Cerita Lengkap Wanita yang Ayah-Ibunya Meninggal karena Corona, Dikubur Tanpa Pelayat

Senin, 23 Maret 2020 - 16:12 WIB
Eva menguburkan kedua orangtuanya tanpa pelayat, hanya dihadiri dirinya dan kedua adiknya. Foto: instagram @evarahmisalama

RIAUMANDIRI.ID, JAKARTA – Hingga hari ini, Senin 23 Maret 2020 pasien positif Corona Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 579 kasus, sembuh 30 kasus, dan meniggal dunia 49 kasus.

Salah satu keluarga yang terkena pandemi virus corona ini adalah keluarga Eva Rahmi Salama. Eva berbagi cerita sedih soal ayah dan ibunya yang meninggal karena virus Corona hingga ketika dikuburkan tak ada pelayat yang hadir selain dia dan dua adiknya. Kisah sedih yang diunggahnya ke Instagram ini viral dan mendatangkan banyak empati netizen.

Ketika dikonfirmasi, Eva pun memberikan penjelasan lengkap mengenai kejadian pilu yang menimpa keluarganya. Saat kedua orangtuanya meninggal, Eva dan kedua adiknya merasakan kesedihan yang amat mendalam bukan hanya karena kepergian mama dan papa mereka.

Yang membuat mereka semakin sedih karena mereka tak bisa melihat mama dan papa mereka untuk terakhir kalinya. Eva terakhir melihat mamanya ketika sang mama masuk ke RS Persahabatan. Dan setelahnya bahkan hingga sang mama menghembuskan nafas terakhirnya, dia tidak bisa melihat jenazahnya.

"Sama sekali nggak bisa disentuh. Jadi dari masuk persahabatan sampai hari Kamis mama meninggal aku nggak melihat sama sekali. Kebayang nggak itu. Mereka nggak mau fotoin, nggak tahu kenapa. Makanya sedih banget nggak bisa melihat mama untuk yang terakhir kalinya," ujar Eva dengan menangis tersedu-sedu.

Virus corona ini menurutnya bermula dari sang adik. Sang adik rupanya berada di tempat yang sama dengan pasien corona nomer 1 dan nomer 2 di Depok yang kini sudah sembuh.

"Awalnya adik saya terpapar dari kasus yang sama dengan suspect nomer 1 nomer 2 di depok. Nah itu adikku ikut acara itu terpaparlah dia di situ. Setelah itu dia sakit tiga hari dan nggak masuk kerja. Terus kebetulan mama waktu itu juga abis jenguk papa yang udah sakit, sakitnya jantung sudah sebulan malah," kata Eva saat dihubungi oleh Wolipop melalui telpon, Minggu (22/3/2020).

Eva menceritakan adiknya awalnya tak menyadari kalau dia sudah terinfeksi virus Corona. Dalam ketidaktahuannya itu, sang adik pun berpergian ke berbagai tempat, termasuk mengunjungi ayahnya yang dirawat di rumah sakit bersama Eva dan sang mama.

"Kita jenguk terus sepertinya mama habis telat makan sampai rumah malam-malam karena keretanya trouble. Dan dari situ dia typus dan mungkin habis itu ketularan dari adikku yang sudah sakit duluan tapi nggak tahu kalau dia sebenarnya sudah terpapar corona. Tanggal 29 Februari mama sakit, tanggal 6 Maret dia baru berobat ke dokter," jelas Eva.

Eva menguburkan kedua orangtuanya tanpa pelayat, hanya dihadiri dirinya dan kedua adiknya (Foto: instagram @evarahmisalama/)

Saat memeriksakan diri ke dokter, sang mama disebut dokter positif typus. Mamanya baru ke dokter di tanggal 6 Maret karena khawatir berpergian jauh di tengah pandemi corona ini. Sakitnya tak membaik, mama Eva akhirnya harus dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta.

"Aku jenguk ke sana kok mama bilang dia nyesek. Dan kalau typus nggak ada nyesek. Mama gak punya history ini, punya penyakit paru atau nyesek sebelumnya. Kok aku curiga gejalanya sama kayak virus corona," ungkap Eva curiga.

Saat Eva memberitahukan pada sang adik bahwa ibunya merasa sesak nafas, barulah adiknya bercerita kalau dia sempat mengikuti acara yang dihadiri pasien virus Corona pertama di Indonesia. Eva pun terkaget-kaget dan langsung meminta pada dokter surat rujukan agar ibunya bisa menjadi pasien di rumah sakit penanganan corona yang ditunjuk pemerintah.

