Bayi Lahir dengan Lambung dan Usus Terburai di Sei Pakning

Bayi Lahir dengan Lambung dan Usus Terburai di Sei Pakning

SUNGAI PAKNING (riaumandiri.co)-seorang bayi lahir dalam kondisi memprihatinkan, lambung dan Usus terburai keluar dari badan, Rabu (3/7). Bayi malang tersebut, anak dari pasangan Firnando (25) dan Rina (20), warga Desa Pakning Asal, Kecamatan Bukit Batu.


Pasangan Suami istri ini juga tidak menyangka jika bayi yang merupakan anak pertama mereka ini, lahir dengan kondisi tidak normal, bahkan terbilang langka karena baru pertama kali terjadi di Sungai Pakning.


"Rabu (3/7) lalu sekitar pukul 12:00 WIB siang, istri saya melahirkandi tempat salah satu praktik bidan di Sungai Pakning, namun kami tak menyangka anak pertama kami lahir dengan usus dan lambung di luar badan, mungkin itu sudah ditakdirkan Tuhan," ucap Firnando, ayah mayi malang tersebut dengan raut wajah sedih, Jumat (5/7).



Pria yang bekerja sebagai buruh angkutan barang ini mengaku panik ketika mengetahui kondisi bayinya, hari itu juga langsung dilarikan ke Puskesmas Sungai Pakning, selanjutnya dirujuk ke RSUD Bengkalis.


"Walau bagaimanapun kondisinya, tetaplah itu bayi anak kandung dan darah daging kami. Akan tetap kami perjuangkan agar dia bisa bertahan hidup. Namun menurut keterangan pihak rumah sakit, di RSUD Bengkalis ini belum bisa menangani bedah untuk kondisi bayi seperti anak kami itu, alasannya peralatan dan perlengkapan bedah tidak memadai," ungkap Firnando.


Dikatakan Firnando, pihak rumah sakit menganjurkan untuk merujuk anaknya ke RSUD Pekanbaru, namun tidak sedikit dana yang diperlukan, karena proses pembedahan, perawatan sampai pemulihan memakan waktu mulai dari 1 sampai 3 bulan.


"Saat ini anak saya sedang dirawat di Ruang Injeksi Bayi RSUD Bengkalis diletakkan dalam tabung kaca dan diberi infus serta oksigen. Sekarang kami menunggu keputusan dari rumah sakit, harus dikemanakan anak saya yang malang itu," tambahnya.


Firnando juga mengaku kewalahan untuk mencari biaya untuk pengobatan anaknya, jika nanti dirujuk ke RSUD Pekanbaru, sebab dirinya yang hanya bekerja sebagai buruh mengaku tidak memiliki tabungan.


"Untuk biaya bertahan hidup saja keluarga saya kewalahan mencarinya pak, apalagi untuk hal tak terduga seperti ini. Namun saya bertekad biar saya tidak makan, yang penting anak saya bisa mendapat pengobatan selayaknya pak," sebut Firnando didampingi istrinya Rina.


Keluarga Firnando juga berharap bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bengkalis, agar proses pengobatan bayi dengan kondisi yang memprihatinkan tersebut berjalan lancar. (man)