Demonstrasi Berujung Maut di Irak, Puluhan Orang Tewas dan Ribuan Luka-luka

Demonstrasi Berujung Maut di Irak, Puluhan Orang Tewas dan Ribuan Luka-luka

RIAUMANDIRI.CO - Aksi demonstrasi besar-besaran di Irak, berbuntut tewasnya puluhan orang.

Aksi demonstrasi berlangsung dalam tiga hari diikuti ribuan demonstran di Baghdad dan kota-kota lainnya, 31 orang dilaporkan telah tewas dan lebih dari 1.000 orang luka-luka.


Pada Kamis 4 Oktober 2019 waktu setempat, ribuan demonstran kembali turun ke jalan untuk memprotes tingginya korupsi, pengangguran dan buruknya layanan publik di bawah pemerintahan Perdana Menteri Adel Abdel Mahdi.

Dalam pidato publik pertamanya di layar kaca sejak aksi-aksi demo antipemerintah ini pecah, Abdel Mahdi mengungkapkan bahwa aksi-aksi tersebut sebagai “pengrusakan negara, seluruh negara” namun dia tidak berkomentar mengenai tuntutan para demonstran.

Bukannya menanggapi substansi isu yang disampaikan demonstran, Abdel Mahdi malah memamerkan pencapaian yang diraih pemerintahnya dan menjanjikan tunjangan bulanan untuk keluarga-keluarga yang membutuhkan, serta meminta waktu untuk menerapkan agenda reformasi yang dijanjikannya tahun lalu.

Beberapa jam sebelumnya, para demonstran di Baghdad berkumpul di luar gedung Kementerian Perminyakan dan Industri dan bertekad untuk bergerak ke Lapangan Tahrir di ibu kota Irak tersebut.

“Kami akan terus berdemo sampai pemerintahan tumbang,” cetus Ali (22), lulusan universitas yang belum mendapat pekerjaan seperti dilansir dari detikcom.

“Saya tak punya apapun kecuali 250 lira (US$ 0,20) di saku saya sementara pejabat-pejabat pemerintah punya jutaan,” cetusnya melalui AFP, Jumat 4 Oktober 2019.

Para polisi dan tentara yang menggunakan senjata otomatis, tampak mengarahkan senjata mereka ke para demonstran. “Mengapa polisi menembaki warga Irak? Mereka menderita seperti kami — mereka harusnya membantu dan melindungi kami,” kata seorang demonstran, Abu Jaafar memprotes tindakan polisi.

Aksi-aksi demo tersebut telah menewaskan 31 orang, termasuk dua polisi dan lebih dari 1.000 orang mengalami luka-luka. Aksi protes ini dimulai pada Selasa (1/10) di Baghdad dan menyebar ke wilayah-wilayah selatan Irak yang dihuni mayoritas warga Syiah. Sejumlah kota telah menerapkan aturan jam malam namun para demonstran tetap membanjiri jalan-jalan.