Perspektif Sejarah Maulid Nabi

Senin, 28 Desember 2015 - 10:23 WIB
Ilustrasi
Salah satu hari besar Islam yang diperingati setiap tahun adalah kelahiran Nabi Muhammad saw. Pada Hari Senen 12 Rabiul Awal Tahun Gajah bersamaan 20 April 570 Masehi, yang disebut juga dengan Maulid Nabi. 
 
Kelahiran Nabi Muhammad SAW dinamakan Tahun Gajah dikarenakan pada waktu itu pasukan Abrahah Gubernur Habasyah (Ethiopia), datang dengan mengendarai gajah menyerbu Makkah dengan maksud menghancurkan Ka'bah. Sebenarnya dalam Alquran dan Hadis, tidak ditemukan perintah merayakan Maulid Nabi ini, kecuali Idul Fitri dan Idul Adha. Tetapi perintah untuk mengambil pelajaran dari peristiwa atau kejadian masa lampau ditemukan dalam Alquran. Alquran sendiri berisi banyak kisah masa silam yang tentunya dimaksudkan untuk dijadikan pelajaran. 
 
Dalam sejarah Islam perayaan Maulid Nabi untuk pertama kali diselenggarakan oleh Dinasti Fatimiyah di Mesir (yang sekarang sedang bergejolak), yaitu pada masa pemerintahan Abu Tamim yang bergelar Al Mu’izz li Din Allah, yang berarti yang membuat agama Allah jaya tahun 341 H/ 953 M sampai 365 H/ 975 M. Didorong oleh keinginan menjadi penguasa populer terutama di kalangan Syiah, ia memperkenalkan beberapa perayaan. Salah satunya adalah perayaan Maulid Nabi. Penguasa Fatimiyah menggunakan kesempatan tersebut untuk memberi hadiah kepada orang tertentu, seperti penjaga masjid, penjaga makam ahlulbait, dan para pejabat.
 
Setelah Dinasti Fatimiyah berakhir dan digantikan Dinasti Ayubiyah yang dikenal sangat ketat menganut aliran Suni, peringatan Maulid Nabi terus dilaksanakan. Salahudin Al Ayyubi penguasa pertama dinasti ini, memanfaatkan perayaan Maulid Nabi untuk membakar  di luar Mesir. Perayaan Maulid Nabi pertama kali diselenggarakan di Kota Mosul Irak. Disana hidup seorang ulama besar  bernama Umar Al Malla, ahli ilmu Alquran dan hadis. Setiap tahun ia mengundang ulama serta penguasa dan pembesar negara berkumpul di kediamannya untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. 
 
Perayaan tersebut diisi dengan pembacaan syair-syair pujian mengenai keagungam Nabi Muhammad SAW. Salah seorang yang sering mendapat undangan dari Umar Al Malla tersebut adalah Nuruddin Zangi, Sultan Dinasti Atabeg di Suriah yang menganut aliran Suni. Syekh Umar Al-Malla meminta Sultan membangun sebuah masjid yang akan digunakan untuk tempat beribadah dan pertemuan, termasuk untuk perayaan Maulid Nabi. Waktu itu Maulid Nabi diselenggarakan pada malam hari. Semua tamu yang diundang diberi hadiah. Selama perayaan berlangsung dilakukan deklamasi syair yang memuji dan menyanjung raja.
 
Di Afrika Utara tepatnya di Marokko, kalangan sufi memandang peringatan Maulid Nabi dalam hirarki Hari Raya Islam sebagai yang kedua setelah Idul Fitri dan Idul Adha. Dalam perayaan itu syair mistis dan prosesi pada para darwis (pengikit tarekat), misalnya tarekat Isawiyah dan Hamadza, kadang-kadang menjadi bagian integral peringatan Maulid Nabi. Acara ini sering berakhir dengan keadaan tidak sadarkan diri, yang bagi golongan lain dipandang tidak sesuai dengan watak dan misi peringatan itu.
 
Di Mesir pada masa Dinasti Mamluk kira-kira abad ke-14 dan 15, peringatan Maulid Nabi diadakan dengan mewah dan megah. Dalam acara tersebut sultan membagi-bagikan pundi-pundi dan kue kepada para ulama. Pada abad ke-19 kerajaan Islam di Mesir mengadakan peringatan Maulid Nabi di sebuah taman. Dalam kesempatan itu dibacakan syair berseloka yang mengungkapkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Di Hyderabad Pakistan, untuk menyongsong Maulid Nabi dimainkan genderang dan terompet selama 12 hari pertama bulan Rabiulawal. Setelah dilakukan ceramah dalam acara puncaknya, seribu gadis cantik tampil menyajikan tarian dan dalam acara yang dibuka resmi oleh raja setempat itu dipertunjukkan pula akrobat dan puisi. 
 
