PLTA Buka Pintu Air

2.341 Rumah di Kampar Terendam

Banjir yang merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Kampar, akibat PLTA Koto Panjang melepas air, dimanfaatkan beberapa anak untuk bermain, Sabtu (16/1). (Insert) Kantor Kepala Desa Sawah.

KAMPAR (HR)-Tingginya curah hujan di wilayah Sumbar membuat permukaan air di waduk PLTA Koto Panjang semakin naik. Pihak PLTA Koto Panjang terpaksa membuka pintu waduk hingga mengakibatkan 2.341 rumah di wilayah aliran Sungai Kampar terendam banjir.Banjir tidak hanya merendam ribuan rumah, bahkan fasilitas umum seperti sekolah dan puluhan hektare kebun warga, mulai dari Kecamatan Kuok hingga Kecamatan Kampar Utara, Kabupaten Kampar, Sabtu (16/1).

Dari data yang diterima dari pihak BPBD Kampar, 2.341 rumah yang terendam banjir ini terdapat di beberapa desa, yakni Desa Simpang Kubu sebanyak 200 KK, Batu Belah 273 KK, Tanjung Rambutan 120 KK, Pulau Lawas 50 KK, Pulau Rambai 400 KK, Kampung Panjang, 305 KK, Sendayan 137 KK, Sawah 360 KK, Sei Jalau 86 KK,Desa Alam Panjang 160 KK, Pulau Payung 200 KK, Teratak 50 KK dan Sei Petai.

Untuk membantu warga yang terkena banjir musiman ini pihak BPBD dan Dinas Sosial Kabupaten Kampar langsung turun ke daerah yang terkena banjir, serta mendirikan tenda-tenda penampungan dan dapur umum.

"Banjir ini karena semakin tingginya debit air di waduk PLTA Koto Panjang sehingga Pintu waduk harus dibuka dan kita turun langsung ke lokasi dan mendata warga yang terkena banjir," terang Kepala BPBD Kampar, Santoso, didampingi Kabid Kedaruratan, Zuledi dan Kasi Kedaruratan, Muhammad Nasir, Sabtu (16/1).

Dikatakannya, kondisi ini bisa berlanjut apabila curah hujan makin tinggi di wilayah Sumbar.
"Bagi warga yang terkena banjir diimbau untuk dapat mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi dan di tempat tenda-tenda penampungan yang telah kita dirikan," ujarnya.

Dikatakannya, saat ini BPBD bersama Dinas Sosial Kampar terus memantau dan telah menyiapkan speed boat dan perahu karet untuk mengevakuasi warga. "Bahkan kita sudah mendirikan tenda dan dapur lapangan di desa Tanjung Rambutan dan desa Batu Belah," ungkapnya.

Di Desa Simpang Kubu, Kecamatan Kampar, debit air meningkat hingga 2-3 meter. Sehingga mengakibatkan sejumlah keramba yang 'terparkir' di sepanjang aliran Sungai Kampar, pecah. Tak ayal, kerugian hingga puluhan juta dialami seorang pengusaha keramba.

Seperti dituturkan, Budi, warga Dusun Metro Lestari, Desa Simpangkubu. Dirinya beserta sejumlah pengusaha keramba lainnya mengakui telah menerima edaran dari pemerintah, bahwa akan ada pembukaan gerbang air PLTA Koto Panjang. "Kabarnya, gerbang air dibuka pukul 01.00 WIB dini hari," ungkap Budi, Sabtu (16/1).

Ia berencana akan mengevakuasi dan memanen isi kerambanya pagi ini untuk dijual saat hari pasar, di Pasar Air Tiris, Sabtu ini. "Paginya kita lihat, air semakin meningkat. Aliran air mengalir deras menghantam keramba kami. Tidak lebih sepuluh ekor yang tersisa," keluh Budi.

Senada hal itu, Ivan juga mengakui hal itu. Ribuan ekor ikan yang dipelihara di dalam keramba dalam enam bulan terakhir, tak bersisa dalam satu malam. "Mau apa lagi. Kayanya belum rezeki," sebut Ivan warga Desa Simpangkubu lainnya.

Kendati begitu, Ia menyayangkan peningkatan air secara drastis dilakukan pengelola PLTA Koto Panjang. "Semestinya, kalau buka air jangan sedrastis ini. Kami tidak bisa bersiap-siap," tandas Ivan.

Dari pantauan di lapangan, sejumlah warga turut memanfaatkan meluapnya air Sungai Kampar ini. Ada yang memancing, 'menciduok', bahkan ada menggunakan jala untuk memperoleh ikan dari Sungai Kampar.

"Siapa tahu, ikan dari keramba bisa kita dapatkan. Lumayan juga, ikannya sudah besar-besar," sebut Pak De yang menjala di sekitaran keramba.( rtc/hen)


Loading...

[Ikuti Riaumandiri.co Melalui Sosial Media]






Loading...

Tulis Komentar