Webinar Literasi Digital: Menjadi Mahasiswa Produktif di Dunia Digital

Sabtu, 03 Juli 2021 - 19:21 WIB

RIAUMANDIRI.CO, PEKANBARU - Muhamad Arif Rahmat, S.H.I. menyampaikan bahwa beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang konsumen kita untuk membuat persona, yaitu biodata (jenis kelamin, usia, pendidikan, status keluarga), pekerjaan (jabatan, penghasilan, pekerjaan sampingan), hobi (minat aktivitasnya, rutinitas, perilaku sehari-harinya), dan solusi (apa yang bisa kita tawarkan untuk membantunya). Konten yang dibuat selalu disesuaikan dengan target market yang diinginkan.

Inna Dinovita, S.T.P. menyampaikan bahwa risiko datang dari mana saja, yaitu dari awam atau pemula, orang asing, orang yang kita kenal. Bahkan, penyerang juga menyerang dengan motif keuangan. Cara untuk terhindar dari kejahatan siber ini, yaitu ketahui aset kita yang terhubung ke jaringan internet, batasi akses, perbarui pertahanan kita dengan selalu memperbarui sistem perangkat dan data kita, periksa kekuatan password kita, aktifkan autentikasi dua faktor (2FA), jangan pernah memberikan kode one time password (OTP), dan jangan menggunakan WiFi publik. Agar aman bertransaksi online di situs, carilah situs yang terdapat gambar gembok.

Dr. Erlin, S.Kom., M.Kom. menyampaikan bahwa sepuluh netiket dalam berinteraksi di dunia maya, yaitu ingatlah keberadaan orang lain, taat kepada standar perilaku online yang sama kita jalani dalam kehidupan nyata, berpikir lebih dulu sebelum berkomentar, hormati waktu dan bandwidth orang lain, gunakan bahasa yang sopan dan santun, bagilah ilmu dan keahlian, menjadi pembawa damai dalam diskusi yang sehat, hormati privasi orang lain, jangan menyalahgunakan kekuasaan, dan maafkan jika orang lain membuat kesalahan.

Prof. Dr. Teddy Chandra, S.E., M.M. menyampaikan hal positif dari adanya kuliah online, yaitu di mana dosen lebih inovatif dalam membuat materi. Dosen dan mahasiswa juga bisa lebih melek teknologi. Mereka mau tidak mau harus beradaptasi dengan hal itu. Selain itu, revolusi industri teknologi semakin cepat diterapkan di dunia maupun Indonesia di masa pandemi ini. Pendidikan harus dipaksa supaya bisa menjawab kebutuhan industri ini. Perguruan tinggi harus terus berinovasi. Pendidikan online harus tetap dijalankan dan dilegalkan oleh pemerintah.

Della Dwi Oktarina menyampaikan bahwa mahasiswa dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi digital dan dituntut untuk peka akan peluang bisnis digital. Untuk melahirkan konten yang positif dan produktif, kita juga harus mengimbanginya dengan etika. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang sopan dan santun. Alangkah baiknya kita membawa budaya santun itu ke era digital. 

 

Eva Malinda memberikan pertanyaan kepada Muhamad Arif Rahmat, S.H.I.

Q : Apa saja yang perlu diperhatikan dan dilakukan agar dapat memulai bisnis online?

A : Pertama, temukan alasan mengapa harus membeli produk kita. Kedua, temukan alasan mengapa mereka harus percaya dengan kita (misal, memiliki sertifikat halal). Ketiga, temukan alasan mengapa pembeli harus membeli sekarang.


 

Kegiatan webinar literasi digital pada Sabtu, 3 Juli 2021, pukul 14.00 WIB, dengan tema “Menjadi Mahasiswa Produktif di Era Digital” dibuka oleh moderator Yusuf Ardabili. Moderator memberikan reminding untuk para hadirin dalam 5 menit sebelum acara dimulai. Kemudian moderator membuka rangkaian kegiatan webinar ini dengan mengucap salam dan membawakan tagline Salam Literasi Digital Indonesia Makin Cakap Digital, serta mengingatkan para hadirin untuk selalu menjaga protokol kesehatan, menjaga jarak, mencuci tangan dan selalu memakai masker. 

Rangkaian acara pertama yaitu pemutaran lagu Indonesia Raya. Setelah itu dilanjutkan kembali oleh moderator untuk mempersilahkan sambutan dari Dirjen Aplikasi dan Informatika KEMENKOMINFO, Samuel A. Pangarepan. Kemudian, moderator menyapa Key Opinion Leader yaitu Della Oktarina, yang merupakan @sayadietkantongplastik, aktifis, Kartini Milenial Award 2020, dan cabin crew. Kemudian, moderator membuka acara dengan membacakan tata tertib bagi para peserta kegiatan webinar ini. 

