Cerita Nakes RS Khusus Covid-19: Gaji Dirapel Sampai Curi Waktu Bertemu Keluarga

Cerita Nakes RS Khusus Covid-19: Gaji Dirapel Sampai Curi Waktu Bertemu Keluarga

RIAUMANDIRI.CO, PEKANBARU - Menjelang fajar, gedung hijau yang dari luar lebih mirip masjid ketimbang rumah sakit itu tampak megah. Di dalamnya, para tenaga kesehatan (nakes) berjaga sambil sekali-kali mencuri waktu untuk tidur, menunggu pasien yang bisa saja tiba-tiba datang.

Waktu itu, kasus Covid-19 terus meningkat. Segala cara telah dilakukan oleh pemerintah. Pembatasan sosial, mendengung-dengungkan bahaya melanggar protokol kesehatan, sampai memberikan bantuan sembako ke masyarakat terdampak pandemi. Namun, korban terus berjatuhan. Pasien terus bertambah, gedung-gedung rumah sakit penuh, para tenaga kesehatan (nakes) kelabakan menangani pasien.

Akhirnya, pada Oktober 2019 dilakukan pembahasan untuk menjadikan Rumah Sakit Daerah (RSD) Madani milik Pemerintah Kota Pekanbaru sebagai rumah sakit khusus penanganan Covid-19.


Pada Rabu, 17 Februari 2021 kira-kira pukul 03.00 WIB lalu, Riaumandiri.co menemui nakes rumah sakit khusus Covid-19 ini untuk melihat aktifitas mereka di malam hari.

"Ya paling standby gini ajalah, Bang. Nanti kalau ada pasien baru kami layani. Biar enggak ngantuk paling main hp. Kadang-kadang tidur juga di kasur pasien (yang kosong). Nggak apa-apa, asal enggak teledor dan meninggalkan kewajiban aja, sih," ujar salah satu nakes yang betugas di IGD, Rozi.

Para nakes bekerja tiga shift dalam sehari, pagi, siang, dan malam. Saat kami mewawancarai Rozi, ada nakes perempuan juga yang bertugas. Akan tetapi, nakes tersebut sedang tidur.

Sejak ditetapkan sebagai rumah sakit khusus Covid-19, RSD Madani belum pernah didatangi pasien Covid-19 pada malam hari. Dari penuturan Rozi, hal itu sebab RSD Madani hanya menerima pasien Covid-19 dengan kondisi tidak terlalu parah alias menengah ke bawah. Sedangkan pasien parah atau menengah ke atas, akan langsung dirujuk ke RSUD Arifin Ahmad.

"Sejauh ini belum pernah, sih, kalau pasien Covid-19. Paling karena sekarang sudah buka untuk umum juga, jadi yang datang malam itu pasien umum. Kalau pasien Covid-19 sudah ada jam-jamnya," jelasnya.

Rozi bekerja di RSD Madani sejak Oktober 2019 lalu, lewat jalur perekrutan tenaga harian lepas (THL) periode pertama oleh Pemko Pekanbaru. Sebagai orang baru (meski sebelumnya Rozi pernah bekerja di beberapa rumah sakit swasta di Pekanbaru), ia mengaku takut terpapar Covid-19. Bahkan, keluarga Rozi sempat melarangnya bekerja.

"Cuma kalau enggak kerja kita mau ngapain, kan? Lagi pula namanya risiko kerja. Bismillah aja," katanya.

Subuh makin dekat. Ayam sudah berkokok berkali-kali. Suara jangkrik juga makin nyaring bersautan dengan suara daun yang bergesekan. Di balik masker yang kerap ia betulkan letaknya, Rozi tampak lelah. Anaknya baru berusia satu setengah tahun. Mengingat pandemi Covid-19 sebentar lagi berulang tahun, artinya saat Rozi mulai intensif bekerja, usia anaknya baru enam bulan.

Setiap nakes yang kontak erat dengan pasien Covid-19 dilarang pulang ke rumah dan bertemu keluarga demi meminimalisir risiko penularan virus. Mereka difasilitasi antar-jemput dan tinggal di hotel untuk beristirahat. Untuk nakes RSD Madani, Hotel Ayola adalah tujuan mereka pulang, bukan lagi rumah, termasuk Rozi.

"Sekarang aja baru bisa bilang-bilang papa dia (anaknya). Paling ya sering-sering video call aja," kata Rozi.

Namun, para nakes RSD Madani juga tidak melulu tinggal di hotel. Mereka kerap curi waktu untuk bertemu keluarga apabila kondisi dirasa aman.