Di India orang memasak beberapa jenis  makanan untuk  dipersembahkan kepada roh nabi Muhammad SAW dan membagi-bagikannya kepada fakir miskin. Perayaan Maulid Nabi diselenggarakan dengan beragam corak terdapat perbedaan antara satu daerah dan daerah lain serta coraknya itu terus berkembang dari masa ke masa sesuai dengan situasi dan kindisi serta budaya kaum muslimin di wilayah masing-masing.  Di Indonesia peringatan Maulid Nabi juga diselenggarakan dengan meriah dan dipandang sebagai salah satu hari besar Islam yang terbesar, setelah Idul Fitri dan Idul Adha. Peringatan itu diadakan sebulan penuh, yaitu pada bulan Rabiul Awal, bahkan sering lebih sebulan sehingga masih dirayakan pada bulan Rabiul Akhir. 
 
Peringatan Maulid Nabi di Lombok, dirayakan dengan megah dan sangat meriah penuh dengan suasana spiritual, terutama oleh para anggota Nahdlatul Wathan. Bahkan mereka memperingati Maulid Nabi melebihi peringatan dua hari raya Islam Idul Fitri dan Idul Adha.  Demikian penting arti Maulid Nabi bagi kaum muslimin di Indonesia pada masa silam. Mereka bahkan menyebut bulan  Rabiul awal dengan bulan Mulud (jawa), dan menyebut bulan Rabiul Akhir atau Rabiul Tsani dengan bulan bakda mulud, artinya setelah mulud.
 
Seragaman pola pelaksanaan peringatan Maulid Nabi itu tidak hanya terlihat pada adanya perbedaan antara satu negeri dan negeri lain, tetapi tampak pula dalam perbedaan sub budaya di negeri tertentu. Kalangan bangsawan dan orang kebanyakan dapat mengadakan peringatan Maulid Nabi dalam pola yang berbeda. Di Keraton Jawa peringatan Maulid Nabi diselenggarakan dengan sangat meriah. 
 
Di Keraton Yogyakarta acara peringatan ini dikenal dengan Sekaten asalnya Syahadatain, yang diselenggarakan dalam waktu yang cukup panjang dan sangat kuat dipengaruhi budaya lokal. Cara ini tentu beda dengan yang dilaksanakan di masjid pada masa lampau yakni dengan membaca syair Arab yang bernama Maulid Syaraf al-Anam. Konon meskipun dirayakan di masjid pada zaman lampau pembacaan Maulid Syaraf al-Anam itu diikuti dengan pembakaran kemenyan. Model perayaan terakhir ini masih bertahan di beberapa daerah di Indonesia. 
 
Di Indonesia merayakan Maulid Nabi SAW lebih meriah dan semarak dibandingkan dengan umat Islam di negeri Islam lainnya. Tanggal 12 Rabiul Awal menjadi hari besar nasional. Musala, masjid, kantor, dan Istana Negara menyelenggarakan perayaan Maulid Nabi dengan menampilkan berbagai jenis kegiatan. Di pesantren perayaan Maulid Nabi dihiasi dengan acara membaca Al barzanji, yang berisi syair-syair pujian kepada nabi, tahlil, dan doa bersama.  Di tingkat desa juga diselenggarakan peringatan Maulid Nabi. Hampir seluruh penduduk desa melaksanakan peringatan Maulid Nabi pada malam hari. Setelah pembacaan kitab Al barzanji, penduduk yang berpartisipasi dalam kegiatan itu berjalan mengitari desa sambil membaca tahlil dan takbir. Dalam kesempatan itu sebagian penduduk menyiapkan makanan khas daerah untuk para hadirin.
 
Lain lagi di perkotaan, perayaan Maulid Nabi diselenggarakan dengan menekankan aspek dakwah dan sosial dengan tujuan menggairahkan kehidupan beragama dalam keluarga dan masyarakat, dan meningkatkan penghayatan serta pengamalan ajaran agama. *** 
Guru SMAN 1 Tebing Tinggi,  Meranti

Editor:

Terkini

Terpopuler