Hamas Inginkan Rusia Jadi Mediator

Hamas Inginkan Rusia Jadi Mediator

Riaumandiri.co - Kelompok Hamas mengatakan, Rusia dapat memainkan peran kunci dalam mengakhiri perang dengan Israel. Moskow sebelumnya telah secara terbuka menyatakan bersedia membantu Israel-Palestina.

“Gerakan Hamas memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap Rusia dan presidennya, Vladimir Putin. Jadi kami akan menyambut baik mediasi Rusia dalam menyelesaikan konflik ini,” kata Ali Baraka yang menjabat sebagai kepala hubungan eksternal Hamas, dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Rusia, TASS, Ahad (15/10).

“Kami berminat untuk mengakhiri penderitaan warga sipil yang disebabkan oleh pemboman Israel dan blokade brutal di Jalur Gaza, sesegera mungkin,” tambah Baraka.


Baraka mengungkapkan, saat ini Hamas terus melakukan kontak dengan Moskow. “Kami siap untuk kemungkinan pertemuan dengan diplomat Rusia di salah satu negara Arab dan kami menyambut baik upaya mereka,” ujarnya.

Dia mengatakan, Hamas menghargai sikap Vladimir Putin terkait perkembangan eskalasi terbaru di Jalur Gaza.  “Kami mengikuti pernyataan pemimpin Rusia yang menilai perkembangan regional. Bagi Palestina, suara Rusia dalam pembelaan mereka dan tuntutan Moskow untuk menghentikan agresi, mencabut blokade di Jalur Gaza dan melanjutkan pengiriman bantuan kemanusiaan sangatlah penting,” ucapnya.

Saat berbicara di forum Russian Energy Week di Moskow pada Rabu (11/10) lalu, Putin mengatakan, isu Palestina ada di hati umat Islam. Mengingat persoalan Israel-Palestina telah berlangsung beberapa dekade dan saat ini tengah berlangsung pergolakan, Putin menyebut Rusia dapat memberikan kontribusi dalam upaya penyelesaian konflik.

“Isu Palestina ada di hati setiap orang di kawasan ini. Ya, saya yakin bahwa di hati setiap orang yang memeluk Islam. Segala sesuatu yang terjadi, tidak hanya sekarang, tapi selama beberapa dekade, dianggap sebagai manifestasi ketidakadilan yang mencapai tingkat yang tidak terbayangkan,” kata Putin, dikutip Anadolu Agency.

Dia menjelaskan, gagasan awal untuk Israel dan Palestina adalah mendirikan dua negara berdaulat yang merdeka. Namun keputusan tersebut hanya dilaksanakan sebagian. Putin pun mengakui bahwa Israel telah merenggut tanah milik Palestina.

“Selain itu, sebagian dari tanah yang selama ini dianggap oleh warga Palestina sebagai milik asli Palestina, diambil alih oleh Israel, pada waktu yang berbeda dan dengan cara yang berbeda. Namun sebagian besar, tentu saja, dengan bantuan kekuatan militer,” ucap Putin.

Putin pun menyampaikan bahwa dapat memberikan kontribusi dalam upaya penyelesaian konflik Israel-Palestina. "Kami memiliki hubungan ekonomi yang sangat stabil dengan Israel. Kami telah menjalin hubungan persahabatan dengan Palestina selama beberapa dekade. Teman-teman kami mengetahui hal ini. Menurut pendapat saya, Rusia juga dapat berkontribusi dalam proses penyelesaian masalah ini," ujarnya.