Warga Urung Saksikan Gerhana Bulan

Ahad, 05 April 2015 - 09:18 WIB
ILUSTRASI

Pekanbaru (HR)-Harapan warga Pekanbaru dan sekitarnya untuk menyaksikan langsung fenomena alam gerhana bulan total, buyar, Menyusul hujan yang turun menyirami kota sejak Sabtu (4/4) sore.

Fenomena yang disebut-sebut sebagai gerhana bulan darah atau blood moon, kemunculannya hanya sekali dalam 500 tahun. Tidak heran jika sejak sore hari sudah banyak warga yang berkumpul di sejumlah titik di tengah kota.

Hujan dengan intensitas sedang tersebut membuyarkan kumpulan warga, yang telah bersama keluarganya tersebut. Seperti di taman depan kompleks purna MTQ, Jalan Diponegoro dan banyak lagi.

Namun sebaliknya bagi sebagian masyarakat, justru lebih memilih melaksanakan sholat sunat gerhana di masjid-masjid. Dari pada mentangi taman-taman bermain.


Seperti di masjid Raudhatul Jannah jalan Tuanku Tambusai, jemaah melaksanakan sholat berjamaah usai shalat Maghrib.


Dari pantauan Haluan Riau, hal tersebut juga berlangsung di masjid Umar Bin Khattab di Jalan Delima, puluhan jemaah melaksanakan salat sunat berjamaah di masjid.

Gerhana Bulan total merah darah kali ini berbeda dengan gerhana bulan sebelumnya yang terjadi pada bulan april dan september 2014 lalu, karena waktu perputarannya sangat singkat hanya berlangsung selama 4 menit dan 43 detik.

Sekitar pukul 17.52 WIB, proses peristiwa gerhana bulan total mulai berlangsung. Menurut ahli fenomena yang akan terjadi 2 kali pada tahun ini yaitu 4 April 2015 dan 28 September 2015 tidak berbahaya saat dipandang langsung dengan mata telanjang.

Menurut pegawai Planetarium Jakarta, Cecep Nurwendaya warna merah pada gerhana bulan total akibat refraksi atau pembiasaan cahaya matahari oleh atmosfer bumi.

"Semakin kotor kadar polusi udara di kota besar seperti Jakarta misalnya, akan ditunjukkan oleh semakin merahnya warna bulan pada saat gerhana bulan total," ujar Cecep Nurwendaya di Planetarium, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (4/4).

Cecep menambahkan bahwa jikalau masyarakat ingin melihat gerhana bulan total, harus dipastikan pemandangan di arah tersebut tak terhalang oleh gedung, gunung, atau pohon. Untuk mencari posisi gerhana bulan total, kita dapat melihat kearah horizon timur dekat dengan arah lokasi matahari terbit.

Berkumpul di Alun-Alun Jogya
Untuk melihat gerhana bulan total kali ini, ratusan warga Yogyakarta berkumpul di Alun-Alun Utara Yogyakarta. Warga terdiri dari anak-anak, anak-anak muda dan orang tua. Di lokasi ini, warga bisa melihat bulan menggunakan teropong yang di fasilitasi oleh komunitas Jogja Astro Club.

Setidaknya terdapat 5 teropong yang disediakan yakni 1 teropong cermin dan 4 teropong lensa diantaranya teropong yang dikontrol dengan komputer.

"Gerhana bulan inikan peristiwa alam, fenomena ini penting untuk diketahui masyarakat kita. Karena di masyarakat masih ada yang mengkaitkan dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan science,"kata koordinator Jogja Astro Club di Alun-alun Utara Yogyakarta, Sabtu(4/4).

Gerhana bulan total terjadi pada sekitar pukul 19.00 WIB. Gerhana bulan ini tergolong singkat yang terjadi sekitar 4-5 menit. Dan untuk proses gerhana bulan terjadi sekitar 2 jam.