Setelah itu moderator menyapa dan mempersilahkan moderator pertama, Muhamad Arif Rahmat, S.H.I. Beliau merupakan Certified Life Coach, yang menyampaikan tentang bagaimana mengenal usaha di bidang digital. Fase perkembangan ekonomi di era konseptual saat ini, di mana orang yang memiliki keunikan dan nilai tambah, ia yang akan menang. Bisnis digital bisa dilakukan oleh siapa saja, bisa dilakukan di mana saja, dan bisa dimulai dengan modal berapa saja. Potensi pasarnya lebih luas dan peluang keuntungannya lebih besar. Usaha di dunia digital bisa menjual produk atau jasa apapun, baik fisik maupun digital, dengan system, stokist, affiliate, reseller, maupun dropship. Kunci dari membuat toko online di website, bagaimana website kita bisa ditemukan oleh mesin pencari. 

Tiga kunci bisnis online, yaitu traffic, conversion, dan engagement. Marketing konvensional, kita membuat produk terlebih dahulu, baru kita berjualan. Sedangkan digital marketing, kita menganalisa target market terlebih dahulu, baru kita membuat produknya. Kita mencari konsumen untuk produk kita. Beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang konsumen kita untuk membuat persona, yaitu biodata (jenis kelamin, usia, pendidikan, status keluarga), pekerjaan (jabatan, penghasilan, pekerjaan sampingan), hobi (minat aktivitasnya, rutinitas, perilaku sehari-harinya), dan solusi (apa yang bisa kita tawarkan untuk membantunya). Konten yang dibuat selalu disesuaikan dengan target market yang diinginkan.

Setelah itu, moderator beralih ke narasumber kedua, Inna Dinovita, S.T.P. Beliau merupakan seorang owner Saesha Cantika Indonesia, yang menyampaikan tentang keamanan transaksi online. Digital payment merupakan sistem pembayaran menggunakan media elektronik atau teknologi digital. Keuntungan dari transaksi online, yaitu aman, fleksibel, cepat, mudah, hemat tenaga, dan tersedua berbagai fitur menarik. Jenis-jenis sistem transaksi digital, yaitu sms banking, m-banking, internet banking, dan e-money (uang elektronik berbasis chip dan aplikasi). Keamanan siber adalah keamanan informasi yang terkait gawai dan jaringan di dalamnya. Risiko siber adalah risiko kerugian bisnis yang terkait dengan sistem teknologi. Risiko ini dapat berupa kerugian keuangan, gangguan operasional, masalah hukum dan tanggung jawab, atau rusaknya reputasi usaha. 

Risiko datang dari mana saja, yaitu dari awam atau pemula, orang asing, orang yang kita kenal. Bahkan, penyerang juga menyerang dengan motif keuangan. Cara untuk terhindar dari kejahatan siber ini, yaitu ketahui aset kita yang terhubung ke jaringan internet, batasi akses, perbarui pertahanan kita dengan selalu memperbarui sistem perangkat dan data kita, periksa kekuatan password kita, aktifkan autentikasi dua faktor (2FA), jangan pernah memberikan kode one time password (OTP), dan jangan menggunakan WiFi publik. Agar aman bertransaksi online di situs, carilah situs yang terdapat gambar gembok.

Setelah narasumber ketiga selesai memaparkan materinya, moderator mempersilahkan narasumber ketiga,  Dr. Erlin, S.Kom., M.Kom. Beliau merupakan Dosen Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia, yang membicarakan tentang bagaimana etis bermedia sosial, hoaks, dan ujaran kebencian. Etika digital adalah kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata Kelola etika digital (netiquette) dalam kehidupan sehari-hari. Dalam beretika digital, kita gunakan aturan emas. Kalau ingin dihargai, maka kita harus menghargai orang lain. Di dunia digital juga berlaku hubungan timbal balik seperti itu. Kita harus merangkul penggunaan teknologi baru yang positif dan memblokir penggunaan yang tidak diinginkan. Karena selalu ada konsekuensi yang tidak diinginkan seperti hal negatif. Kita harus melatih disiplin dan pengendalian diri dalam menggunakan teknologi.

Hoaks adalah informasi atau berita bohong, yang memang sengaja disesatkan dan sengaja diperjualbelikan. Bahkan untuk menipu dan mengakali pembaca untuk percaya. Isu hoaks yang paling sering tersebar adalah isu sosial politik melalui media sosial. Cara mengatasi berita hoaks, yaitu cek keaslian foto, hati-hati dengan judul provokatif, cermati alamat situs, periksa fakta, ikut serta grup diskusi anti-hoaks, dan laporkan indikasi hoaks. Sepuluh netiket dalam berinteraksi di dunia maya, yaitu ingatlah keberadaan orang lain, taat kepada standar perilaku online yang sama kita jalani dalam kehidupan nyata, berpikir lebih dulu sebelum berkomentar, hormati waktu dan bandwidth orang lain, gunakan bahasa yang sopan dan santun, bagilah ilmu dan keahlian, menjadi pembawa damai dalam diskusi yang sehat, hormati privasi orang lain, jangan menyalahgunakan kekuasaan, dan maafkan jika orang lain membuat kesalahan.

