Kadisbud Optimistis Riau Jadi Pusat Kebudayaan Melayu di Asia Tenggara pada 2020

Kadisbud Optimistis Riau Jadi Pusat Kebudayaan Melayu di Asia Tenggara pada 2020
RIAUMANDIRI.CO, PEKANBARU - Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Provinsi Riau, Yoserizal Zein, optimistis Riau akan menjadi pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara pada 2020. Ini sejalan dengan Visi Riau 2020, yang akan menjadikan daerah ini sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara pada tahun itu.
 
Kendati Dinas Kebudayaan Riau baru efektif dioperasionalkan sejak setahun belakangan, menurut mantan Kepala Biro Humas Setdaprov Riau itu, sejumlah program yang dijalankan oleh dinas yang ia pimpin diyakini akan mampu melakukan percepatan untuk perwujudan Visi Riau 2020 di bidang kebudayaan tersebut.
 
''Terus terang, sejumlah pembangunan di bidang kebudayaan yang kita lakukan setahun belakangan memberikan harapan yang menggembirakan,'' ujar Yoserizal, sambil menambahkan, keberhasilan pembangunan di bidang kebudayaan tidak seperti keberhasilan di bidang fisik dengan parameter yang terukur, ''Keberhasilan pembangunan di  bidang kebudayaan terletak atas adanya pengakuan,'' terangnya.
 
''Alhamdulillah, sejumlah program yang kita lakukan telah mendapat pengakuan dari institusi yang memiliki kompetensi tentang itu,'' ujarnya, Jumat (4/5/2018). Antara lain, jelas pria yang akrab dipanggil dengan Yose ini, karya budaya Provinsi Riau yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tidak benda (WBTB).
 
Dijelaskan, dari 16 karya budaya Riau yang termasuk kategori WBTB, sebanyak 10 di antaranya sudah diakui sebagai WBTB, dan enam lainnya telah mengantongi sertifikat. Ke-10 warisan budaya yang termasuk kategori WBTB tersebut, meliputi Tunjuk Ajar Melayu, Sijobang Buwong Gasiang, Zapin Api, Zapin Meskom, Manongkah, Perahu Baganduang, Batobo, Rumah Lontiok, Silat Perisai, dan Onduo Rokan.
 
Sementara untuk karya budaya Provinsi Riau yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya benda (WBB), menurut Yose, meliputi Balai Kerapatan Tinggi, Makam Sultan Syarif Kasim II, Masjid Raya Syahbuddin, Tangsi Belanda, Gedung Controlleur, Bangunan Landraad, dan Makam Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah. ''Ke semuanya berlokasi di Kabupaten Siak,'' jelas Yose.
 
Saat ini, imbuh Yose, pihaknya juga tengah mengupayakan pantun didaftarkan di Unesco --badan PBB yang mengurusi pendidikan-- untuk menjadi warisan budaya dunia, seperti tahun sebelumnya atas nama Perahu Phinisi. 
 
Pengakuan lain yang diterima Riau di bidang kebudayaan, imbuh Yose, yaitu sebagai pusat pelestarian dan pengembangan tari zapin. ''Karena sudah ditetapkan sebagai pusat pelestarian dan pengembangan tari zapin, tugas kita adalah untuk menjaga, memelihara, dan merawat jenis kebudayaan yang satu ini sehingga tetap tumbuh dan berkembang,'' ia mengatakan.
 
Tak cuma tari zapin, diungkapkan mantan wartawan itu, jenis-jenis kebudayaan lain yang berasal, tumbuh, dan berkembang di Riau juga menuntut untuk upaya melestarikan dan mengembangkan agar tetap eksis. ''Agar tidak terjadi apa yang disebut dengan bencana budaya,'' katanya.
 
Bencana budaya, papar Yose, yaitu hilangnya sejumlah tradisi yang berasal dari satu akar budaya tertentu karena tidak ada upaya-upaya untuk melestarikannya, yang kemudian digantikan oleh tradisi yang berasal dari akar budaya lain, yang pada beberapa kasus bisa saja bertentangan dengan norma dan nilai-nilai yang dianut secara teguh oleh masyarakat.
 
Diperlukan 79 Lagi
 
Merujuk ''Buku Refleksi dan Capaian Pembangunan Riau'' yang diterbitkan Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Riau, juga membukukan sejumlah kemajuan pembangunan bidang kebudayaan di daerah ini. 
 
Untuk jumlah seni budaya Melayu yang dihasilkan, kalau pada 2014 masih tercatat pada angka 0, pada 2015, 2016, dan 2017 naik menjadi masing-masing 21. Sementara untuk 2018 diproyeksikan menjadi 60, dan meningkat lagi menjadi 100 di 2019.
 
''Tahun 2015 ada 21 karya seni dari Riau yang di-HAKI-kan,'' jelas Kepala Bappeda Provinsi Riau, Rahmad Rahim. Itu artinya, jelas Rahmad, diperlukan 79 karya seni Riau lagi yang harus di-HAKI-kan untuk mengejar target di 2019. ''Makanya, untuk mencapai target 2019, membutuhkan kerja keras.''
 
Pada bagian lain, jelas Rahmad, jumlah sekolah di Riau yang menerapkan kurikulum berbasis budaya Melayu sesuai standar, juga mengalami peningkatan yang signifikan. Kalau pada tahun 2014, 2015, dan 2016 masih bertengger pada angka 0, sedangkan pada tahun 2017 melonjak menjadi 507 sekolah. Sedangkan di 2018 ditargetkan sebanyak 150, dan di 2019 sebanyak 300 sekolah.
 
''Meskipun realisasi di tahun 2014 sampai 2016 nol, tapi realisasi di tahun 2017 mengalami peningkatan yang signifkan, dari nol menjadi 507 sehingga lebih tinggi 69 persen dibandingkan dengan target tahun 2019,'' terang mantan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Riau itu. (rls)