dengan mitra DUDI, sarana PJJ belum tersedia, kalau siswa Capaian belajar rendah karena tidak mempunyai akses ke pembelajaran daring/elektronik, bila perihal orang tua tidak semua orangtua bisa membimbing dan mengajar, tidak punya/tidak tersedia sarana pembelajaran elektronik, tidak mampu menggunakannya. Dan terakhir guru adalah tidak tersedia sarana mengajar secara elektronik, belum siap dengan metode dan materi digital untuk disampaikan kepada siswa.

Di era revolusi industry 4.0 kita harus bias memanfaatkan Kecanggihan teknologi di bidang segala hal telah merubah sistem dan pola berkomunikasi antar manusia dan tentunya Komunikasi dengan pihak sekolah, mengirim tugas sekolah melalui email atau aplikasi perpesanan, pembelajaran dengan cara online, mencari bahan ajar dari sumber terpercaya di internet, dan menggunakan laptop atau gawai untuk mengerjakan tugas.

Pembelajaran daring menjadi tantangan bagi tenaga pendidik, peserta didik serta orang tua, kita harus Memanfaatkan teknologi    untuk mempermudah proses belajar dan mengajar, dan memanfaatkan platform  seperti: e-learning, Google Classroom,   Edmodo, Modle, bahkan Zoom  meeting dan Google Meet. Materi keempat selesai dipaparkan pada pukul 15.39 WIB.

Setelah sesi pemaparan materi bersama para narasumber selesai, moderator beralih ke sesi tanya jawab dan diskusi antara penanya dan narasumber. Ada sepuluh penanya yang sudah terpilih dan berhak mendapatkan hadiah voucher e-money sebesar 100 ribu rupiah.

 

  1. Muchammad Jauhari memberikan pertanyaan kepada Resista Vikaliana, S.Si,. M.M.

Q : Bagaimana tanggapan ibu ttg pengajar yg membuat applikasi game, namun misi2 dalam game tsb adalah pelajaran yg di didiknya. Tentu sangat kreatif sekali membuat pelajar tertarik setiap pelajaran si pengajar ini. Namun disisi lain para siswa semangat karena menganggap ini adalah bermain game?

A : dari pengamatan saya, games itu adalah variasi dalam pembelajaran, terkadang dalam untuk beberapa materi dengan games kita bisa lebih mudah untuk menangkap pelajaran, jadi perlu di amati dari kelas yang kita ajar, dan harus  melihat situasi dan kondisi yang tepat, dan yang harus di garis bawahi metode ini tidak bisa diterapkan secara terus- menerus.


 

  1. Bonnie Triyana memberikan pertanyaan kepada Meida Rachmawati, S.E ,. M.M,. M.H.

Q : Bagaimana langkah awal mengajarkan internet sehat kepada orang tua atau anak kecil yang masih awam dalam hal internet?

A : mengedukasi anak – anak / remaja lebih mudah dari pada mengedukasi orang tua, karena terkadang untuk orang tua kebanyakan ingin hal-hal yang mudah di mengerti dan tidak mau belajar, terlebih mereka menganggap digurui oleh mereka, dan hal ini tidak mustahil, ketika kita konsisten dan kreatif dalam menyampaikan hal-hal terkait dunia digital. 

 

  1. Najib Saputra memberikan pertanyaan kepada Sugito, S.Kom.

Q : Bagaimana dengan parameter etika digital didalam membuat konten. Saya memperhatikan akhir-akhir ini adanya konten negative seperti ujangan kebencian, dalam hal ini bagaimana pandangan narasumber?

A : Kebebasan yang kita lakukan di dunia internet justru bias menjadi pisau bermata dua, kita harus memahami etika dan tata norma, dimana negara kita adalah berasaskan Pancasila, cara kita mensiasati agar konten kita baik adalah saling memberikan pemahaman kepada para kerabat kita agar beretika digital dengan baik dan benar, serta menyaring sebelum di sharing. 

 

  1. Desi Siregar memberikan pertanyaan kepada Sry Apfani, M.Pd.

Q : Bagaimana menyikapi pendapat orang yang menjatuhkan atau menyudutkan suku/ agama tertentu di media digital ya pak? karna seringkali berujung saling ejek dan menjadikan ruang berpendapat tidak lagi nyaman untuk orang lain yang tadinya hanya ingin berdiskusi?

A : Indonesia adalah negara yang beraneka ragam, dimana kita harus saling menghargai, kita harus menyaring informasi dan ketika kita menyebarkan berita harus bertanggung jawab atas apa yang kita unggah, begitulah hal bijak dalam ber digital.

 

Sesi tanya jawab selesai pada pukul 15.56. Moderator kembali memanggil Key Opinion Leader, @queenpopi. Moderator bertanya kepada Key Opinion Leader seputar pengalaman yang dialami dalam menggunakan aplikasi dan pengguna aktif media sosial.

@queenpopi: kita harus bisa kontrol diri ketika search dan berselancar di internet, kita perlu menyiapkan beberapa hal sebelum ikut pembelajaran online, menyiapkan catatan, pulpen setiap mau ikut webinar, dan hasil webinar juga biasanya dibagikan buat orang lain agar bisa bermanfaat lalu kita harus selalu produktif ketika memiliki hobby kita bisa share di media sosial seperti memasak, make up, dan traveling. Konsisten dan lakukan kegiatan dengan sepenuh hati selagi konten itu positif dan tidak merugikan orang banyak. 

Setelah berbincang-bincang dengan Key Opinion Leader selesai, moderator memberikan kesimpulan dari pemaparan materi-materi webinar sesi siang ini. Moderator mengucapkan terima kasih kepada keempat narasumber, Key Opinion Leader, dan seluruh peserta webinar pada sore ini. Pukul 16.10 webinar literasi digital hari ini selesai, moderator menutup webinar ini dengan mengucapkan salam, terima kasih dan tagline Salam Literasi Indonesia Cakap Digital. 

Salam Literasi, Indonesia Makin Cakap Digital!