Pemadaman Bergilir 3 Kali Sehari

PLN Riau Dilaporkan ke Menko Polhukam

PLN Riau Dilaporkan  ke Menko Polhukam

PEKANBARU (HR)-Kebijakan manajemen PT PLN Wilayah Riau Kepulauan Riau yang memberlakukan pemadaman bergilir sejak sebulan belakangan, banyak dikeluhkan masyarakat. Bahkan sejak beberapa hari belakangan, pemadaman bergilir semakin menuai protes, karena pemadaman bertambah menjadi tiga kali sehari, dengan durasi sekitar dua jam.
Kondisi ini juga menjadi perhatian Plt Gubri, Arsyadjuliandi Rachman. Ia juga mengakui telah melaporkan sikap manajemen PT PLN Wilayah Riau Kepri tersebut kepada Menko Polhukam RI.

PLN
Hal itu disampaikannya dalam rapat koordinasi bersama Menkopolhukam RI dan beberapa Kementerian terkait di Jakarta, pekan lalu.

Pasalnya, pemadaman bergilir tersebut dinilai menambah penderitaan masyarakat Riau, yang saat ini masih harus berseteru dengan kabut asap. Menurut Plt Gubri, harus ada solusi untuk meringankan penderitaan masyarakat tersebut.

"Seharusnya PLN mempertimbangkan supaya tidak lagi melakukan pemadaman listrik secara terus menerus. Apa pun kondisi yang terjadi di lapangan," ujar Plt Gubri, Senin (26/10).

Pihaknya juga meminta manajemen PT PLN menyiapkan langkah strategis sebagai alternatif agar tidak terjadi lagi pemadaman yang terlalu sering. PLN jangan lagi menunggu, namun harus sejak saat ini. Apalagi mengingat pemadaman bergilir tersebut bukanlah hal yang baru lagi. Dengan pengalaman sekian lama, Seharusnya PLN sudah bisa mengantisipasinya.

"Ya, tentunya pemadaman bergilir di tengah bencana asap seperti sekarang hanya akan menambah penderitaan masyarakat. Kita sudah sampaikan kepada pemerintah pusat supaya dapat mencarikan solusi atas permasalahan ini," tegasnya.

Untuk menghindari kabut asap yang semakin tebal, khususnya di dalam rumah, pemerintah mengimbau masyarakat menghidupkan AC atau kipas angin. Namun jika listrik padam, tentu saja hal ini tidak bisa dilakukan.

Kesal
Terkait pemadaman bergilir itu, Ani, warga Kota Pekanbaru mengaku kesal. Selain membuat situasi menjadi tak nyaman, masa pemadaman juga tak teratur.

"Kalau kipas angin tak hidup, kita terpaksa mengirup asap dalam rumah. Masa hal ini tidak diperhatikan. Itu sama saja ikut membunuh masyarakat," ujarnya.

Komentar senada juga dilontarkan Dedi, warga Rumbai. "Kalau mati lampu, saya itu seperti dalam awan putih, asap saja yang ada dalam kamar. Bagaimana lagi kita mau hidup tenang di Pekanbaru ni," ujarnya.

Butuh 80 MW

Terkait hal itu, Manajer SDM dan Umum PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau (WRKR) Dwi Suryo Abdullah, mengungkapkan, Provinsi Riau saat ini mengalami defisit listrik sebesar 80 megawatt. Untuk memenuhi kekurangan itu, PLN Riau mendapatkan pasokan listrik dari pembangkit wilayah Sumatera Selatan dan Sumatera Utara. Akibat defisit listrik ini PLN melakukan pemadaman bergilir selama 2 jam dalam sekali waktu.

Dikatakan, pembangkit listrik yang ada di Riau hanya mampu menghasilkan energi sebesar 316 megawatt.

“Kalau total kapasitas di Riau ada sekitar 460,5 megawatt, tetapi karena sekarang musim kemarau, jadi daya yang dihasilkan tidak maksimal, sementara beban puncak Riau itu sebesar 520 megawatt dengan beban rata-rata tiap hari 470 megawatt,” katanya.

Dwi mengatakan kondisi ini membuat pelayanan listrik kepada pelanggan tidak bisa maksimal sehingga perlu dilaksanakan manajemen beban atau melakukan pemadaman listrik bergilir yang dilakukan dalam beberapa waktu terakhir.Ini karena kurangnya tinggi air di waduk PLTA Koto Panjang akibat kemarau berkepanjangan.

“Kami menghadapi kondisi begini yang membuat pasokan listrik menurun, solusi jangka menengah dan panjang yang kami sedang lakukan yaitu menggesa operasional PLTU Tenayan Raya yang saat ini sudah hampir selesai, kira-kira 90 persen lah,” katanya. (nur, nie)