Webinar Literasi Digital: Bangkit dari Pandemi Covd-19 dengan Literasi Digital

Sabtu, 04 September 2021 - 22:32 WIB
Ilustrasi (istimewa)

RIAUMANDIRI.CO, DUMAI - Kegiatan webinar literasi digital pada hari Sabtu, 4 September 2021, pukul 14.00 WIB, dengan tema "Bangkit dari Pandemi dengan Literasi Digital” dibuka oleh moderator Reni Risty. Moderator memberikan reminding untuk para hadirin dalam 10 menit sebelum acara dimulai. Kemudian, moderator membuka rangkaian kegiatan webinar ini dengan mengucap salam, berdoa dan membawakan tagline Salam Literasi Digital Indonesia Makin Cakap Digital. Moderator juga tidak lupa untuk mengingatkan para peserta untuk terus menjaga protokol kesehatan, mencuci tangan, memakai masker, dan menghindari kerumunan. Acara pertama dimulai dengan memutarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. 

Acara selanjutnya, para narasumber, key opinion leader, dan seluruh peserta mendengarkan sambutan dari keynote speech yaitu, Samuel A. Pangerapan selaku Dirjen Aptika KEMKOMINFO dan Rezita Meylani Yopi, SE, selaku Bupati Indragiri Hulu.

Kemudian, moderator memperkenalkan Key Opinion Leader yaitu Nalia Rifika, beliau adalah seorang Co – owner @nrhxnabilia, Blogger @mrsdelonikacom, @escapeplan. Beliau mengatakan, kalau  aku sendiri menjadi lebih berhati  hati jika ingin menshare sesuatu jadi tidak asal kirim. Memang bermanfaat banget kuliah panjang literasi digital KOMINFO ini“

Kemudian, moderator membacakan tata tertib dalam kegiatan webinar ini. Setelah membacakan tata tertib, pada pukul 14.19 moderator mempersilahkan narasumber pertama yaitu bapak Rachmat Aditiya, beliau adalah seorang CEO di Arkana Solusi Digital. Beliau akan menyampaikan materi tentang Menjadi Masyarakat yang Pintar Digital.

Summary : “  Sebagai manusia jangan takut untuk berevolusi dan menerima hal baru dalam dunia digital. Karena akan banyak sekali pekerjaan dimasa yang akan datang berkaitan dengan dunia digital. Namun jika ingin masuk ke dunia digital haru smengerti apa yang ada didalamnya agar kita bisa menjadi pengguna digital yang bijak dan tidak meninggalkan jejak digital yang buruk”

Kita sudah hampir dua tahun menjalani pandemic covid-19, dan perkembangan media digital lebih pesat dan drastis dan kita harus bisa menyesuaikan diri dengan itu. Kita sudah menjalani revolusi industri berkali kali sebagai manusia, dan kita juga harus menyesuaikan revolusi itu. Sekarang kita mengalami revolusi ke 4.0 dan akan menghadapi revolusi Society 5.0. Dunia itu berkembang dengan sangat cepat dan pesat. Perubahan itu adalah hal yang pasti. Kita sebagai manusia harus menyesuaikan diri atas perubahan yang akan datang. Kita juga harus siap untuk berubah karena tidak mustahil jika pekerjaan manusia di masa datang akan digantikan oleh robot. 

Sebelum masuk ke dunia digital kita juga harus menyiapkan ilmu kita. Kita juga akan menganalisa  dunia digital itu. Kekuatan dunia digital itu ialah kekuatan sosial, kita dapat bersosialisasi dari yang jaraknya jauh. Kelemahan dunia digital itu ialah bisa memutuskan hubungan sosial, keamanan data pribadi, dan perubahan lapangan kerja. Peluang yang kita dapatkan pada dunia digital ialah bisa belajar online, pekerjaan remote, online seller, dll. Ancamannya itu ada cybercrime, plagiarism & HAKI, dan manipulasi media digital.

 Apapun yang kita lakukan di dunia digital itu tidak bisa dihapus. Maka tinggalkanlah jejak digital yang baik agar tidak merugikan diri anda sendiri dan meninggalkan jejak digital yang buruk. Di dunia digital itu juga ada pemerintah dan penegak hukum nya, sehingga jika ada pelanggaran digital bisa dilaporkan ke pihak yang berwajib. Banyak sekali pekerjaan di dunia digital yang bisa kita lakukan seperti guru online, dokter online, influencer, content creator, online seller dan masih banyak lagi.

