Tak Ada Fasilitas Jalan

Puluhan Anak di Siak Terpaksa Putus Sekolah

Puluhan Anak di Siak Terpaksa Putus Sekolah

SIAK (HR)-Ironis, begitulah kira-kira ungkapan  tentang nasib puluhan anak-anak Kampung Buatan Besar, Kecamatan Siak, Kabupaten Siak. Harapan mereka untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, terpaksa harus pupus begitu saja. Yang lebih mengenaskan lagi, kondisi itu terjadi karena tak ada fasilitas jalan dari kampung mereka menuju sekolah, yang jaraknya lumayan jauh.

Informasi yang diterima di kampung itu, Minggu (24/5), jumlah bocah yang terpaksa putus sekolah itu berjumlah lebih dari 30 orang. Umumnya, mereka masih menginjak bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Jarak sekolah dengan kampung mereka memang lumayan jauh. Namun yang lebih parah, adalah fasilitas jalan yang menghubungkan antara kampung mereka dengan bangunan sekolah. Jalan yang ada saat ini, sungguh tak layak. Saat musim panas, jalan itu masih berupa lumpur. Apalagi jika musim hujan, badan jalan yang tidak terlalu lebar itu akan berubah menjadi kubangan sehingga tidak bisa dilintasi kendaraan.

Badan jalan yang bisa digunakan menuju Kampung Buatan Besar bisa dicapai dari DAM 3 Sekunder 9, Kampung Tuah Indrapura dengan jarak sekitar 5 kilometer.

Saat ini, kondisinya benar-benar mengenaskan. Untuk dilintasi kendaraan roda dua saja masih susah.

Saking parahnya kondisi itu di tempat, khususnya di Dusun Kolam Hijau, warga sekitar menyebut kampung itu sebagai Kampung 45. Hal itu menggambarkan betapa sulitnya upaya mereka untuk hanya sekedar keluar dari kampung, karena fasilitas jalan yang begitu mengenaskan.

"Saya sekarang sudah tidak sekolah lagi Om. Saya tamatan SD dan ingin melanjutkan  sekolah lagi, namun jalannya cukup jauh dan rusak. Mau sekolah, rasanya tak mungkin melewati jalan rusak seperti itu. Harapan kami kepada Bapak Bupati Siak tolonglah beri kami solusi agar kami bisa sekolah lagi," ungkap Dea Ananda (15) didampingi rekannya Siti Atiah (15) dan bocah lainnya yang bernasib serupa, Minggu (24/5) di depan musalah RT04/RW02 Kampung Buatan Besar, Kecamatan Siak.

Kondisi itu juga dibenarkan Nogan (51) warga Kampung Buatan Besar. Ia mengaku sangat sedih, karena anaknya harus putus sekolah hingga SMP. Menurutnya, sejak dulu, ia kerap khawatir bila melepas anak pergi ke sekolah. Hal itu disebabkan kondisi badan jalan yang ada di kampung begitu mengenaskan. "Kalau terjadi apa-apa di jalan, nanti harus bagaimana. Sementara kondisi jalannya saja seperti itu. Dilintasi motor saja susah," ungkapnya.

"Rasanya batin ini menangis Pak, sudahlah saya kerja kasar atau buruh, anak saya yang saya harapkan jadi orang yang pintar dalam keluarga, akhirnya putus sekolah di tengah jalan. Mau tak mau, sekarang anak-anak ini terpaksa bekerja sebagai buruh seperti bapaknya," ujarnya dengan mata berair.

Senada dengannya, warga lainnya, Ucok TR (49), sangat berharap Bupati Siak bisa turun langsung ke lapangan guna melihat langsung kondisi yang mereka alami saat ini. Karena, meski sudah ada puluhan anak yang putus sekolah di kampung itu, sejauh ini belum ada solusi dari pemerintah.

"Kami berharap, di sini setidaknya bisa dibangun sekolah. Kalau tidak ada, bagaimana anak-anak kami bisa tulis baca. Atau paling tidak ada sekolah kerja Paket A dan Paket B. Karena pada bulan lalu, banyak anak-anak kami yang putus sekolah," tambahnya.