"Sekali-kali ada juga pulang. Kalau kondisi rasanya fit setelah istirahat di hotel, ya, kita pulang juga ke rumah. Tapi seringnya ya lewat teleponlah. Tapi kalau nakes perempuan, sering pulang. Karena kan ngurus anak, ngurus rumah. Kan anak lebih dekatnya ke ibu kan," ujar salah satu nakes yang bertugas di ruang perawatan, Riki.

Nakes lain berlalu lalang di balik kaca pintu lobby RSD Madani. Mereka tampak bersenda gurau sambil menonton televisi. Kami tidak diizinkan masuk, sebab menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, terutama paparan virus Covid-19. Namun, sebagian petugas justru terlihat tidak memakai masker, atau setidaknya memakai masker di dagu.

Lobby RSD Madani tempat kami melakukan wawancara adalah batas terakhir yang bisa diakses orang yang tidak punya kepentingan. Dari lobbyl-ah pihak keluarga mengurus administrasi dan menyerahkan pasien Covid-19 kepada RSD Madani untuk diisolasi. Setalah 14 hari, ketika pasien dinyatakan sembuh dan boleh pulang, menjemputnya pun maksimal hanya dari lobby.

Di situasi pandemi seperti sekarang, situasi paling sulit yang selalu dirasakan Rozi dan Riki adalah memakai berlapis-lapis proteksi untuk melindungi diri dari paparan virus. Mulai dari tiga lapis masker, dua lapis sarung tangan, dan baju hazmat. Tidak hanya nakes, sekuriti RSD Madani pun mesti berhazmat apabila pasien Covid-19 datang.

"Ini baju basah semua ini kalau sudah pakai hazmat. Terus kalau mau pasang infus ke pasien, memang harus betul-betul biar tidak salah. Soalnya sarung tangan dua lapis kan. Susah buat ngeraba. Ya diketat-ketatkanlah sarung tangannya. Sama insting. Mana pakai kacamata, berembun. Masker berlapis-lapis bikin sesak napas," ungkap Rozi.

Untuk menjamin tetap dalam kondisi negatif, seluruh nakes RSD Madani dites swab per satu bulan. Terlebih jika ada nakes yang memang menunjukkan gejala terpapar.

"Kalau nakes yang positif ada. Cuma kebanyakan kenanya di luar. Bukan di rumah sakit. Kan di luar bisa saja saat kumpul sama teman-teman. Tapi kalau di sini, kita sudah tahu ada pasien Covid-19, kita enggak mau dekat-dekat," kata Rozi.

Dengan segala kesulitan yang dilakukan nakes, pemerintah menjanjikan insentif di luar gaji bulanan. Riki dan Rozi mengaku mendapat insentif, tapi pada 2020 lalu. Sedangkan Rozi yang berstatus THL, terpaksa menunggu gaji yang dirapel hingga bulan Maret nanti.

"Insentif 2020 lalu kita ada dapat. Tapi nominalnya kita enggak bisa kasih tahu," ujar Riki.

"Kalau gaji insyaallah aman. Tapi untuk THL, namanya awal tahun, ya gaji dirapel ke bulan tiga. Paling itu doang. Karena kan ikut anggaran. Tapi, lancar, sih," tambah Rozi.

Di IGD RSD Madani, setidaknya ada empat nakes yang berjaga malam. Sedangkan ruang perawatan, tiga. Dari tujuh nakes tersebut, satu di antaranya adalah dokter. Rozi berharap pemerintah menambah jumlah nakes. Sebab, menurutnya jumlah tersebut masih kurang.

"Ya kalau kita maunya ya ditambah. Cuma kalau bisanya cuma segini, ya mau gimana lagi. Kalau kita ya, ya kurang segini," ucapnya.

RSD berwarna hijau yang berada di Jalan Garuda Sakti KM 3 ini tampak megah dari luar. Namun, fasilitasnya masih jauh dari kata lengkap. Laboratorium biomolekuler hingga hari ini belum dapat dioperasikan, sebab menunggu surat rekomendasi dari Litbangkes Pusat. Di luar gedung, tampak drainase masih dalam proses pembangunan.

BPJS pun diketahui belum mau menjalin kerja sama dengan alasan fasilitas RSD Madani belum sesuai standar. Seperti ruang perawatan yang masih sedikit, ruang ICU, NICU dan PICU belum ideal, dan lain sebagainya. Padahal, RSD Madani digadang-gadang sebagai rumah sakit yang menjadi wajah Kota Pekanbaru.


Tags Kesehatan