Gubernur Bantah Industri tidak Cocok di Sumbar

Gubernur Bantah Industri  tidak Cocok di Sumbar

Padang (riaumandiri.co)-Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno membantah pandangan yang menyatakan investasi dalam bentuk industri padat karya tidak cocok dan sulit berkembang di daerah itu.


"Cuma yang perlu diperhatikan adalah karakter masyarakat, padat karya cocok tapi pekerjanya bukan orang Minang," kata dia di Padang, Rabu (20/7).


Ia menyampaikan hal itu pada Halalbihalal Otoritas Jasa Keuangan Sumbar dengan pelaku industri jasa keuangan serta pemaparan ekonomi Sumatera Barat.



Menurutnya salah satu industri yang bisa dibuat di Sumbar salah satunya pabrik pupuk karena daerah itu sentra pertanian sehingga hasilnya juga dapat dipasarkan di daerah.


"Kalau pabrik pupuk bisa menguntungkan, karena Sumbar butuh pupuk diolah dan dipasarkan di daerah tapi pekerjanya dari luar," tambahnya.


Ia mengemukakan pihaknya terbuka untuk semua jenis investasi dan setiap investor yang masuk akan diarahkan agar tidak salah langkah.
"Belum tentu cara yang dilakukan di daerah lain cocok diterapkan di Sumbar misal soal penggunaan lahan bisa dengan kerja sama bukan membeli," ujarnya.


Ia melihat warga Sumbar dalam bekerja lebih berorientasi pada hasil bukan tugas yang diberikan.


Irwan mengemukakan industri pengolahan yang berbasis padat karya kurang berkembang di provinsi itu karena karakter masyarakat yang kurang bersedia bekerja sebagai buruh.


"Orang Sumbar memiliki karakter tidak suka bekerja di sektor perburuhan terutama yang menggunakan tenaga manusia, tapi lebih kepada sektor yang mengandalkan pemikiran dan kreativitas," sebutnya.


Oleh sebab itu, lanjut dia, saat ini tidak ada satu pun industri besar di Sumbar yang berbasis padat karya berbeda dengan Pulau Jawa yang berkembang pesat.


Namun, kalau orientasinya adalah keterampilan dengan gaji di atas upah minimum regional maka dapat bertahan, sebaliknya jika berbasis padat karya akan sulit bertahan, tegas dia.


Sebelumnya Bank Indonesia (BI) perwakilan Sumbar mencatat lapangan usaha industri pengolahan di provinsi itu pada triwulan I 2016 tumbuh membaik mencapai 1,65 persen atau meningkat dibandingkan triwulan IV 2015 yang hanya minus 2,0 persen.


Perbaikan tersebut tercermin dari positifnya pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang, dan industri manufaktur mikro dan kecil, kata Kepala perwakilan BI Sumbar, Puji Atmoko.


Menurut dia membaiknya kinerja industri pengolahan tercermin dari hasil pemantauan yang menunjukkan adanya peningkatan indeks kapasitas terpakai dari 68,13 pada triwulan IV 2015 menjadi 70,79 pada triwulan I 2016.


Indikator lain tercermin pula dari indeks perkembangan harga jual industri pengolahan pada triwulan I 2016 yang mencatat peningkatan menjadi 3,03, dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar minus 0,38, jelas dia. (ant/azw)