Kemudian, moderator mempersilahkan narasumber terakhir, Prof. Dr. Teddy Chandra, S.E., M.M. Beliau merupakan Wakil Rektor I Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia, yang membicarakan tentang budaya digital bagi dosen dan mahasiswa di era pandemi Covid. Kita harus membiasakan dosen dan mahasiswa agar terbiasa bertatap muka secara online. Satu hal positif dari adanya kuliah online, yaitu di mana dosen lebih inovatif dalam membuat materi. Dosen dan mahasiswa juga bisa lebih melek teknologi. Mereka mau tidak mau harus beradaptasi dengan hal itu. Selain itu, revolusi industri teknologi semakin cepat diterapkan di dunia maupun Indonesia di masa pandemi ini. Pendidikan harus dipaksa supaya bisa menjawab kebutuhan industri ini. Perguruan tinggi harus terus berinovasi. Pendidikan online harus tetap dijalankan dan dilegalkan oleh pemerintah.

Kemudian, moderator menutup sesi pemaparan materi dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ada beberapa peserta yang memberikan pertanyaannya yang berkesempatan untuk hadiah voucher e-money sebesar 100 ribu rupiah.




 

  1. Eva Malinda memberikan pertanyaan kepada Muhamad Arif Rahmat, S.H.I.

Q : Apa saja yang perlu diperhatikan dan dilakukan agar dapat memulai bisnis online?

A : Pertama, temukan alasan mengapa harus membeli produk kita. Kedua, temukan alasan mengapa mereka harus percaya dengan kita (misal, memiliki sertifikat halal). Ketiga, temukan alasan mengapa pembeli harus membeli sekarang.

  1. Masrurroh memberikan pertanyaan kepada Inna Dinovita, S.T.P.

Q : Bagaimana cara agar terhindar dari pembajakan secara online?

A : Pertama, apakah kita pernah klik pesan berantai. Jangan sampai kita asal klik situs-situs palsu. Pastikan apakah pesan berantai tersebut benar. Kedua, kita gunakan password yang kuat. Jangan sampai orang lain mudah mengenali password kita. Ketiga, gunakan auntentikasi dua faktor. Kita harus bijak dan mawas diri untuk mencegah kejahatan siber ini.

  1. Ratna Sari memberikan pertanyaan kepada Dr. Erlin, S.Kom., M.Kom.

Q : Apakah etis para penjual online menggunakan review palsu dan bagaimana etika yang benar?

A : Itu merupakan salah satu pelanggaran. Hasil review palsu termasuk dalam informasi atau berita bohong. Berikan review yang asli. Kita harus belanja di market place dan situs terpercaya yang terdapat gambar gembok. Kita harus berlaku jujur dalam berjualan.

  1. Predy Siswanto memberikan pertanyaan kepada Prof. Dr. Teddy Chandra, S.E., M.M.

Q : Apa langkah yang dilakukan agar terjadi pemerataan kecakapan bermedia digital kepada mahasiswa agar tidak ketinggalan zaman? 

A : Lembaga pendidik harus dilatih terlebih dahulu dalam menggunakan teknologi dan aplikasi digital sampai mahir. Harus ada lembaga yang mensosialisasikan teknologi digital ini agar para mahasiswa terlatih dalam menggunakan aplikasi digital. 

 

Setelah sesi tanya jawab, moderator menyapa kembali Key Opinion Leader, Della Oktarina, yang menyampaikan bahwa ada banyak hal bermanfaat di internet. Mahasiswa dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi digital dan dituntut untuk peka akan peluang bisnis digital. Untuk melahirkan konten yang positif dan produktif, kita juga harus mengimbanginya dengan etika. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang sopan dan santun. Alangkah baiknya kita membawa budaya santun itu ke era digital. 

Penting bagi kita untuk mengetahui potensi dan passion dari diri kita. Kita juga harus mampu mengetahui ide dan peluang bisnis di era digital. Kita bisa memulainya dari hal-hal yang kita senangi untuk menemukan peluang itu.  Untuk meraih konsumen yang lebih luas lagi, kita harus rangkul mereka untuk hal-hal positif. Kita juga bisa melakukan kampanye di media sosial. Kemudian, moderator menutup webinar ini dengan mengucapkan salam, terima kasih dan tagline Salam Literasi Indonesia Cakap Digital. 

 

Salam Literasi, Indonesia Makin Cakap Digital!

Editor: M Ihsan Yurin

Terkini

Terpopuler