Surat tak Resmi untuk Prof Zulfadil

Surat tak Resmi untuk Prof Zulfadil

Mengintip wall di akun Facebook  Zulfadil II (Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru) adalah kebiasaan baru Saya di  'musim' kabut asap yang baru saja berakhir (mudah-mudahan tidak muncul lagi Ya Allah).

Maaf ya Prof, Saya (dan juga banyak orangtua murid lainnya) terpaksa ngintip karena kita tidak berteman di Facebook. Sementara informasi tentang proses belajar mengajar (PBM) selama 'musim' kabut asap, bergalau. Dalam hitungan jam kebijakan dari Prof selaku pembuat keputusan bisa berubah. Dan ironisnya tidak semua sekolah punya kebijakan menyampaikan informasi kepada murid/walinya. Ya gitu lah, Kami orangtuanya harus cari tahu sendiri info dari sumber yang terpercaya.

Alhamdulillah, sudah sejak Rabu tanggal 28 Oktober 2015, PBM di Kota Pekanbaru lancar car car car. Kebiasaan ngintip dinding FB Pak Kadis pun otomatis terhenti.

Tapi kemarin pagi, Saya  ngintip lagi. Saya penasaran, apa betul (seperti yang disebutkan beberapa orangtua/walimurid) ada postingan Pak Kadis tentang 'Ditiadakannya Ujian Mid untuk Semua Tingkatan' sehubungan banyak libur selama kabut asap. Karena sekolah dasar dan setingkatnya di Kota Bertuah tetap menggelar ujian mid. Ternyata tidak ada postingan tentang itu.

Tidak ada masalah memang dengan tetap digelarnya ujian mid. Hanya saja, dari keluhan anak-anak, ada soal yang diambil dari materi yang belum mereka pelajari.
Duh!

Meski tak menemukan yang dicari di FB Prof Zulkadil, tapi ada yang menarik perhatian Saya, yakni postingan dari Yogi Saputra. Ini yang di-posting-nya:     

"Belajar dari jam 7 - jam 3...
Kalo ada Les jam 4 - jam 6...
Belajar di rumah jam 7 - jam 9...
Istirahat dari jam 9 - jam 5...
Dan terus berulang...
Hari libur dipake buat ngerjain tugas.. Dan kerja kelompok..
Otak kami tak kuat,..
Bagaimana menteri pendidikan..
Mereka hanya bikin kurikulum buat kita para siswa,..
Tapi mereka ga melaksanakannya...
14 mata pelajaran + minat..
Pelajaran sebanyak itu ga semuanya digunakan di kehidupan sehari hari..
Saya lelah, kita lelah....
Dari siswa untuk siswa demi siswa... Terpelajar.."

Saya tak tahu, apakah postingan berupa curahan hati itu adalah tulisan Yogi Saputra sendiri atau kutipan. Tapi yang pasti tak sedikit murid mengungkapkan keluhan senada. Intinya, mereka capek dengan rutinitas belajar dan kekurangan  waktu istirahat dan bermain (kecuali selama kabut asap kemarin, libur hampir dua bulan!). Kasihan! Sama kasihannya ketika kita melihat murid SD memikul ransel penuh buku di punggung mereka plus tas tenteng yang juga berisi buku.  

Untuk diketahui, sebuah studi 2010 dari University of California, San Diego menyimpulkan, beban tas  punggung menyebabkan nyeri punggung pada anak-anak. Studi yang sama mengatakan sepertiga anak usia 11 sampai 14 melaporkan nyeri punggung.  Anak-anak mengeluh, punggung, leher dan bahu sakit. Tas ransel berat juga menyebabkan sakit kepala dan sulit konsentrasi di sekolah. (dikutip dari kompas.com). Duh!.***