Dambaan kami masyarakat RT 04, RW 02 Kampung Buatan Besar agar di daerah kami bisa didirikan sekolah, atau kalau tidak bagaimana caranya agar anak-anak kami ini  bisa tulis baca, atau kalau bisa  diadakan sekolah kejar paket A atau paket B, karena  bulan yang lalu anak-anak kami banyak yang putus sekolah," ujarnya.

Ditambahkannya, saat ini, untuk pendidikan anak-anak itu, hanya ditangani Heni, warga setempat yang rela meluangkan waktu untuk menemani anak-anak itu belajar. Namun dengan kondisi yang ada saat ini, tentu saja masih sangat jauh dari harapan.

"Kami ibarat kapal di tengah laut. Tak tahu harus mengadu ke mana. Untuk sementara ini hanya ada Ibu Heni yang bisa mengajak anak-anak di sini," tambahnya.


Tak Ada Bantuan

Tidak hanya itu, Ketua RT04/RW02, Dusun Kolam Hijau, Kampung Buatan Besar, Usman, mengatakan, meski sudah lama menetap di kawasan itu, sejauh ini tidak pernah ada bantuan dari pemerintah, kecuali raskin yang datang sekali sebulan.

"Masyarakat di sini rata-rata bekerja sebagai buruh tani dan penghasilannya tidak menentu. Sejauh ini bantuan belum pernah kami rasakan. Jadi kondisinya ya hanya seperti ini, mengandalkan swadaya warga," ujarnya.

Menurutnya, sesuai data yang ada, total warga di kawasan itu berjumlah 86 Kepala Keluarga. "Kalau dikumpulkan semua tentu lebih karena ada ratusan KK lagi yang belum saya pegang datanya. Kalau untuk anak-anak yang putus sekolah, untuk sementara diajar ibu Heni Anjarwati. Alhamdulilah anak-anak tetap antusias belajar walau sekolahnya tak resmi," tambahnya.

Sedangkan Heni Anjarwati (21), guru satu-satunya di kampung itu mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami anak-anak di daerah itu. Karena itu, ia berinisiatif mengumpulkan anak-anak tersebut untuk belajar tulis baca.
"Saya tak sanggup melihat puluhan anak-anak tidak sekolah. Saya hanya mencoba mengamalkan ilmu semampunya. Alhamdulillah, anak-anak itu sangat antusias belajar meski kondisinya seadanya," ungkap lulusan SMK Negeri 1 Bungaraya itu.

Masalah yang dialami Kampung Buatan Besar, Kecamatan Siak, memang cukup rumit. Karena status administrasi desa, sejauh ini belum pasti. Menurut Penghulu Kampung Buatan Besar, Suwanto, sejauh ini status administrasi kampung itu masih belum pasti, apakah masuk wilayah Buatan besar atau masuk Kampung Tasik Bentung, Kecamatan Mandau.

"Memang iya, KTP dan KK warga adalah warga kami. Namun areal yang mereka tempati masih diragukan apakah di kawasan Kampung Buatan Besar atau di Kampung Tasik Betung Mandau. Rencananya hari ini kita lakukan pengukuran,"jelasnya.
Meski demikian, warga di kawasan itu punya KTP, KK dan punya juga kartu hak pilih, mulai dari Pilkada, Pemilu hingga Pilpres.


Kejar Paket

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Siak, Kadri Yafis, ketika dihubungi melalui telepon selulernya, tampak kaget dengan kondisi itu. Ia pun menyarankan masyarakat yang anaknya putus sekolah segera didata dan akan diberikan bantuan kejar paket A dan paket B.

"Waduh, banyak sekali yang putus sekolah. Begini saja, kita kan ada program Kejar Paket A,B,C, jadi bagi anak-anak yang putus sekolah agar bisa didata terlebih dahulu, baru kita masukan ke program kejar paket," jelasnya seraya mengatakan stafnya akan datang langsung ke kampung itu.

Nada prihatin juga dilontarkan Ketua Komisi I DPRD Siak, yang memangani pendidikan dan hukum, Sujarwo, "Masak iya, kok  banyak sekali yang putus sekolah, apa masalahnya? Ok lah kalau begitu, besok saya akan cek ke kampung tersebut, dan tolong antar saya besok ke sana," pintanya. (sugianto)