Berkali-Kali Ikut Pilpres Akhirnya Jadi Menteri, Prabowo Ikuti Jejak Wiranto?

Berkali-Kali Ikut Pilpres Akhirnya Jadi Menteri, Prabowo Ikuti Jejak Wiranto?

RIAUMANDIRI.ID, JAKARTA - Tiga hari ini, publik akan disuguhkan dengan berita para tokoh memenuhi undangan Presiden Joko Widodo alias Jokowi ke Istana Negara, Jakarta. Tak lain tujuannya adalah untuk dimintai kesediaannya menjadi menteri di kabinet kerja jilid II.

Di hari pertama pemanggilan, Senin (21/10/2019), ada 11 tokoh yang dipanggil ke Istana oleh Jokowi. Mereka antara lain; Mahfud MD, Nadiem Makarim, Wishnutama, Erick Thohir, Kapolri Tito Karnavian, Airlangga Hartarto, Pratikno, Nico Harjanto, Fadjroel Rachman, Prabowo Subianto, dan Edhy Prabowo.

Dari 11 orang tersebut, kemunculan Prabowo Subianto cukup membuat kejutan. Sebelumnya memang beredar kabar jika Gerindra bakal bergabung ke pemerintahan Jokowi dan mendapat jatah menteri.


Nama Prabowo bahkan disebut-sebut bakal menjadi Menteri Pertahanan. Namun, kabar Prabowo bakal menjadi menteri Jokowi itu belum terkonfirmasi. Alhasil, publik dibuat penasaran atas kabar Prabowo bakal menjadi menteri pertahanan.


Positif Jadi Menteri Jokowi

Kabar Prabowo bakal menjadi Menteri Pertahanan kemudian terkonfirmasi dengan kehadirannya ke Istana, Senin sore kemarin. Prabowo positif bakal menjadi anak buah Jokowi di kabinet.

Meski tak secara lugas memberi tahu akan menduduki kursi menteri apa, Prabowo setidaknya memberi kisi-kisi alias bocoran. Usai bertemu Jokowi, Prabowo bercerita kepada wartawan diminta membantu Jokowi di bidang pertahanan.

"Saya diminta membantu beliau di bidang pertahanan," kata Prabowo di Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Dalam pertemuan dengan Jokowi, Prabowo mengaku diberi pengarahan oleh Jokowi terkait tugas-tugas menteri. Dia berjanji akan bekerja sesuai target dan harapan dari Jokowi.

"Tadi beliau pengarahan dan saya akan bekerja sekeras mungkin untuk mencapai sasaran dan harapan yang ditentukan," katanya.


3 Kali Ikut Pilpres

Karier politik Prabowo Subianto cukup akrab dikenal publik. Prabowo pernah bergabung dengan Partai Golkar, lalu kemudian mendirikan Partai Gerindra pada 6 Februari 2008.

Dengan Gerindra sebagai kendaraan politiknya, Prabowo sudah tiga kali mengikuti kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden. Pertama pada tahun 2009.

Saat itu, Prabowo menjadi cawapres dari capres Megawati Soekarnoputri. Namun sayang, pasangan yang biasa disebut Mega-Pro alias Megawati-Prabowo itu kalah dari pasangan SBY-Boediono. Saat itu SBY-Boediono meraih 73.874.562 suara atau 60,8%, sementara Megawati-Prabowo ada di posisi kedua dengan 32.548.105 suara atau 26,79%, lalu di posisi terakhir ada pasangan Jusuf Kalla-Wiranto dengan 15.081.814 suara atau 12,41%.

Kemudian pada Pilpres 2014, Prabowo kembali maju Pilpres. Namun kali ini dia maju sebagai calon presiden. Sementara cawapresnya adalah Ketum PAN Hatta Rajasa.

Di Pilpres 2014, Prabowo-Hatta yang diusung Gerindra, Golkar, PAN, PKS, PPP, dan PBB, melawan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla yang diusung PDIP, PKB, NasDem, dan Hanura.