"Akhirnya mama aku dapat di Rumah Sakit Persahabatan. Itu juga setelah dua hari, sulit banget ternyata nggak segampang itu kayak masukin mama padahal kondisinya sudah parah. Terus Jumat (13/8/2020) mama sudah di SWAB test, baru masuk ke rumah sakit Rabu (18/3/2020) dan dikabarkan positif, Kamisnya (19/3/2020) mama meninggal," kisahnya dengan menahan kesedihan.

"Habis itu papa akhinya aku suruh SWAB test juga. Karena selama ini kan cuman jantung doang sudah sebulan dan semakin lama papa semakin terasa sesak, makanya aku suruh SWAB test. Dan seminggu SWAB test, kemarin siang, Sabtu (21/3/2020) baru dapat hasilnya positif terus sorenya meninggal," lanjut Eva berbagi cerita dengan nada lemas.

Geram dengan penanganan Corona di Indonesia

Kepergian kedua orangtuanya yang meninggal dalam waktu berdekatan karena virus Corona ini membuat Eva merasa geram dengan penanganan kasus virus corona yang kurang cepat di Indonesia. Dia bingung kenapa proses penanganan corona sangat lambat.

Yang semakin membuatnya bingung, dia sendiri sulit mendapatkan kesempatan untuk SWAB test padahal tiga keluarganya sudah dinyatakan positif corona. Tiga keluarganya itu adalah kedua orangtuanya yang meninggal dan adiknya.

"Padahal ini posisinya ibuku sudah meninggal dan besar kemungkinan aku terpapar juga ya nggak sih? Pihak rumah sakit menolak aku alasannya karena aku nggak ada gejala batuk, sesak dan panas dan sakit tenggorokan. Memang kan gak ada gejalanya, tapi aku juga khawatir. Kalau preventif dari awal kita kan bisa langsung mendapatkan penanganan yang tepat. Jangan nggak ada kepastiannya begini. Nah, ini sempat suamiku mengalami demam langsung SWAB test dibolehin langsung sama rumah sakit. Semoga aja suamiku negatif," harap Eva.

Eva menyebutkan dari pihak rumah sakit hanya menyarankannya untuk meningkatkan imunitas tubuh dan makan makanan yang sehat. "Kata dokternya jika nggak ada gejala lebih baik stay di rumah saja, tingkatin imun dan makan makanan yang sehat. Kebayang gak perasaannya bagaimana? Makanya aku bingung harus bagaimana?" tuturnya pasrah.

Kegeraman Eva soal penanganan Corona semakin menjadi-jadi ketika dia datang ke RS Tarakan karena sempat diminta melakukan SWAB test. Dia diminta menunggu dari pukul 18.00 hingga 22.00 WIB, namun tak ada satupun dokter yang menemui mereka.

"Sudah gitu kita ditaru di suatu ruangan yang sempit berukuran 2 x 3 meter dimana di situ aku sama omku bersama pasien yang mungkin sudah terpapar. Dia pakai masker dan oksigen terus kadang kebangun kadang nggak. Nggak ada dokter yang menanganinya. Dia itu dari pagi nungguinnya nggak di SWAB test juga," terang Eva yang pada akhirnya juga tidak mendapatkan kesempatan SWAB test.

Mendapat Atensi Pemerintah Setelah Viral

Eva yang merasa geram dengan penanganan virus Corona di Indonesia mendapat atensi pemerintah daerah setempat setelah dia mengunggah kisah pilunya ketika ibunya meninggal dunia dan mereka menguburkannya tanpa ada pelayat. Saat itu status adiknya sebenarnya sudah positif terinfeksi virus Corona.

Adiknya baru dibawa ke rumah sakit untuk diobati dan isolasi setelah kisahnya viral. Sebelumnya Rendy masih tinggal di rumah, namun mengisolasi diri.

"Bupatinya langsung yang mengambil Rendy dari rumahku. Jadi kan aku masih satu rumah sama adikku lagi. Mereka khawatir. Kepala desa langsung manggilin ambulance. Bupati juga menghubungi aku. Panik mereka takutnya warga sekitar panik. Yang alhamdulillah lagi berkat statusku juga sebenarnya. Dan ada yang DM aku dia mengakunya kepala desa, akhirnya dia yang ngebantuin aku."

Kepala desa tempat tinggalnya menurut Eva kemudian juga berinisiatif menyemprotkan disinfektan di rumahnya dan area luar rumah. Adiknya yang kini tinggal sendirian di rumah juga banyak mendapat bantuan dari tetangga.

"Setiap hari ada aja tetangga yang ngasihin dia makan. Alhamdulillah banyak yang bantu, karena mama juga kan baik sama orang sekitar. makanya adikku dikirimin buah, makanan, snack dll. Aku sampai terharu banget. meskipun mereka menaruh di pagar," kata Eva kini juga mengisolasi diri dan hanya berada di rumah saja.

Editor: Nandra F Piliang

Tags

Terkini

Terpopuler