Pada pukul 14.46 narasumber pertama selesai menyampaikan materinya. Selanjutnya pada pukul 14.47 moderator memperkenalkan narasumber kedua yaitu ibu Inna Dinovita, S.TP, beliau adalah seorang CEO Saesha Cantika Indonesia. Beliau akan menyampaikan materi tentang Memahami fitur keamanan aplikasi dan media sosial.

Summary : " didalam dunia digital,  harus memperhatikan keamanan dunia digital terutama keamanan media sosial. Keamanan digital bisa dilakukan dengan menggunakan proteksi yang kuat dalam berdunia digital, jangan  menyebarkan data pribadi di media sosial dan mensaring berita yang didapatkan agar tidak menyebarkan hoax”

Jumlah pengguna internet di Indonesia kiat meningkat setiap tahunnya, tetapi apakah internet ini sudah digunakan untuk hal hal yang positif atau malah sebaliknya. Perlu memahami fitur keamanan aplikasi dan media sosial karena banyak warga indonesia yang menggunakan media sosial yang tidak mengerti akan keamanannya. Dunia digital memudahkan segala urusan kita dalam sehari hari, tetapi di dalam kemudahan itu ada banyak criminal di dalamnya, terutama di media sosial. Apa yang kita terima haruslah di saring terlebih dahulu sebelum kita mensharingnya. 

Macam macam kriminal di dalam dunia digital ialah 

  1. Scam : Strateginya dengan memanfaatkan empati dan kelengahan pengguna.  Metodenya beragam, bisa menggunakan telepon, SMS, WhatsApp, email, maupun surat berantai. 

  2. Spam : Berbagai pesan dalam surel yang tidak diinginkan namun berhasil masuk ke dalamnya. 

  3. Phising : Phishing mengacu pada upaya penipuan dengan pengelabuhan untuk mendapatkan informasi pribadi

  4. Malware : Istilah umum bagi segala perangkat lunak yang dibuat secara spesifik untuk menyebabkan masalah bagi komputer.

Untuk mengamankan diri kita di dalam dunia digital dari hal hal tersebut diperlukan proteksi perangkat. Yang pertama kita harus memiliki proteksi untuk perangkat keras dan lunak. Untuk perangkat keras kita bisa menggunakan pin, password yang kuat, fingerprint. Untuk memproteksi perangkat lunak kita bisa menggunakan anti virus, dan jangan lupa untuk sering mengganti password kita dan memperbarui aplikasi kita agar peningkatan keamanannya dapat melindungi data kita. Jangan lupa memproteksi data pribadi kita. Untuk menjaga data pribadi kita, jangan sampai kita menshare data seperti tanggal lahir, nama orang tua,dll, aktivitas media sosial kita juga harus kita jaga, jangan asal memposting sesuatu, jangan sembarangan menggunakan wifi pubik apalagi untuk tranksasi perbankan. 

Pada pukul 15.11 narasumber kedua selesai menyampaikan materinya. Selanjutnya pada pukul 15.15 moderator beralih kepada narasumber ketiga yaitu bapak Sudarmono, M.Pd, beliau adalah seorang Sekretaris PGRI Kab. Indragiri Hulu . Beliau akan menyampaikan materi tentang Menjadi Pengguna Internet yang Beradab.

  1. Summary : “ Menjadi pengguna internet yang beradab adalah sebuah keharusan dengan cara berinteraksi dan berkomentar dengan santun serta beretika ketika di dunia digital. Menjadi pengguna internet yang beradab harus dimulai dari rumah, sekolah dan masyarakat. Penting juga menerapkan aturan-aturan kehidupan sehari-hari ke ruang digital. Menjadi pengguna internet yang beradab akan berdampak kepada orang lain”.

Digital Ethics adalah kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata kelola etika digital (netiquette) dalam kehidupan sehari-hari. Bedasarkan hasil survei Microsoft, Indonesia berada di tingkat 29 dari 32 negara. Artinya Indonesia termasuk ke dalam negara yang tidak sopan di dalam ruangan digital. Mengapa Indonesia bisa menjadi negara yang tidak sopan? Karena terkait dengan cara kita berkomentar dan menshare berita tanpa di saring terlebih dahulu.

