Rekapitulasi C-1 di www.kpu.go.id

Suparman Menang Tipis

Suparman  Menang Tipis

PEKANBARU (HR)-Berdasarkan rekap data formulir model C1 dari seluruh Riau yang masuk ke portal resmi Pilkada Serentak Komisi Pemilihan Umum (KPU), 4 daerah di Riau sudah memasukkan data 100 persen yakni Kuantan Singingi, Rokan Hulu, Kota Dumai dan Indragiri Hulu.

Hasilnya, pasangan Suparman-Sukiman unggul tipis di Rokan Hulu, sementara Mursini-Halim di Kuantan Singingi, Zulkifli-Eko Suharjo di Dumai dan Yopi Arianto-Khairizal di Inhu.

Namun rekapitulasi suara berdasarkan formulir Model C1 yang telah ditetapkan oleh KPPS ini, bersifat sementara dan bukan hasil final. Kesalahan yang terdapat pada formulir Model C1 akan diperbaiki pada rekapitulasi di tingkat atasnya.

Data ini dihimpun dari https://pilkada2015.kpu.go.id berikut hasil Pilkada Serentak seluruh Riau hingga Sabtu (12/12) jam 21.00 WIB.
Tolak Pleno

Tim Pemenangan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Rokan Hulu (Rohul) dari nomor urut 1 (satu), Hafith Syukri-Nasrul Hadi, tidak mengakui hasil Rapat Pleno dilaksanakan oleh Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Bonai Darussalam.

Saksi dari Paslon Hafith-Nasrul, Arfizal Anwar mengatakan pihaknya melakukan walk out (WO) dan mengajukan nota keberatan dengan mengisi formulir Model DA2, saat Rapat Pleno Rekapitulasi Suara dilaksanakan PPK dimulai Jumat (11/12) siang hingga Sabtu (12/12) dini hari.

Arfizal mengakui pihaknya tidak menerima hasil pleno PPK Bonai Darussalam, karena menemukan banyak kejanggalan yang terindikasi pelanggaran dan kecurangan.

"Cuma hasil rekap C1 dari tiga desa yang kita terima, empat desa ditolak," ujar Pican kepada wartawan saat Konperensi Pers di kantor Tim Pemenangan Hafith Syukri-Nasrul Hadi di Jalan Tuanku Tambusai Pasir Putih, Pasirpangaraian, Sabtu sore kemarin.

Pican mengungkapkan adapun hasil rekapitulasi C1 yang ditolak saksi Paslon Hafith-Nasrul, seperti dua TPS di Desa Teluk Sono (TPS 1 dan TPS 2), TPS 1 Desa Pauh, TPS 2 Desa Rawa Makmur, TPS 5 Kasang Padang, dan 3 TPS di Desa Sontang (TPS 1, TPS 2, dan TPS 3).

Sedangkan hasil rekap di dua desa diterima oleh saksi dari Paslon Hafith-Nasrul, meski suara jagonya kalah, seperti hasil dari Desa Kasang Mungkal dan Desa Bonai.

"Orientasi kita bukan masalah jumlah suara kita, tapi prosesnya yang harus fair. Kita mau prosesnya (Pilkada) transparan," katanya.

Pican mengaku kecewa, karena Ketua PPK Bonai Darussalam, Desmi Herlisan, sempat emosi dan lepas kontrol saat saksi interupsi. Kekesalan itu ia sampaikan pakai mikropon.

"Kita tidak mengakui hasil Pleno PPK Bonai, sebab kami menemukan indikasi-indikasi di luar kewajaran," kesalnya.

"Kita minta buka kotak karena adanya perbedaan juga ditolak. Kita menolak hasil Pleno (PPK Bonai)," tegas Pican dan mengakui selain saksi dari Paslon Hafith-Nasrul merasa terancam, apapun yang menjadi sanggahan mereka diabaikan oleh PPK Bonai Darussalam.

"Soal siapa menang atau kalah tidak apa-apa, tapi harus fear. Kami berkeyakinan, PPK Bonai sengaja menutupi-nutupi apa yang ada," terangnya.

Pican mengungkapkan beberapa kejanggalan saat Rapat Pleno PPK Bonai Darussalam, seperti di TPS 1 Desa Sontang, ada 44 suara DPTb-2, pihak PPK tak bersedia menunjukan, setelah saksi nomor urut 1 mengindikasi ada pemilih DPTb-2 yang tidak pakai NIK.

"Kejanggalan lain lagi, di TPS 2 Desa Sontang, di DPTb-2 ada 46 pemilih, ketika kami meminta buka kotak tapi tak dikasih," kata Pican dan mengatakan Panwas Kecamaatan Bonai Darussalam hanya diam saja.

"Soal indikasinya saya tidak bisa berandai-andai. Tapi soal intimidasi kepada saya luar biasa. Sampai operator komputer yang tidak punya wewenang menanggapi keberatan saksi," pungkas Pican dan mengakui ada yang sampai menggebrak meja.

Sementara, Wakil Ketua DPC Partai Demokrat Rohul, Jenewar, mengindikasi ada perbuatan yang sistematis untuk menutupi permasalahan pada proses Pilkada secara keseluruhan saat Pleno PPK Bonai Darussalam. Pasalnya, PPK tak bersedia saat saksi mengajukan koreksi.

"Kita sedang membuat laporan ini ke Panwas Rohul soal proses Pleno PPK Bonai dan seluruh PPS, dan merekomendasikan agar pemilihan ulang di Bonai," tegasnya.

"Pleno itu jadi tak beres karena ada dugaan kecurangan, kita diintimidasi disana. Bahkan sampai hari ini kami belum tahu berapa hasilnya, sebab C1 nya belum kami terima," tambah Jenewar dan mengindikasi hasil perhitungan suara di 40 TPS di 7 desa di Bonai Darussalam tidak transparan.(rtc/grc/yuk)