Kadar Oksigen di Bumi Mengalami Penurunan

Rabu, 12 Oktober 2016 - 16:58 WIB
Kadar Oksigen di Bumi Mengalami Penurunan

JAKARTA(RIAUMANDIRI.co) - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kadar oksigen di atmosfer Bumi menurun hingga 0,7 persen selama 800.000 tahun.

Dalam studi tersebut, peneliti mengkalkulasi kadar oksigen atmosfer pada masa lalu dengan mengamati udara yang terjebak di dalam sample es kutub dari Greenland dan Antartika.

Ilmuwan menyimpulkan bahwa penyusutan oksigen tersebut sekitar 1,7 persen lebih besar dibanding input oksigen saat ini. Meski demikian, saat ini kita belum perlu khawatir, sebab penurunan tersebut belum bisa memicu masalah besar bagi kehidupan di planet ini.

Pada dasarnya, kadar oksigen di atmoster terkait erat dengan evolusi kehidupan di Bumi, seperti halnya perubahan siklus geokimia terkait dengan variasi iklim. Ada dua hipotesis yang mungkin bisa menjelaskan fenomena penurunan oksigen.

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa pirit dan karbon organik dapat bereaksi dengan oksigen dan melenyapkannya dari atmosfer,” kata Daniel Stolper, penulis utama studi yang merupakan ahli geokimia di Princeton University di New Jersey.

Kemungkinan kedua, ketika laut mendingin—seperti terjadi sekitar 15 juta tahun sebelum pembakaran bahan bahakar fosil, kandungan oksigen di laut meningkat.

“Artinya, lautan dapat menyimpan lebih banyak okigen pada suhu dingin dan menyumbang konsentrasi oksigen di atmosfer. Mikroba yang bergantung pada oksigen di laut dan di batuan sidimen kemudian menjadi lebih aktif dalam mengkonsumsi oksigen, sehingga membuat kandungan oksigen di atmosfer ikut menurun,” tambahnya.

Teori ini menggambarkan bahwa karbon yang disemburkan gunung-gunung api akan tersimpan ke darat dalam proses pelapukan batuan sebelum akhirnya tersimpan di dasar laut. Dengan demikian, ada keseimbangan antara input karbon dari gunung dan output dari pelapukan batuan.

“Jika berdasar pada teori ini, artinya perubahan oksigen di atmosfer bisa terjadi tanpa mempengaruhi jumlah karbondioksida,” pungkas Higgins.(ng/ivn)
 

Editor:

Terkini

Terpopuler