Hasilnya, pasangan Prabowo-Hatta saat itu kalah tipis dari pasangan Jokowi-JK. Prabowo-Hatta meraih 62.576.444 suara atau 46,85%, sedangkan Jokowi-JK meraih 70.997.833 suara atau 53,15%.

Pada Pilpres 2019, Prabowo kembali mencoba peruntungannya memperebutkan kursi orang nomor satu di Indonesia. Kali ini Prabowo maju berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno melawan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Prabowo-Sandi maju diusung gabungan parpol yakni Gerindra, Demokrat, PAN dan PKS. Sementara Jokowi-Ma'ruf Amin diusung PDIP, Golkar, PKB, NasDem, PPP dan Hanura.

Di Pilpres ketiga yang diikutinya ini Prabowo kembali mengalami kekalahan. Pasangan Prabowo-Sandi meraih 68.650.239 suara atau 44,5%. Sedangkan Jokowi-Ma'ruf Amin berhasil memenangkan kontestasi dengan meraih 85.607.362 suara atau 55,5%.


Ikuti Jejak Wiranto

Karier politik Prabowo bisa dibilang mirip-mirip dengan karier politik seniornya di TNI yakni Jenderal TNI (Purn) Wiranto. Sama-sama lebih dari satu kali ikut pilpres dan kalah lalu kemudian mendapat jabatan menteri.

Diketahui, Wiranto pernah dua kali ikut Pilpres. Mantan Panglima ABRI (saat ini TNI) itu kali pertama ikut Pilpres pada 2004. Saat itu ada lima pasangan capres cawapres yang ikut kontestasi. Wiranto berpasangan dengan KH Salahuddin Wahid, Megawati Soekarnoputri berpasangan dengan KH Hasyim Muzadi, Amien Rais dengan Siswono Yudo Husodo, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Jusuf Kalla (JK), dan terakhir pasangan Hamzah Haz dengan Agum Gumelar.

Namun sayang, saat itu Wiranto-KH Salahuddin Wahid kalah dan hanya masuk putaran pertama. Sementara yang masuk ke putaran kedua adalah pasangan SBY-JK melawan Megawati-KH Hasyim Muzadi yang berakhir dengan kemenangan SBY-JK.

Tak mau menyerah, Wiranto kembali ikut kontestasi Pilpres pada 2009. Namun, kali ini Wiranto tidak maju menjadi capres tapi menjadi cawapres. Saat itu Wiranto maju menjadi cawapres bersama capres Jusuf Kalla.

Pilpres 2009 diikuti oleh tiga pasangan capres cawapres yakni pasangan Megawati-Prabowo, SBY-Boediono, dan JK-Wiranto. Sama dengan 2004, Wiranto harus legowo menerima kekalahan. Pasangan SBY-Boediono dinobatkan menjadi pemenang dengan 73.874.562 suara atau 60,8%. Sedangkan di urutan kedua ada Megawati-Prabowo dengan 32.548.105 suara atau 26,79%. Lalu di peringkat buncit ada JK-Wiranto dengan 15.081.814 suara atau 12,41%.

Berbeda dengan Prabowo yang mengikuti tiga kali Pilpres, Wiranto hanya mengikuti dua kali Pilpres. Pada Pilpres 2014, Wiranto tak maju. Bersama Partai Hanura, Wiranto lebih memilih mendukung Jokowi-JK.

Setelah dua kali kalah ikut pemilu, Wiranto akhirnya diangkat Jokowi menjadi Menko Polhukam pada 2016. Sejak itu, Wiranto resmi menjadi anak buah Jokowi yang bertanggungjawab soal politik, hukum dan keamanan nasional.

Kini hal yang sama juga dialami Prabowo. Tiga kali kalah Pilpres, Prabowo akhirnya legowo menjabat sebagai menteri.**