Menyelamatkan Anak dari Erosi Keteladanan

Sabtu, 12 Maret 2016 - 09:48 WIB
ilustrasi

Anak adalah aset yang paling berharga bagi orang tua dan bangsa. Membiarkan anak tumbuh berkembang dengan asupan pendidikan minus keteladan, hanyalah akan membuatnya menjadi investasi yang untung sesaat, selanjutnya terjerat dalam alam kebangkrutan. Potret inilah yang kini terpampang dengan terang dalam layar kehidupan era sekarang.

Anak disesaki dengan suapan pendidikan yang sarat untuk peningkatan kemampuan intelektualitas, namun kering keteladan. Anak dituntut untuk cerdas dan pintar, memahami setiap nasehat guru, orang tua, maupun masyarakat, tapi tidak mendapatkan keteladanan dalam realitas kehidupannya.

Banyak orangtua menginginkan anaknya untuk bertutur santun dan berprilaku sopan, namun mereka tidak memberi keteladanan. Saban waktu anaknya diberikan tontonan kekerasan dalam keluarga. Mulai dari bentakan, hardikan bila melakukan kesalahan, sampai pergaduhan antara orangtua terhidang di depan mata anak. Belum lagi tontonan media televisi yang menayangkan acara-acara yang tidak mendidik. Apatah lagi konten pornografi dan kekerasan sangat mudah diakses melalui handphone dan gadget.

Pemandangan di atas kian menohok sanubari publik, manakala tersiar kabar ada orangtua yang menyiksa anaknya, hingga tak jarang berujung kematian. Ada guru yang melecehkan dan menjalin percintaan dengan anak muridnya. Juga perlakuan bebas remaja yang mempertontonkan kemesraan di depan anak-anak. Serta perilaku korupsi oknum pejabat yang kian telanjang dipertontonkan di media televisi. Semua ini seakan berkolaborasi memberikan hidangan yang tidak layak dikonsumsi oleh anak.

Kondisi ini, sadar atau tidak telah melahirkan benih-benih yang negatif bagi tumbuh kembangnya anak. Anak secara sadar telah mendapatkan pelajaran nyata dari kehidupan, bahkan lebih mudah diserap serta tersimpan dalam memori alam bawah sadarnya. Misalnya, anak yang sering dibentak dan dipukuli, dipikirannya akan tersimpan ketidakpuasan, rasa takut yang berlebih, minder, takut berlebihan, kurang semangat juang dan bisa juga agresif, menjadi orang keras, pemarah dan menyakiti orang lain. Demikian juga dengan prilaku negatif kehidupan lainnya yang akan menyeret anak kepada sosok yang rapuh dan mudah terombang-ambing gelombang kehidupan zaman.

Sekarang, anak sedang mengalami erosi keteladan dari seluruh penjuru kehidupannya. Dan kalau tidak diantisipasi semenjak dini, maka pemandangan berikutnya akan lahir generasi yang tidak lagi menjangkarkan keteladanan dalam kehidupannya. Ujung-ujungnya investasi yang berharga ini akan mengalami kebangkrutan, dan yang rugi bukan hanya pemilik investasi awal, yakni orangtua, tapi juga konsorsium besar yang bernama negara. Untuk itu, sebelum erosi keteladan ini semakin terkikis dalam alam kehidupan, sudah selayaknya kita dan bangsa melakukan “reboisasi” perilaku, sikap dan cara pandang dalam mendidik anak.

Pertama, menanam pohon keteladan dalam keluarga. Hal ini dimulai dari sosok ayah dan ibu. Orangtua harus menaburkan benih-benih keteladan kepada anaknya. Sebab, keberhasilan dalam mendidik anak hanya akan diperoleh, manakala keteladan itu dilakarkan oleh orang tua dalam interaksi kehidupannya dengan anak. Seperti ungkapan Abdullah Nashih Ulwan (1978) dalam bukunya Tarbiyautul Aulad Fil Islam, bahwa keteladanan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual, dan etos sosial anak. Hal ini karena orang tua  adalah figur terbaik dalam pandangan anak, yang tindak tanduk dan sopan santunnya, disadari atau tidak akan ditiru oleh anak.

Kedua, mendidik anak dengan nilai-nilai agama. Selama ini banyak orangtua yang terjebak dalam alam pikiran kapitalisme. Prestasi anak hanya dinilai dalam hitung-hitungan akademis. Alhasil, bila anak meraih nilai akademik yang tinggi, mereka telah dicap berhasil dalam mendidik anak. Akibatnya, orangtua berlomba-lomba untuk meningkatkan kompetensi akademis anaknya, seperti mengikuti les matematika, kimia, fisika, piano, berenang, tapi mereka lupa untuk mengajar anaknya nilai-nilai religiositas. Padahal, karakter yang baik akan tumbuh dalam diri anak, manakala sejak kecil dia dididik dan dikenalkan dengan nilai-nilai agama. Hasilnya, anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, namun juga mumpuni dalam spiritual.

Ketiga, menghadirkan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembangnya anak. Bagaimanapun bibit keteladanan tumbuh dengan baik dalam keluarga serta ditaburi nilai-nilai agama, namun bila lingkungannya tidak mendukung, alamat nilai-nilai baik yang melekat pada anak berangsur-angsur akan terkikis. Alhasil, akan berganti dengan nilai baru yang didapatkannya dari lingkungan pergaulan. Untuk itu peran negara sangat signifikan dalam mewujudkan lingkungan yang baik bagi generasi bangsa. Seperti melarang tempat hiburan  yang merusak moral anak, seks bebas, narkoba, tayangan-tayangan televisi yang tidak mendidik dan setumpuk hidangan  cepat saji negatif lainnya.

Dan juga peran aktif masyarakat untuk tidak membiarkan prilaku negatif memenuhi alam lingkungan mereka. Bersikap diam dan membiarkannya (permissive), sama saja dengan memberikan kesempatan untuk tumbuhnya nilai-nilai buruk dalam kehidupan. Akhirnya, perilaku negatif dianggap biasa, bahkan bisa saja pada suatu saat akan menjadi hal yang biasa.
Berkaca dari realitas kehidupan sekarang, sudah seharusnya kita merevisi kembali investasi yang kita tanam.

Jangan sampai profit oriented mendominasi tujuan berinvestasi kita dan menguburkan hakikat keuntungan yang sejati. Layaknya sebuah investasi berharga, anak harus dibesarkan dan dikelola oleh manager yang memiliki keteladan dan tumbuh dalam alam keteladan. Siapapun kita pada hari ini, tak satupun menginginkan kebangkrutan dalam menanam investasi. Namun, sudahkah kita bertanya pada diri sendiri, "sudah teladankah saya di depan anak-anak dan lingkungan saya." ***
Alumnus Pascasarjana Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM)

Editor:

Terkini

Terpopuler