Mencontoh MTQ Riau

Rabu, 26 Oktober 2016 - 09:43 WIB

KEGIATAN Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) merupakan salah satu kegiatan positif dalam upaya pembentukan mental ruhani umat, khususnya umat Islam. Disamping sebagai ajang dakwah, MTQ mempunyai misi silaturahmi masyarakat dari berbagai daerah.

Sebagaimana diketahui, pada bulan Agustus 2016 telah dilaksanakan perlombaan MTQ ke-26 tingkat Nasional di provinsi Nusa Tenggara Barat. Masih segar dalam ingatan kita sang jawara pada waktu itu adalah kontingen Provinsi Banten.

Dalam kehidupan masyarakat Muslim, kegiatan MTQ merupakan kegiatan rutin yang sering dilaksanakan. Mulai dari tingkat RW/RT hingga tingkat Nasional dan bahkan Internasional. Berbagai jenis lomba yang ditampilkan seperti cabang tilawah, tahfidhul Qur’an, Cerdas Cermat Al-Qur’an, Syahril Qur’an, khaligrafi dan lain sebagainya.

Berbicara tentang MTQ, ada hal menarik yang perlu dibaca seputar kegiatan MTQ di Riau yang pelaksanaannya 9–18 Oktober 2016. Pelaksanaan MTQ ke XXXV tingkat Provinsi Riau yang dilaksanakan di Pekanbaru mengandung pesan kejujuran dan kedisiplinan.

Mengapa dikatakan jujur dan disiplin? Untuk kegiatan kali ini Pemprov Riau memanfaatkan elektronik MTQ dalam upaya mengetahui legalitas peserta MTQ. Resep mujarab ini berhasil dimana dari 463 peserta yang mendaftar dan diverifikasi maka hanya 355 peserta yang dinyatakan legal. Ada 108 peserta yang gagal verifikasi.

Legalitas Legalitas atau keabsahan itu perlu. Apalagi dalam kegiatan perlombaan MTQ. Gebrakan Pemprov Riau telah membuka mata hati kita semua. Bukan menjadi rahasia umum mungkin dalam kegiatan ini ada peserta bukan dari masyarakat tempatan alias masyarakat taksiran.

Kegagalan suatu daerah dalam mengkader para qari dan qariah membuat buta mata hati sehingga berpikir sempit denLgan memakai peserta dari luar daerah.

Penulis pernah berbincang dengan teman yang pernah ikut lomba MTQ, khusus bidang kaligrafi. Penulis heran, karena yang bersangkutan pernah menggikuti kegiatan MTQ di daerah yang berbeda. Tempat satu dan lainnya.

Ini artinya, bahwa panitia belum berbuat secara profesional dalam menginventarisir peserta legal dan illegal, khususnya kependudukan. Sikap ini sangat disayangkan.

Sepertinya budaya tak sehat dengan mendatangkan balabantuan peserta dari luar menjadi hal biasa. Demi mengharumkan nama daerah segala cara dipergunakan. Padahal ini cara tak benar.

Jika kegiatan MTQ masih mentranfers peserta dari luar daerah maka dapat tidak jauh berbeda dengan pertandingan sepak bola. Padahal MTQ dan sepak bola berbeda tujuannya.

MTQ sebagai penguatan rohani sedangkan sepak bola sebagai penguatan jasmani. Jadi, jika selama ini pelaksanaan MTQ masih ada daerah yang “degil” mencomot peserta dari daerah lain maka bisa dikatakan MTQ rasa sepak bola.

Realita ini menjadi pelajaran dan evaluasi bagi segenap panitia yang berkompeten dalam pelaksanaan kegiatan MTQ pada masa mendatang, di daerah manapun jua.

Perilaku dengan membodohi diri sendiri melalui upaya mengurus administrasi KTP “kilat” bagi peserta yang dirental dari luar hendaknya ditinggalkan. Perilaku ini juga termasuk kategori perilaku salah yang diselubungkan.

Perilaku salah samahalnya perilaku mungkar. Perilaku mungkar dilarang dalam agama. Khan lucu dan aneh, jika MTQ yang tujuannya untuk membangun mental rohani namun realitanya dibungkus dengan akal bulus alias “licik” dalam merekrut peserta.


Untuk melahirkan sikap kejujuran dan keterbukaan dalam pelaksanaan MTQ baik dari tingkat kecamatan hingga Nasional bahkan Internasional hendaknya menjadi perhatian. Alangkah tak salah jika mencontoh Pemprov Riau dalam hal pelaksanaan MTQ dengan menerapkan sistem e-MTQ dalam menginventarisir para peserta. Cara ini sangat tepat dalam meminimalisir terjadinya kecurangan dalam kegiatan MTQ.


Penulis melihat ada pesan mutasyabihat yang terkandung didalamnya yaitu, bagi suatu daerah ingin menjadi peserta terbaik maka wajib membina dan mengkader masyarakat tempatan agar berlatih secara sungguh-sungguh untuk menjadi qari dan qariah. Pesan lain yang terkandung adalah bahwa mari ciptakan budaya jujur dalam apapun bentuk kegiatan yang dilakukan, bukan hanya kegiatan MTQ.


Sadarlah wahai sekalian, bahwa untuk meraih kesuksesan tak semudah membalik telapak tangan. Butuh proses panjang bukan dengan instan. Kemenangan didasari kejujuran merupakan kemenangan yang membahagiakan dan kemenangan yang berbalutkan kecurangan merupakan kemenangan semu yang menyakitkan.***

Editor:

Terkini

Terpopuler