Wabup: Supaya Tetap Terjaga

Rabu, 03 Juni 2015 - 11:55 WIB
ilustrasi
PASIR PENGARAIAN (HR)-Banyak tradisi warga Kabupaten Rokan Hulu dalam menyambut bulan suci Ramadan. Salah satu tradisi unik yakni Khatam Quran, seperti dilakukan anak-anak di Kelurahan Rokan, Kecamatan Rokan IV Koto, Senin (1/6). 
 
Dalam menyambut bulan puasa, anak-anak yang sudah khatam Quran berpawai keliling kampung. Pawai Khatam Quran dihadiri Wakil Bupati Rohul Hafith Syukri, Kepala Badan Perencanaan Daerah Rohul Nifzar, Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik Rohul Irpan Rido, Kabag Hukum Rohul Helfiskar, mantan anggota DPRD Rohul dari Partai Golkar Rosidi, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ribuan warga Rokan IV Koto.
 
Uniknya, meski masih usia anak-anak, sebanyak 29 anak di Kelurahan Rokan ternyata telah Khatam Quran hingga 30 juz.
 
Panitia Pelaksana Indraliswar mengatakan 29 anak yang telah khatam Quran di kampungnya biasa mengikuti prosesi tradisi adat. Menjelang puasa, mereka diarak keliling kampung, sehingga seluruh warga mengetahui bahwa mereka telah menamatkan membaca 30 juz ayat Alquran. "Dengan diarak, diharapkan anak-anak merasa termotivasi untuk terus membaca Alquran," jelas Indraliswar.
 
"Tradisi ini juga untuk memberitahukan kepada khalayak ramai, bahwa anak-anak ini akan menjaga kelakukan mereka, karena sudah dikenal sebagai anak-anak yang telah tamat membaca Alquran," tambah dia.
 
Setelah diarak, anak-anak ini mengikuti prosesi "Balimau" atau prosesi berendam diri di Sungai Rokan, sungai penuh sejarah. Tradisi ini untuk membersihkan diri dan menyerahkan diri kepada Sang Pencipta.
 
Tradisi khatam Quran jelang Ramadan sebenarnya telah menjadi tradisi warga Rohul, hampir di seluruh kecamatan. Sayangnya, tradisi ini mulai dilupakan. Salah satu faktornya, akibat kemajuan tekhnologi informasi dan globalisasi.
Dalam menyelematkan tradisi tersebut, Wabup Rohul Hafith Syukri berharap, agar warga ikut mempertahankan dan menjaga tradisi di dalam kehidupan sehari-hari.
 
Menurut dia, tradisi Khatam Quran merupakan tradisi senyawa dengan program yang telah dicanangkan oleh Pemkab Rohul, seperti Program Menghafal Dan Membaca Alquran.
 
"Tradisi ini juga telah menjadi bagian dalam aplikasi julukan Negeri Seribu Suluk," jelas Wabup Hafith.
Tradisi Khatam Quran, diakuinya, berangsur mulai dilupakan. Hal itu akan menjadi tantangan bagi Pemkab Rohul dalam membangkitkan kembali tradisi.
 
Agar tradisi Khatam Quran tidak punah, sambung Wabup, harus ada campur tangan dari Pemkab Rohul. Tradisi harus dikemas sebagai potensi pariwisata, seperti halnya tradisi Balimau Kasai yang dilakukan warga Rohul menjelang bulan puasa.
 
Dari itu, Wabup mengharapkan "campur tangan" dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rohul dalam mencarikan formula, agar tradisi-tradisi menjelang bulan puasa dikemas apik, sebagai potensi pariwisata tahunan.(adv/hms)

Editor:

Terkini

Terpopuler