 Maka dari itu penting sekali untuk masyarakat digital kita tahu bagaimana menjadi pengguna digital yang beretika. Cara menjadi pengguna internet yang beradab yaitu berinteraksi yang santun di dunia digital seperti berpikir dalam bertindak, menggunakan Bahasa yang sopan dan santun, hormati privasi orang lain, tidak menyebarkan berita hoax, dan dapat mengendalikan emosi. Toleransi terhadap perbedaan di dunia digital, yaitu menghargai perbedaan dengan tidak memaksakan pendapat ke orang lain, membuat kerukunan di ruang digital, dan memberikan edukasi. Berkomentar dengan santun saat reaksi interaksi online, yaitu dengan menggunakan Bahasa yang baik dan benar, tidak mengarah ke ujaran kebencian, memberikan sumber yang akurat, hindari memberikan informasi palsu, dan gunakan akun asli tidak palsu.

Hati hati dalam berkomentar dan menyebarkan sesuatau di dunia digital karena pemerintah sudah menyiapkan polisinya, pemerintah mampu dideteksi oleh pemerintah melalui Badan Cyber Nasional (BCN). BCN mempunyai tujuan yakni sebagai penyaring berita-berita hoaks, penangkal berita bohong yang beredar di internet  dan mengedukasi masyarakat terkait berita bohong

   Pada pukul 15.38 narasumber ketiga selesai menyampaikan materinya. Selanjutnya pada pukul 15.40 moderator mempersilahkan narasumber terakhir untuk menyampaikan materinya yaitu bapak Nugroho Noto Susanto, SIP, beliau adalah seorang  KPU Provinsi Riau. Beliau akan menyampaikan materi tentang Lawan Hoaks dengan Literasi Digital.

Summary : “

Berdasarkan sebuah data, sumber informasi masyarakat itu yang pertama ialah media sosial. Mengapa KOMINFO menghubungkan pandemik dengan media sosial karena data tersebut. Alasan apa yang menyebabkan rakyat indonesia menggunakan media digital (internet): alasan utama memanfaatkan internet ialah dari jumlah data , 51,5% responden menggunakan internet untuk mengakses media sosial. 20,3% responden yang menganggap media sosial adalah sumber kredibel untuk mendapatkan informasi. Dari jumlah tersebut, lebih dari setengah responden atau 55,2% di antaranya menilai WhatsApp merupakan media sosial yang tepercaya . Dari sejumlah media sosial terpopuler, Facebook merupakan platform dengan temuan hoaks terbanyak. Survei CIGI melibatkan 25.229 pengguna internet dari 25 negara.Di Indonesia, sebanyak 84% responden menyebut pernah menemukan kabar bohong di Facebook. Hanya 12% yang tidak pernah menerima penyebaran hoaks di media sosial tersebut. Sementara itu, 4% responden lainnya tidak pernah menggunakan Facebook. 

Alasan alasan dalam penyebaran hoaks ialah Katadata Insight Center  (KIC) bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melakukan survei literasi digital. Penelitian tersebut menjaring total 1.670 responden dari 34 provinsi di Indonesia. Dari jumlah itu, lebih dari setengah responden merasa hanya meneruskan berita yang tersebar, tanpa mencari tahu kebenarannya. Alasan penyebaran hoaks lainnya karena responden tak mengetahui sumber berita yang jelas dan hanya sekadar iseng. responden memang menyebarkan berita bohong untuk mempengaruhi orang lain.

Untuk mencegah penyebaran berita hoaks lebih luas lagi yang bis akita lakukan ialah

1. Perhatikan Sumber Berita.
2. Baca Keseluruhan Berita.
3. Cek Keaslian Foto Dan Video Yang Disebarkan.
4. Kritis Dan Cerdas Dalam Membaca Berita.
5. Kenali Ciri-ciri Berita Hoaks

6. Jadikan Membaca Sebagai Tradisi

 

Pemaparan materi selesai pada pukul 16.01, setelah itu pada pukul 16.02 moderator beralih ke sesi tanya jawab antara penanya dan narasumber. Ada empat penanya yang sudah terpilih dan berhak mendapatkan e-money sebesar Rp. 100.000,-

 

  1. Eka minarsari memberikan pertanyaan kepada bapak Rachmat Aditiya 

Q : apakah di masa pandemi bisa dibilang sebagai kebangkitan bagi dunia literasi (digital) di Indonesia? Dan bagaimana mempertahankan hal ini, bapak? Apakah akan tetap bisa bertahan jika masa pandemi telah usai. Terimakasih, pak.

