Tangkal Radikalisme, Akar Tradisi Nusantara Harus Dibangun Lagi

Tangkal Radikalisme, Akar Tradisi Nusantara Harus Dibangun Lagi

RIAUMANDIRI.ID, PEKANBARU - Akar tradisi nusantara harus diciptakan dan dibangun lagi untuk menangkal tumbuhnya radikalisme di tengah masyarakat. Budaya gotong royong dan kebersamaan harus kembali digalakkan. 

Demikian disampaikan Kepala BNPT yang diwakili Kepala Seksi (Kasi) Pembinaan Andri Taufik H, SSos, MAg, pada kegiatan Ngobrol Pintar Cara Indonesia atau "Ngopi Coi" yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Riau di Pekanbaru, Kamis (1/10/2020).

"Kearifan lokal yang ada di nusantara jadi bekal proses daya tangkal masyarakat, yakni dengan mengembalikan budaya gotong royong dan kebersamaan. Akar tradisi nusantara harus diciptakan dan dibangun lagi. Sehingga Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan UUD 45 jadi satu kesatuan negara Republik Indonesia," ujar Andri.
 
Lebih lanjut Andri Taufik mengatakan, bahwa BNPT berperan menangkal radikalisme. Fenomena terorisme saat ini, baik itu media online dan ofline punya ruang tersendiri, sehingga ketika orang mengakses, orang bisa melakukan hal tersebut. Tahapan-tahapan intoleran sampai radikal dan terorisme tidak lahir begitu saja, karena ada tahapannya.


Sementara, praktisi media Willy Pramudya dalam kesempatan itu mengatakan, media massa punya peran mendorong radikalisme dan terorisme. Itu tergantung apakah media mematuhi kode etik profesi dan kode etik perilaku.

"Salah satu cara menghindari munculnya radikalisme dan terorisme melalui media adalah dengan profesionalisme dan independensi media. Media bisa bersalah dan bisa tidak, tergantung kepatuhan terhadap kode etik profesi dan perilaku," tegas Willy yang juga anggota Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen.

Di tempat yang sama Kabid Media Massa, Humas dan Hukum FKPT Riau, Eka Putra, ST, MSc, menjelaskan, bahwa FKPT merupakan mitra strategis BNPT dalam menjalankan tugas dan fungsi BNPT melalui sosialisasi ke masyarakat, khususnya masyarakat Riau.

"Tugas di media massa, yang juga melibatkan media sosial tujuannya mendudukkan dulu konsep-konsep radikalisme dan terorisme, karena seolah-olah radikalisme mengarah pada satu kelompok tertentu,. Padahal ini ini paham yang dimiliki seseorang atau kelompok untuk mengubah secara drastis suatau paham dengan cara kekerasan," sebutnya.

Lanjutnya, FKPT sebagai perpanjangan tangan BNPT, dan juga wadah aspirasi masyarakat, yang bertugas menyosialisaikan kepada masyarakat. Hal ini bertujuan untuk melihat bagaimana peran media massa dan media sosial agar paham radikalisme tidak mudah masuk ke masyarakat.

"Bila tidak dijaga akan lebih mudah masuk paham yang berpotensi mempengaruhi masyarakat," pungkasnya.



Tags Teroris