Belajar Cinta Sejati dari Nabi Ibrahim

Selasa, 29 September 2015 - 10:10 WIB
Ilustrasi

Umat Islam baru saja merayakan Hari Raya Idul Adha atau Idul Kurban 1436 H. Dan setiap Hari Raya Idul Adha datang, memori bawah sadar kita langsung terbang pada sejarah yang dilakar oleh insan berkarakter mulia, yakni Ibrahim AS.

 Episode-episode kehidupan Ibrahim sarat dengan ujian cinta. Puncaknya adalah ketika Sang Khalik menagih bukti cinta Ibrahim dengan menyembelih belahan jiwanya Ismail.

Sejarah Ibrahim dalam mencari dan menemukan cinta sejati telah dilukisnya sejak  kecil. Bahkan, nalar cintanya bergeliat dan mulai memberontak melihat tabiat lingkungan yang melabuhkan cinta pada sosok ciptaan sendiri, seperti patung.

 Ironisnya lagi obyek labuhan cinta itu hasil made in ayahandanya sendiri yaitu Azar. Sontak, hasrat Ibrahim dalam menemukan cinta sejati kian membuncah dalam dada.

Dalam kegundahan dan kehausan mencari cinta, Ibrahim seakan menemukan cinta sejati ketika dia melihat bintang-bintang yang bercahaya. Dalam sekejap Ibrahim kecewa, ketika cahaya bintang semakin hilang, dan Ibrahim melabuhkannya pada rembulan yang cahayanya paling terang.

 Tapi semakin malam, cahaya rembulan kian redup dan akhirnya  menghilang seiring sang surya datang.

Dan cinta Ibrahim pun beralih pada sang surya. Dalam alunan pikirannya berkata, inilah cinta sejati, kekuatan sinarnya mampu menerangi alam semesta dan menghidupkan makhluk serta menumbuhsuburkan kehidupan. Namun jangkar cinta yang dilabuhkan pada sang surya tidak berlangsung lama, semuanya berakhir manakala sinar surya semakin meredup ditelan senja yang menjelang. Ibrahim kembali gagal dalam menemukan dan mencari cinta sejati.

Namun dibalik kegagalan dalam mencari cinta sejati melahirkan nalar baru tentang cinta sejati. Bahwa cinta sejati itu adalah Tuhan yang menciptakan bintang, rembulan, sang surya dan seluruh alam jagad raya. Kepadanya cinta seharusnya dilabuhkan dan dijangkarkan dengan kuat. Pencarian Ibrahim dalam menemukan cinta sejatinya telah direkam Allah dalam surah Al-An’am 76-79.

Cinta Ibrahim kepada Sang Khalik serta merta mendapatkan halangan dan tantangan. Tidak hanya dari sang Ayah yang notabene produsen “tuhan-tuhan”, namun juga dari lingkungan. Ibrahim diusir oleh ayahnya sendiri dan klimaksnya Ibrahim diputuskan untuk dibunuh dengan cara dibakar hidup-hidup setelah terbukti “membunuh” dan menghancurkan tuhan-tuhan mereka.

 Eksekusi dilakukan dilapangan terbuka dan disaksikan semua mata. Hasilnya, jangankan terbakar dan mati, sehelai bulu romanya pun tak tersentuh oleh kobaran api. Episode ini Allah ceritakan dalam surah al-Anbiya, ayat 69, “ Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim,”.

Romantika cinta Ibrahim terus berlanjut dan menemukan epilog-epilog baru dalam meniti dan membuktikan cinta sejatinya kepada Sang Khalik. Ketika usianya mendekati senja, harapan Ibrahim akan kehadiran sang buah hati dari isterinya Siti Hajar belum juga datang.

 Untaian kalimat cinta terus menerus tanpa putus disampaikan kepada pemilik cinta sejati. Tak terbersit sedikitpun kata putus asa dalam mengharap asa dari yang Maha Kuasa. Alhasil, penantian panjang itu berbuah manis dengan lahirnya penerus cinta yang diberi nama dengan Ismail.

Luapan air kegembiran dengan lahirnya Ismail belum sepenuhnya diteguk dalam cawan keluarga. Cinta sejati kembali diuji oleh sang pemilik cinta sejati. Kali ini Ibrahim diperintahkan untuk mengungsikan Siti Hajar dan Ismail ke suatu tempat yang tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ibrahim beranjak pergi memenuhi panggilan pemilik cinta.

 Dengan kemantapan dan ketulusan cinta, Ibrahim menelusuri hamparan padang pasir dan berakhir disebuah lembah. Ibrahim menurunkan Isterinya dan si kecil Ismail tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Melihat gelagat Ibrahim mau beranjak  pergi, siti Hajar menarik jubahnya seraya berkata, “Wahai suamiku, apakah aku akan ditinggalkan bersama anakmu di sini?”.

Mendapat pertanyaan yang menghujam nurani, membuat Ibrahim hanya bisa mengangguk kepala tanpa memandang wajah isterinya. Siti Hajar menyela dan berkata,“Oh.. kiranya karena dosaku menyebabkan engkau bertindak begini, ampunkanlah aku. Aku tidak sanggup ditinggalkan di tengah-tengah padang pasir yang kering kerontangini.” Ibrahim menjawab,“tidak wahai isteriku, bukan kerana dosamu,”. Siti Hajar bertanya lagi, “Kalau bukan kerana dosaku, bagaimana dengan anak ini... Anak ini tidak tahu apa-apa. Sampai hatikah engkau meninggalkannya?”.

 Di puncak kesedihan mendengar ujaran isterinya, Ibrahim berkata, “ ketahuilah, ini semua adalah perintah Allah.” Mendengar nama Allah, Siti Hajar terdiam dan lidahnya berhenti untuk merangkai kalimat agar Ibrahim tidak meninggalkannya. Dalam bayangannya, jika ini perintah Allah, pasti ada hikmah besar baginya, Ismail dan Ibrahim.

Sekali lagi Ibrahim berhasil membuktikan cinta sejatinya kepada Allah, mengeleminir cinta-cinta yang lain, termasuk cinta terbesar manusia kepada isteri dan anak. Rupanya ujian Allah tidak berhenti sampai di sini, pembuktian cinta sejati Ibrahim terus ditagih ilahi. Ali Syariati menyebutnya sebagai ujian langsung manifestasi cinta Ibrahim, yakni menyembelih puteranya sendiri.

 Awalnya permintaan itu dianggap Ibrahim sebagai bisikan cinta setan dalam mengotori cinta sejatinya kepada Allah. Namun setelah tiga kali perintah disampaikan, yakinlah Ibrahim bahwa itu adalah perintah Tuhan dan harus dikerjakan.

Potret cinta sejati Ibrahim adalah teladan sejati bagi kita dalam meniti jembatan kehidupan. Bahkan Nabi Muhammad pun diperintahkan Allah untuk meneladaninya.

 Sebagaimana yang terekam dalam al-Qur’an surah al-Mumtahanah ayat 4,“Se¬sungguh¬nya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim”. Begitulah agungnya cinta Ibrahim, sehingga Allah menyebutnya dengan kekasihnya (Khalilullah).

 Semoga kita bisa membuktikan cinta kita kepada Allah dengan menyembelih egoisitas hewaniah yang melekat dalam jiwa. Alhasil, kitapun bisa melakarkan sejarah sebagai makhluk tuhan yang memiliki cinta sejati. Wallahu’alam.***
Pengamat sosial keagamaan.

Oleh: Suhardi

Editor:

Terkini

Terpopuler