A : sebelum adanya pandemi, pengguna internet Indonesia banyak sekali tetapi asal saja, tetapi selama pandemi semuanya terpaksa menjadi berubah dan mencari referensi sendiri sendiri. Jika menurut saya pribadi itu akan terbiasa karena masyarakat indonesi dudah terbiasa dalam mencari referensi digital, dan pandemi hanya memperoses kebiasaan ini menjadi cepat terjadi.

  1. Reza widya  memberikan pertanyaan kepada ibu Inna Dinovita, S.TP 

Q : bagaimana kita sebaiknya mengedukasi di keluarga terlebih dahulu mengenai keamanan digital tanpa terlihat menggurui dan bagaimana juga mengedukasi sejak dini di pelajar mengingat banyak sekali pelajar hingga mungkin mahasiswa belum mengetahui dengan benar keamanan digital? serta bagaimana langkah awal yang sebaiknya kita lakukan jika akun diretas dan bagaimana pengaruh terhadap akun lainnya mengingat sekarang satu akun dengan yang lainnya saling terintegrasi?

A :   ketika kita ingin keluarga kita menerapkan kemanan digital, kita bisa langsung saja mempraktekkan kepada mereka bersama sama, dan program literasi digital ini juga bisa diikuti oleh banyak mahasiswa dan bisa teredukasi tentang bagaimana caranya aman dalam bermedia sosial. Ada Langkah dalam aman bermedia sosial ialah ketika kita tidak menggunakan kata sandi yang sama di setiap media sosial kita, maka jangan menggunakan kata sandi yang sama agar mencegah akun lain jika salah satu akun diretas .

  1. Ali hardi memberikan pertanyaan kepada bapak Sudarmodo, M.Pd

Q : bagaimana cara berinteraksi didunia digital bagi para orang orang tua yang tidak begitu mengerti tentang sosial media?

A : tentunya jika tidak paham harus kita berikan pemahaman, namun pemahamannya ini pelan pelan karena orang tua. Kita harus memberikan edukasi bagaimana cara menggunakan handphone yang sesuai dengan etika. Karena  orang tua, maka tidak mungkin langsung mengerti, pasti harus berulang kali kita menyampaikannya.

 

  1.  Zul ardy memberikan pertanyaan kepada bapak Nugroho Noto Susanto, SIP

Q : bagaimana cara menanamkan budaya  digital disemua aspek kehidupan dan bagaimana cara kita berinteraksi diruang digital dalam budaya indonesia?

A : Pertama dunia digital itu adalah cermin dunia nyata, jadi bagaimana kita memiliki kebudayaan dan kepribadian di dunia nyata mestinya itu juga muncul dan tercemin di dunia digital. Tetapi sering sekali kita melihat ada kesenjangan, seakan jari kita mudah sekali mnegtik yang tidak sopan, dan ini harus kita hindari. Kita harus menguatkan kepribadiian budaya Indonesia  agar tidak  menjadi kesenjangan dengan kepribadian lain yang ada di dunia digital. 

Sesi tanya jawab selesai pada pukul 16.21, selanjutnya moderator kembali menyapa Key Opinion Leader Nalia Rifika. Beliau mengatakan, Jika di media sosial Instagram saya tidak sering menemuinya, karena sistem Instagram berdasarkan apa yang sering kita explore. Tetapi berita hoaks itu ada di grup whatsaap keluarga, biasanya saya diemin saja atau saya memberi tahu berita yang sebenarnya. Kalau menurut aku mulai dari apa yang kita suka dulu jadi sharing tentang itu sebagai pengalaman kita dahulu saja. Seperti masak, skincare . karena jik akita sering mensharing seuatu yang kita suka dengan bhasa kita sendiri orang orang juga menjadi tertarik terhadap kita. Buat teman teman jika kita melihat suatu berita, baca isi beritanya seluruhnya jangan hanya membaca judulnya saja, dan usahakan rajin dalam literasi.”

Setelah berbincang-bincang dengan key opinion leader selesai, moderator memberikan kesimpulan dari pemaparan materi-materi webinar sesi pagi ini dan mengumumkan enam pemenang lainnya yang berhasil mendapatkan voucher e-money sebesar Rp. 100.000. Moderator mengucapkan terima kasih kepada keempat narasumber, key opinion leader, dan seluruh peserta webinar. Pukul 16.33 webinar literasi digital hari ini selesai, moderator menutup webinar ini dengan mengucapkan salam, terima kasih dan tagline Salam Literasi Indonesia Makin Cakap Digital!

Editor: M Ihsan Yurin

Tags

Terkini

Terpopuler