Ada sejumlah tim yang diterjunkan oleh komunitas ini untuk menyaksikan gerhana bulan. Ada tim pemotretan, tim yang menjelaskan kepada masyarakat terkait dengan peristiwa gerhana bulan dan tim yang memberikan hiburan berupa roket air kepada masyarakat saat menonton gerhana bulan.

Utari(21), mahasiswi asal Lombok ini mengaku baru pertamakali melihat gerhana bulan menggunakan teropong. Dengan teropong, gerhana bulan menurutnya terlihat lebih bagus dan lebih jelas dibanding tanpa teropong.

"Bagus sekali, kelihatam lebih jelas pake teropong. Kegiatan ini menyenangkan bisa nonton gerhana bareng-bareng,"ungkapnya di Alun-alun Utara.

Sementara itu, di Masjid Gede Kauman Yogyakarta yang terletak disebelah barat Alun-alun Utara, ratusan umat Islam melaksanakan Salat Gerhana. Salat Gerhana ini diawali dengan Salat Isya berjamaah.

Live Streaming
Sementara itu tepat pukul 18.00 WIB, masyarakat dengan antusiasme besar mendatangi planetarium Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Pusat, untuk menyaksikan secara langsung penampakan gerhana bulan total yang juga dibarengi dengan fase Blood Moon.

Namun karena hujan yang mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak sore tadi, warga hanya dapat menyaksikan gerhana bulan melalui live streaming.

Di lokasi nonton bareng (nobar) gerhana bulan di lobby planetarium TIM, sekitar pukul 18.45 WIB, seratusan warga Jakarta dan sekitarnya telah berkumpul untuk melihat fenomena gerhana bulan tersebut. Banyak diantara mereka yang membawa serta keluarga dan pasangan untuk menghabiskan akhir pekan disana.

Streaming sendiri telah dilakukan sejak pukul 17.55 WIB. Karena cuaca yang tak bersahabat, maka hanya dapat menyaksikan live streaming gerhana bulan melalui proyektor yang di letakkan di lobi planetarium. Padahal menurut rencana awal, para pengunjung dapat menyaksikan fenomena gerhana bulan itu menggunakan teleskop.

Beberapa warga yang telah berkumpul sempat mengutarakan pendapatnya mengenai nonton bareng gerhana bulan tersebut. Seperti pengakuan Tina (24) warga Bambu Apus Jakarta Timur yang sengaja menghabiskan akhir pekannya untuk menyaksikan gerhana bulan.

"Ini mau lihat gerhana bulan total, kan katanya hari ini, jadi penasaran aja," jelasnya ketika diwawancarai.

Walaupun tak terlalu mengerti ilmu astronomi, namun Tina mengaku antusias karena menyaksikan gerhana bulan merah (blood moon) merupakan hal yang jarang terjadi. Tak dapat melihat melalui teloskop pun tak terlalu menjadi soal baginya.

"Kalau menurut saya mendingan streaming ya, jadi semua bisa lihat. Kalau pakai teleskop kan harus mengantri," jelasnya.

Lain halnya dengan Leo (28) warga Depok. Dirinya sengaja datang ke Planetarium untuk menyaksikan gerhana bulan melalui teleskop. Namun dia sedikit kecewa karena cuaca Jakarta tak memungkinkan untuk melihat fenomena gerhana tersebut melalui teleskop.

"Ya kecewa sih nggak bisa melihat lewat teleskop, kan nggak bisa lihat secara langsung," jelas dia.

Streaming sendiri akan dilaksanakan hingga pukul 21.59 WIB, hingga fase akhir gerhana bulan, yakni gerhana bulan samar. Saat ini di wilayah Indonesia sudah memasuki fase blood moon atau bulan tertutup sempurna. Rencananya streaming sendiri tak hanya dilakukan dari wilayah Jakarta, namun juga dari wilayah Palembang dan Tanjung Pandan.(yan/kpc/dtc/ant)

Editor:

Terkini

Terpopuler